Sekumpulan romansa, mimpi, dan perjalanan





19 tahun 9 bulan.
            Saya mungkin tidak mengerti banyak tentang bagaimana saya harus memahami perasaan setiap orang, tetapi sejak lama, saya terlatih untuk tidak membuat segores rasa sakit dan kecewa di benak orang lain. Saya mungkin memang tidak begitu perduli dengan banyak hal, tetapi untuk memberikan perhatian, jika diperlukan, saya akan memberinya tanpa perlu diminta, tanpa perlu diingatkan. Saya mungkin kikuk dalam mengutarakan perasaan sejenis kangen, sayang, atau apalah, tapi jika diminta untuk membuktikannya, saya menyanggupi bahkan tanpa harus bersuara.
            Sejak dulu saya berusaha untuk memahami bahwa setiap orang memiliki caranya sendiri untuk mengutarakan atau untuk menggambarkan perasaanya. Maka begitu pun dengan saya. Saya memiliki cara sendiri untuk mengekspresikan segala bentuk gambaran dari perasaan, mungkin sesekali saya akan mengutarakannya dengan kata-kata, tetapi bagi saya, hal-hal itu akan menjadi hangat jika saya menunjukannya lewat tindakan. Saya tidak minta dibaca, melakukannya untuk orang-orang tercinta saja saya sudah bahagia.
            Iya, bahagia.
            Sampai suatu hari saya berkenan untuk mendengarkan sebuah keluh kesah seorang sahabat yang mencoba merubah dirinya menjadi lebih baik, dan ia merasa berat serta lelah karena ia pelan-pelan harus hancur dari dalam. Hancur dari dalam karena ia harus berusaha terus baik-baik saja di depan banyak orang yang ia sayang, yang demi mereka ia berubah. Dulu saya hanya bisa mendengarkan, tanpa bisa berpikir jika seandainya saya juga menjadi si yang tidak diterima usahanya oleh banyak orang-orang, menjadi si egois yang usahanya terlihat sia-sia yang sedih sekali karena yang beranggapan seperti itu justru orang-orang tersayang yang tengah ia perjuangkan.
            Hari ini, singkat saja, saya merasakan semuanya. Iya, saya memang cuek, kurang peka, tidak begitu perhatian, atau apalah. Tetapi ketahuilah bahwa saya berproses, saya berproses menjadi manusia yang lebih baik lagi, bukan sebagai malaikat yang sempurna luar dalam. Saya berproses menjadi yang mereka yang saya sayangi, menjadi baik seperti yang mereka katakan tentang diri saya sendiri dan ya, rasanya tidak diakui atas segala usaha… adalah salah satu hal yang membuat bernapas terasa lebih berat. Untuk mereka saya harus tetap bahagia, hari ini saya tahu bahwa saya retak dari dalam.
            Maka dari rasa sakit itu saya belajar. Bahwa setiap orang memiliki prosesnya masing-masing, mereka butuh dibantu, bukan melulu—atau lagi-lagi dibilang tidak kunjung mengerti dan peka. Di luar, mereka bahagia dan baik-baik saja. Karena ya, keretakan itu muncul dari bagian terpalung dari diri. Manusia berproses untuk menjadi manusia yang lebih baik, bukan untuk menjadi malaikat.
            Dan catatan ini adalah retak-retak yang tidak ingin saya miliki, saya ingin tuangkan saja, karena mungkin, barangkali, luka itu luluh meski pelan-pelan. Luka yang justru diciptakan oleh orang-orang yang selalu ingin saya perjuangkan.

1 komentar:

| Designed by Colorlib