Sekumpulan romansa, mimpi, dan perjalanan

(Malam itu, di pantai yang kehilangan ombaknya)

Aku, atau bahkan ia bagaikan benih yang menyemai dan tumbuh, tepat ketika musim hujan mengirimkan pertanda, serta mekar ketika rintik-rintik menyejukkan itu jatuh.

 
Dan aku ragu apakah itu aku, seseorang yang jauh dari kata dewasa dibanding ia dengan segala perjalanan dan pengalaman hidupnya, ingin aku banyak bertanya, ingin sekali. Tetapi pertanyaan-pertanyaan itu lenyap oleh pernyataannya yang sederhana malam itu. Seba’da berkunjung untuk pertama kali.

Lalu aku menahan diriku sendiri tentang mengapa ia bisa jatuh cinta, mengapa aku hanya bereuforia. Aku bahkan enggan menatap sepasang matanya kala itu hanya karena aku takut untuk mempercayai kata-kata bersebab luka lama, aku tahu ia berbeda, dan seharusnya aku tidak terlalu takut karena ya, ia berbeda.

Kemudian kami bermetamorfosa dengan diam-diam dan jauh dari segala kebertahuan banyak orang, aku dan ia yang pelan-pelan menjadi kita. Seiring waktu berlalu.

Ia menyebalkan. Terlalu sering mengucap rindu. Begitu mempercayaiku. Terlalu sering memujiku. Terlalu baik, dan rela jadi tempatku melampiaskan kekesalan. Ia tidak bermain dengan teman-temannya seperti dulu saat kami belum berkita, ia lebih memilihku dengan cuek-cuek yang kusengaja, ia lebih memilihku dengan plin-planku yang panjang. Tidak tahu. Yang menyebalkan dan kanak-kanak itu aku, dan ia tetap bertahan.

Ia bisa buatku tertawa dan membuatku merasa aku baik-baik saja. Ia sederhana, begitu mudah pilek meski jarang dan susah sekali disuruh mandi. Ia menyebalkan dan tidak jelas. Ia sering menyebutkan nama-nama teman perempuannya dan aku ingin memberengutnya, terkadang jawaban pesannya begitu singkat sehingga aku khawatir bahwa sesuatu yang salah ada padaku, ia tidak mengirimiku puisi, tetapi kata-katanya lebih hangat dan itu sungguh lebih dari cukup.

Ia lebih mampu memeluk kekanak-kanakanku, dan betapa aku sadari itu.

Tetapi entahlah, terkadang aku merasa kesal tidak jelas, tanpa sebab, tanpa ia berbuat kesalahan pun.
Perasaan mengganggu itu yang tiba-tiba membuatku membalas singkat pesannya, sampai ia menelponku; dan segalanya cair.

Aku terlalu kekanak-kanakan, kan? Aku bahkan perlu berpikir lama dan menyadari bahwa aku mulai merinduinya untuk lantas merasa kesal kepada diriku sendiri karena aku miskin upaya. Kau, boleh kupinjam keberanianmu untuk dengan mudahnya mengucap, "Neng, kangen"?

Musim hujan hampir berlalu. Kamu bilang, hidupmu menjadi semakin berwarna semenjak kehadiran diriku. Kalau boleh tahu, warna apakah aku? Apakah warna yang senada dengan hujan? Ataukah warna yang senada dengan warna anak-anak?

Aku memang tidak pernah mengatakannya, tetapi bukan berarti aku tidak pernah merasa; hanya saja aku terlalu payah dan kata itu akan terus tertahan sampai aku mampu menemuimu di sisa waktu. Cukuplah riangku menjadi semiotik dari rasa rindu, jatuh cinta, rasa nyaman, dan pujian kepada kamu. Karena aku tidak mahir mengungkapnya dengan kata. Meski buatmu, dan juga seringmu, memujiku atas kemampuanku mengolah kata, kau lebih mahir mengaplikasikannya.


*Jakarta, 16 Januari 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

| Designed by Colorlib