Sekumpulan romansa, mimpi, dan perjalanan








Libur hari Selasa. Janggal.

Mencintaimu akhir-akhir ini sulit, pun mengimbangimu. Untuk tetap melakukan banyak percakapan denganmu. Aku kehilangan kemampuan belajar giat. Juga menulis. Ingin kembali ke 2016, kalau bisa. Menjelang umur duapuluh, aku mengerti rasanya berjuang sendirian. Kadang-kadang. Kata-kata manis menjadi gelembung di udara. Pecah tak berbekas. Kata-kata manis cuma nomina. Nomina. Aku selalu ingin naik kereta tepat di jam lima sore. Biar bisa lihat senja. Kemudian mengenang segala hal menyenangkan. Maghrib di masjid, sholat berjamaah. Meminta kepada Tuhanku agar kedua orang tua ku di rumah selalu sehat. Kadang-kadang. Aku berpikir ingin berhenti. Kuliah. Biar bisa punya uang lebih untuk bantu mamah. Tapi tidak mungkin. Aku benci menyerah. Mamah juga benci jika aku melakukannya. Tapi kendati aku benci menyerah, bukan tidak mungkin aku tidak lelah. Aku merindukan banyak hal. Dan, itu sebuah verba. Karena aku tidak sekedar rindu, aku merindukan. Aku habis menyeduh kopi. Akhir-akhir ini sakit sekujur badan. Darahku rendah lagi. Pilek tidak beringus. Haid hari pertama. Ingin kupeluk seseorang. Tidak Gong Yoo. Tidak juga Benedict. Tetapi kamu. Orang yang (mungkin sering) tidak memperhatikan isi percakapan kita—atau sebenarnya semakin lama ini akan menjadi percakapan satu arah saja—ha ha. Tetapi kita jauh. Sekarang cinta sudah lebih banyak berbahasa letih dan kantuk sepulang kerja. Aku ingin jadi istrinya agar kapanpun ia pulang aku bisa memeluknya tanpa harus banyak bertanya.

Aku ingin ke kampung halaman. Tidur bersama mimih dan mendengarkan igauan di sela tidurnya. Menikmati hening pagi di beranda rumah. Menyapa setiap tetangga yang lewat. Menggoda anak-anak bayi yang digendong para ibu. Jalan-jalan di pematang sawah. Tidak memikirkan apa-apa. Tidak memikirkan apa-apa.

Siapapun engkau kelak, yang suatu hari membaca jejak digital di halaman blog ini; Assalamualaykum, suamiku, kau pasti seorang lelaki yang kuat dan sabar, apa kabar? Anak-anakku, kau harus tetap baik hati ya, harus hemat, jangan jadi orang yang tinggi hati. Cucu-cucuku, ini nenekmu, nak… Suka menulis, apa saja nenekmu tulis, nak. Ini jurus nenek menyembuhkan luka nenek, meredakan lelah nenek, tempat nenek beristirahat dari segala rasa kangen yang tidak bisa nenek penuhi, nenek menulis. Kau apa kabar, cucuku? Sudah ada mobil terbang belum di zamanmu? Masih hidupkah nenek ketika kalian membaca ini? Apakah nenek masih bersama kakekmu?

Kusudahi. Nanti aku pasti mengadu. Di setiap simpuh sujud yang kubisikkan ke langit. Aku ingin selalu menyempurnakan wudhu, membaca Al-Qur’an, jadi madrasah pertama untuk kalian anak-anakku yang lucu. Tidurlah, sudah malam, kesehatanmu….

Oyasumi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

| Designed by Colorlib