Sekumpulan romansa, mimpi, dan perjalanan


Sore ini saya tengah merampungkan beberapa tulisan, salah satunya review buku. Seperti biasa, saya pasti berteman kopi dan cemilan, kadang-kadang musik, atau apapun. Akhir-akhir ini saya tengah sering pundung, entah karena apa. Saya mengeluhkan sesuatu yang tidak bisa saya temui, saya banyak merasa perasaan saya bertepuk sebelah tangan, saya terlalu banyak mendengar banyak omong kosong dari banyak orang, dan banyak lagi.

Saya merasa sesak kadang-kadang. Tapi saya besyukur karena saya masih punya kekuatan untuk menekannya.

Saya sampai berpikir apakah jangan-jangan saya menderita mental illness, hahahah... hanya karena semuanya tidak sesuai ekspetasi saya, betapa remeh sekali. Meskipun begitu saya berpikir, dan saya tahu bahwa mungkin umur saya masih belum bisa dikatakan dewasa, saya masih minim soal pengalaman dalam hidup dan perasaan, meskipun begitu, tetap saja saya mahluk hidup, saya punya kesempatan untuk sakit hati dan bahagia, saya punya insting untuk merasakan banyak hal meskipun saya tahu saya bisa memendamnya sendirian. Kalau sudah begitu saya selalu berharap bertemu laki-laki tampan di jalan, dia punya banyak harta dan soleh, dan esok kami menikah. Hahahah, mimpi kau.

Terlalu banyak hal yang ingin saya keluhkan, tentang mengapa Tuhan mengirimkan banyak orang yang saya sayangi justru untuk menguji kesabaran dan tingkat egoisme saya. Entahlah... Sampai akhirnya ketika sedang berdiam sebada mengetik review, ada sebuah cuplikan menjelang azan Maghrib, bunyinya sederhana; Sholat bukan semata-mata ibadah dengan gerakan, sholat adalah ibadah utama, menjalankannya perlu melibatkan hati. Saya merenungkan sejenak dan dengan kesadaran batin saya menambahkan.... dan ketika bersujud kepada-Nya, segala ego dan kepasrahan harus tunduk di sana. Di bumi. Di tanah tempat saya--dan kita--kembali.

 Saya jauh sekali dari kata baik. Sholeha. Jauh sekali. Tetapi saya masih diberikan nikmat untuk sadar diri dan muhasabah. Sebada itu saya memeriksa diri sendiri, saya curiga dengan diri saya sendiri; betapa bedebah diri saya selama ini. Malu saya.


Maka dari itu saya senang menanti azan. Saya pendosa. Saya bersujud sedalam-dalamnya di sana. Saya jauh dari kata baik. Saya masih banyak mengeluh. Dan percayalah, saya berusaha untuk lebih baik, berubah, dan punya manfaat. Itu saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

| Designed by Colorlib