Sekumpulan romansa, mimpi, dan perjalanan



 
(source image; The City Life - tumblr)



Sebagai bangsa yang memiliki kemajemukan suku dan bangsa, Indonesia tidak pernah kehabisan bahasan yang bertemakan kebudayaan dan hal-hal yang terkait di dalamnya. Hal ini menjadikan kebudayaan Indonesia mampu dikaji secara mendalam baik secara khusus, atau bahkan jika hanya mengambil contoh kecil dari kehidupan sehari-hari atau dari perspektif yang tidak biasanya. Salah satunya adalah jika kita membahas perkembangan kemajemukan budaya di salah satu lingkungan kecil seperti kantor atau tempat berkerja, kemajemukan budaya dan perbedaan di dalamnya bisa berpengaruh pada tiap individu.
 
Jakarta adalah ibukota Indonesia yang memiliki kemajemukan budaya dari para pekerja. Setiap tahun, Jakarta tercatat mengalami peningkatan penduduk baru dikarenakan banyaknya masyarakat daerah yang merantau dan memutuskan mengadu nasib di Jakarta. Tercatat peningkatan jumlah penduduk di Jakarta terus terjadi sejak 2012 hingga 2016. Pada 2012 jumlah penduduk di Jakarta tercatat sebanyak 9,7 juta penduduk. Pada 2013 jumlah ini meningkat menjadi 9,8 juta penduduk atau naik 2,32 persen dibanding tahun sebelumnya. Tren kenaikan jumlah penduduk terus terjadi pada 2014, di tahun ini jumlah penduduk mencapai 10 juta penduduk atau naik 0,27 persen dibanding 2013. Begitu juga pada 2015, terjadi kenaikan jumlah penduduk menjadi 10,1 juta atau naik 1,8 persen dibanding tahun sebelumnya. Pada 2016, angka jumlah penduduk naik sebesar 1,1 persen atau menjadi 10,3 juta penduduk.
 
Kedatangan para penduduk baru ini, selain menambah angka kepadatan penduduk di Jakarta juga menambah tingkat kemajemukan dan keberagaman budaya yang mereka bawa dari kampung halaman. Para pendatang ini menyebar ke seluruh wilayah Jakarta, merata dan menjadi pekerja di banyak tempat, tidak terkecuali pada lingkungan kantor.
Dewasa ini, jika mau memperhatikan, kantor-kantor dengan struktur organisasi yang cukup lengkap dengan bagian atau divisi, kita dapat mengkaji sebuah kebudayaan dari pandangan senderhana melalui tingkah laku dari para penganut budaya yang berbeda-beda. Dalam sebuah lingkungan seperti perkantoran, sangat memungkingkan adanya kemajemukan budaya mengingat banyak dari mereka yang juga datang dari perantauan yang otomatis membawa sebuah berbeda yang melekat dalam dirinya.
 
Uniknya, segmentasi dalam kemajemukan budaya dalam lingkungan kantor ini tercipta bukan berdasarkan kesamaan budaya atau suku mereka, melainkan berdasarkan di mana mereka di tempatkan di sebuah bagian, maka di sanalah tercipta sebuah segmentasi. Maka tidak seperti dalam lingkungan masyarakat di mana segmentasi terhadap kebudayaan tercipta berdasarkan kesamaan budaya, maka, untuk ruang lingkup yang lebih kecil, segmentasi tersebut tercipta karena kesamaan fokus dan frekuensi komunikasi dari setiap individu yang ada di dalamnya. Hal ini membuat keterkotakan menjadi terlihat, karena kenyamanan berinteraksi dengan satu kelompok telah menghalangi seseorang untuk membuka ruang komunikasi lain dengan banyak orang lagi.
 
Namun, hal itu ternyata tidak berlaku selama ada faktor lain yang dapat memecahkan kebekuan dari segmentasi itu sendiri. Mungkin sharing ringan tentang kebudayaan masing-masing lewat pembicaraan biasa hanya akan terbentur pada ending pembicaraan tersebut tanpa meninggalkan kesan yang membekas atau sesuatu yang bisa diingat oleh setiap individu, tetapi jika cara berkomunikasi tersebut dibersamai dengan adanya unsur-unsur pada kebudayaan, maka hal yang berbeda akan terjadi.
 
Berdasarkan pada pengamatan sederhana pada waktu-waktu tertentu, ternyata, sebuah momen kembali dari daerah asal dapat menjadi ajang untuk saling memecahkan kebekuan yang selama ini ada karena segmentasi kelompok. Salah satu contohnya adalah momen kembali dari kampung halaman pasca liburan Hari Raya Idul Fitri berakhir. Selain membawa banyak cerita selama di perjalanan, dominan dari mereka membawa buah tangan yang bisa dijadikan bahan bahasan yang lebih melekat dibanding sekedar sharing biasa. Percaya atau tidak, dengan menyertakan suatu unsur kebudayaan dalam pembicaraan, topik di meja obrolan bukan saja akan mengalir, tetapi juga menghangatkan.
 
Dengan saling bertukarnya beragam unsur kebudayaan, yang dibersamai dengan komunikasi dan tingkat keingintahuan seorang individu, maka segmentasi kelompok ini perlahan-lahan akan terpecah dengan sendirinya, dengan adanya kegiatan saling tukar informasi terkait dengan unsur budaya yang dibawa masing-masing. Namun, tidak jauh dari hari-hari tertentu pun, manusia yang cenderung latah, tetapi malah terbawa hingga akhirnya ikut menguasai suatu unsur dari kebudayaan.

Salah satunya adalah bahasa. Bahasa adalah unsur pokok dari sebuah kebudayaan, dewasa ini, kita tidak dapat memungkiri bahwa ada beberapa bahasa daerah yang seringkali atau dengan mudahnya melekat dalam ingatan oleh setiap orang. Ambil contoh saja saat seseorang dengan kebudayaan lain mencoba berbicara dalam bahasa sunda atau jawa demi mengikuti logat lawan bicaranya, atau jika hanya ingin menyesuaikan dengan lingkungan tempatnya, maka dalam jangka waktu yang panjang, jika seseorang itu terus melakukan interaksi dengan menyesuaikan dirinya dengan bahasa dari budaya lain, maka bukan tidak mungkin ia juga dapat menguasainya.

Jadi, dapat kita simpulkan bahwa segmentasi budaya tidak selamanya akan ada selama individunya berfikir kreatif untuk melakukan suatu interaksi dalam lingkungan dengan segala kemajemukan budayanya. Dari pembahasan ini juga dapat kita ketahui bahwa pembahasan tentang budaya tidak bisa maksimal jika hanya dibicarakan saja, perlu menghadirkan unsur-unsurnya atau bukti kongkret dari hasil kebudayaan itu agar hal-hal yang dieksplor bukan hanya sekedar eksistensi semata, tetapi juga hasil dari keberagaman tersebut.



*

p.s: Esai ini juga diajukan sebagai bahan UAS pada mata kuliah Lintas Budaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

| Designed by Colorlib