Sekumpulan romansa, mimpi, dan perjalanan



 
(source: tumblr)

Bismillahirahmanirahim…

Sebelum lanjut ke topik pembicaraan, saya hanya ingin meminta maaf, terbitnya tulisan ini murni berdasarkan keresahan saya dan pertanyaan-pertanyaan yang mengganjal. Tidak ada maksud untuk menyakiti pihak manapun, pun saya, juga masih dalam proses belajar. Kita saling mengingatkan dalam kebaikan, itu asyik.

Remaja kita darurat. Dalam banyak hal.
Tidak, saya tidak akan terlalu jauh membahas perihal pergaulan bebas, yang saya ingin bahas justru hal-hal kecil yang ketika diamati akan menjadi suatu yang begitu berpengaruh pula. Oiya, bicara soal remaja, ketika menulis ini saya juga masih remaja kok. Saya lahir di bulan Mei, tahun 1998, ya, tahun ini telah genap 19 tahun. Dulu, semasa saya kecil, saya selalu takjub melihat sepupu-sepupu saya yang sudah memasuki SMA, mereka begitu dewasa dan punya kharisma tersendiri. Bahkan waktu itu saya sudah paham jika mereka punya seorang kekasih, di otak kanak-kanak saya, itu adalah hal yang benar-benar boleh dilakukan oleh orang-orang dewasa. Lagipula dulu, sepupu-sepupu saya yang berani ajak main teman perempuannya ke rumah itu benar-benar santun sekali, lain sekali lah pokoknya, susah untuk dibilang kalau itu pacaran.
Saya baru lulus SMK 2016 lalu. Semasa saya SMA, anak-anak bocah tidak ada yang pernah lihat saya gandeng kekasih. Saya, saya yang justru lihat mereka sudah punya pasangan. Saya beli cimol sepulang sekolah bersama sahabat-sahabat saya, nongkrong sore-sore, ada anak SD naik motor bedua, boncengan, pegangannya beuhhhh, kayak besok bakalan ada salah satu dari mereka yang migrasi ke Merkurius, erat banget. Ya, saya sih nggak berniat punya pacar (lama-lama), tapi ya masa mesti liat anak SD mamih-papian? Lagian mereka nektok gundu aja masih remed, aduh ampun deh!
Tetapi itulah 2017 yang tengah kita hadapi. Di mana banyak dari generasi kita yang dewasa sebelum waktunya. Barangkali perkembangan tekhnologi juga berperan besar di sini, nggak bisa dipungkiri sih, dalam hal komunikasi misalnya. Yeu know what? Saya sekali waktu ke warnet, ngeprint tugas, isi billing 15 menit buat ngecek ini itu dalam dokumennya. Di sebelah saya ada beberenyit (baca: bocah SD, segerombolan ciwi-ciwi yang masih pake miniset) seru banget ngobrolnya. Awalnya saya acuh, tapi kok obrolan mereka lucu pisan, ya? Si A, sambil terfokus pada monitor cerita tentang profil anak cowok yang sedang di stalknya, katanya minggu besok mau ditraktir jalan ke Dufan, temannya nimpalin cerita lain kalau kemarin dia kerja kelompok barengan sama cowok ini naik motor, dan bla.. bla.. bla..
Dalam hati saya, “Njayyy, ke Dufan di traktir, mana beduaan doang lagi ini kunyit-kunyit muda”. Saya jujur deg-degan dan kikuk saat ada teman lelaki saya main dan saat itu posisinya ada bapak di rumah, rasanya aneh, meskipun saat itu baik teman saya dan bapak saya ngobrol asik-asik aja. Saya nggak tahu jadinya siapa yang kanak-kanak, saya, atau anak-anak SD tadi.
Tetapi terlepas dari itu semua, ada beberapa dampak yang lahir dari fenomena dewasa sebelum waktunya ini. Selain banyak yang pacaran bocah, jadi banyak juga yang nikah muda. Yang kedua ini sama sekali tidak salah, malahan sangat positif. Saya sendiri niat nikah muda biar nanti anaknya banyak, ya bisa bikin kesebelasan lah minimal. Tapi, tetapi… menurut saya, semenjak gerakan nikah muda ini digaungkan, terdapat penyampaian-penyampaian yang salah kaprah nih. Terutama untuk remaja-remaja kita yang notabenenya memang sedang atau baru hijrah, untuk beberapa alasan, fenomena ini bukannya menguatkan, malah melemahkan.
Kita sudah tidak asing lagi kok sama banyak gerakan nikah muda. Gerakan yang dibuat dengan tujuan memotivasi anak-anak muda untuk sibuk memperbaiki diri dan siap untuk membangun rumah tangga di usia muda tanpa harus (atau terlalu lama) terjerumus pada banyak hal yang tidak perlu, saya yakin, itu pasti fokus utamanya. Biasanya gerakan-gerakan ini berupa akun-akun di medsos. Saya sempat mengikuti beberapa, untuk pada akhirnya sampai pada pengamatan ini.
Beberapa akun menampilkan contoh-contoh figur yang sukses menjalankan nikah muda, foto-foto kemesraannya ada di mana-mana. Kemudian remaja kita baper-sebaper-bapernya. Kemudian mereka yang nikah muda jadi ikon. Endorse produk, mesra-mesraan, post foto, mesra-mesraan. Demi Allah, saya tidak iri atau tidak suka, memposting foto berdua memang diperbolehkan terlebih jika keduanya telah sah, tetapi bukankah segala yang berlebihan itu tidak baik, ya?
Lalu, kalau saya baca-baca komentar netizen, mereka yang lihat foto ikon nikah muda dengan foto mesra ini kira-kira hanya 30% yang berkomentar “ya Allah, semoga aku dipermudah untuk menyegerakan niat menikah”, sisanya, netizen perempuan masih ngayal dipersunting sama lelaki sholeh ikon nikah muda kita, netizen lelaki masih sibuk ngayal juga bisa mempersunting perempuan sholeha ikon nikah muda kita. Iya, saya tahu saya kurang kerjaan, merhatiin komentar-komentar orang. Tetapi kerjaan saya emang gitu. Ngamatin.
Lalu kemudian, bergesernya pengertian kata ‘sendiri’. Kayaknya jomblo itu penyakit. Kronis. Menahun. Macem kudis, menjijikan. Bahan candaan, juga nggak jauh-jauh dari romantisme yang masih di awang-awang. Nanti yang kena bully, yang jomblo lagi. Kemudian pertanyaan prestisius akan masa depan bergeser menjadi, “Kapan nikah? Kapan dihalalin? Kapan?”
“Kapan kakak bisa halalin kamu?” tanya seorang kakak kelas yang bedanya lima tahun, H+7 UN. Tapi ya, tentu saja ia tidak bertanya dengan serius. Ketika saya tanggapi, “Bapak hari ini ada di rumah, kok”, dia jawab, “Hehehe, kamu baper ya?”
BAPER BAPER YOUR HEAD!
See? Pertanyaan yang harusnya serius itu jadi bahan candaan sekarang. Kebayang nggak sih kalau yang dikasih pertanyaan seperti itu perempuan dengan hati selembut pantat bayi yang baru lahir? Sensitif abis. Bisa gawat.
Apa ya.... Nggak salah sih mendakwahkan nikah muda, sama sekali tidak. Hanya saja ini kembali kepada ilmu. Segala yang disampaikan dengan maksud dan tujuan yang mengedukasi, pasti perlu ilmu. Nah, masalahnya di sini ilmu bagaikan anak panah. Harus tepat sasaran dan maksudnya, tidak melenceng kemana-kemana. Untuk menjadikannya tepat, tentu yang memanah adalah pemanah terbaik. Bukan yang asal bikin kepsyen, posting foto pernikahan indah, bikin poling mau nikah umur berapa.
Mirisnya lagi, sekarang banyak akun-akun anak muda, mereka berdakwah, umur mereka belasan, mereka digandrungi, dan apa yang mereka suarakan? Lagi-lagi soal nikah, lagi-lagi soal pasangan halal, tagarnya gak jauh-jauh dari #SemangatNikah #JombloSampaiSah. Lagi-lagi niatnya baik, tetapi khan banyak hal lain yang lebih sangaaaat berfaedah untuk di posting ketimbang melulu soal itu. Umur 15 tahun, pendiri gerakan #JombloHalal, #SahHinggaJannah, dll itu. Saya umur 15 tahun? Saya ngapain ya pas umur 15 tahun? Boro-boro kepikiran nikah, yang ada di otak tuh, “Stay nih minggu depan harus udah punya episode Sword Art Online terbaru!
Ini yang saya amati, makin lama akun-akun yang menyuarakan gerakan nikah muda justru membuat banyak anak muda semakin lemah. Bahasannya nggak jauh-jauh dari baper-baperan, giliran ada yang ngajak nikah beneran rempong. Ada yang gitu? Banyak. Jadi beberapa ada yang salah kaprah, bukannya semangat untuk memperbaiki diri, malah sibuk untuk menggalaukan hal yang masih di awang-awang, sampai lupa memperbaiki diri. Jodoh, Rejeki, itu kan rahasia (yang kudu kita usahakan dan jemput) dan diantaranya yang paling dekat memang apa? Yang paling dekat itu kematian!
Tidak ada yang salah dalam niatan menikah muda, toh saya juga kepingin. Tapi kita bisa menyikapinya dengan baik, kan? Eumm, khawatir aja sama fenomena ketenaran yang bisa diperjual-belikan lewat dakwah. Saya cuma takut, saking antusiasnya kita dalam fenomena ini, kita jadi lupa tujuan kita hijrah itu untuk apa?
Lagian kan, nikah itu bukan perjalanan seminggu-dua minggu, nikah itu insya Allah perjalanan sehidup-sesurga. Butuh ilmu, butuh kesiapan hati, mental, fisik. Nikah itu khan tidak melulu soal bahagia dan cinta, tetapi pasti sudah sepaket sama pait-paitnya. Nikah itu khan bukan lo-gue-saling suka-terus enak, melainkan yakin untuk kemudian komit. Menyempurnakan separuh agama, bagian dari ibadah, seharusnya hal sesakral ini nggak banyak jadi bahan becandaan.
Kembali lagi, tujuan kita berbenah diri itu apa? Semoga niatnya tidak salah.
Hanya kemudian saya berdoa; Semoga, semoga kita dipertemukan dengan setepat-tepatnya teman bersanding, yang mau sama-sama belajar dan saling nguatin dalam jalan kebenaran. Dan kelak ketika telah tiba waktunya, kita saling menemukan di waktu dan situasi yang tepat. Teman sehidup. Juga sesurga. Aamiin.. :)

NB: Saya nggak ngebet nikah, tulisan ini hanya untuk menyikapi. Opini saya, bisa di sanggah--karena pasti banyak celahnya. Haturnuhun.


*Lyta’s Note
Jakarta, 07 Nopember 2017

1 komentar:

| Designed by Colorlib