Sekumpulan romansa, mimpi, dan perjalanan



Tukang cilok dekat stasiun tidak jualan.
Hujan masih berbekas, sore-sore basah dan banyak orang bergegas. Di pintu keluar stasiun itu tukang ojek konvensional masih seceria pagi-pagi, melambai tersenyum sambil menawarkan jasa, rintik-rintik kecil masih berlaku untuk segerombol bocah-bocah kuyup yang menyangga payung di bahu mereka, kalau jasa ojek payung mereka tidak laku, mereka akan berusaha membantu membawa tentengan orang yang berlalu lalang sebagai bentuk dari penawaran jasa mereka yang lain, di semerawut hujan dan lalu lintas ini banyak insan berjuang mengais rupiah, di tempat lain ada yang menghamburkan rupiahnya sambil menikmati hujan dan minum kopi, membuat puisi, dan barangkali masih mengenang mantan. Sedih, karena untuk beberapa hal, hujan datang untuk momentum yang sebenarnya tidak perlu diingat lagi.
Tetapi yang kucari di semesta dingin ini cuma tukang cilok, kok. Tidak macam-macam. Hanya saja sore ini si abang tidak jualan, jadi aku segera kembali memasuki stasiun dan bergegas menuju peron dua, menunggu kereta jurusan Tanah Basah datang.
“Harus banget ya lo pergi?” sepasang mata panda itu meneror, pertanyaan itu seharusnya sudah terjawab jauh sebelum aku memutuskan untuk mengenalnya. “Harus banget ya lo nginggalin semuanya dan mulai segala hal dari awal sendirian?”
“Nggak kok, saya nggak sendirian”
“Tapi emangnya harus banget lo pergi?”
Di peron seberang jurusan akhir stasiun Kota Mendung, penumpang sudah lelah berdiri. Mereka suntuk, kegerahan dan kedinginan. Aku masih bersandar sambil menunggu. Aroma tanah menyergap dari seratus delapan puluh derajat arah berbalik. Rasanya, percakapan itu masih akan terus berulang.
“Semuanya bakal sama saja, baik dengan atau tanpa adanya saya” itu jawaban paling diplomatis yang pernah aku berikan kepada seseorang, yang ketika mendengarnya, diriku sendiri tidak begitu yakin. “Saya akan baik-baik saja di sana, begitupun kamu, kamu akan baik-baik saja di sini”
Sepuluh menit berlalu dan rasanya ini adalah ramai yang paling senyap. Petugas peron bersuara berat mengumumkan posisi kereta tujuan dan waktu tiba, aku hampir-hampir ingin tertidur daripada harus terus menerus dihantui oleh kepayahan yang tidak pernah berani ku upayakan.
“Tukang cilok dekat balai kota nggak jualan?” Aku mengalihkan pertanyaan. Menatap jauh ke depan.
“Hujan,” katanya, saat itu tidak banyak suara, hanya ada kita, buku, biskuit, dan kopi. Aku bisa merekam jelas hembusan nafasnya dan bagaimana ia menghela nafas berat untuk segala pertanyaan yang tidak ingin ia dengar jawabannya. “Hujan…” katanya, sekali lagi.
Kereta jurusan Tanah Basah masuk ke jalur dua, kaki-kaki basah merapat di belakang garis kuning. Kereta itu melewatiku dengan cepat untuk kemudian berhenti perlahan-lahan, bunyi pintu terbuka dan hawa dingin yang menusuk bersebab pendinginnya yang nyala dan penumpangnya yang tidak seberapa. Kalau begini, rasanya akan lebih dingin dari tempat beranjak yang selalu ingin kutinggalkan. Tidak lama, pintu tertutup. Peron dua tertinggal jauh di belakang.
“Justru kalau sedang hujan begini seharusnya tukang cilok mangkal,” aku masih melanjutkan topik tidak penting itu hanya demi menyelamatkanmu dari kenyataan yang tidak ingin kamu hadapi, tetapi tidak dengan menatap mata pandamu. “Bakalan laku keras, hehe”
“Garing!”
“Uihhh, terbang dong!”
“Kok terbang?”
“Iya kan garing-garing bambuuuu!”
Aku tertawa sendiri di gerbong yang lengang itu, mengenang wajahnya yang jelek namun manis.
Aku bilang, “Kamu nggak perlu rindu saya, jangan jadi orang primitif”
“Primitif?”
“Iya, primitif. Harusnya di tengah zaman dengan tekhnologi semutakhir ini, rindu itu telah lama terbelakang, tidak dikenali, kehilangan makna”
Kamu mengernyit, tidak terima. “Nggak gitu, lah. Sok tau banget jadi manusia”
“Tapi benar, kan?” aku menguatkan analisis tidak berguna itu, “Kamu rindu saya, kamu tinggal klik juga rasa rindu itu lunas! Apa yang nggak bisa di zaman sekarang? Jarak dan waktu aja bisa kok di patahkan”
Tetapi hanya sebentar saja kamu menyimak, kamu tetap keukeuh dan bilang, “Semuanya nggak akan baik-baik saja”
“Oh?” berusaha setenang genangan, kamu kutanggapi. “Bisa memprediksi masa depan?”
Saat itu aku telah sampai di Tanah Basah, sampai di sini kereta masih sama lenganganya dan jalanan masih sama kelamnya, semakin gelap, keluar stasiun, tidak juga kutemukan tukang cilok. Pemandangan yang sama dengan ruang yang berbeda, ripuh perjalanan, ojek payung, ojek konvensional, mereka yang menghindar dari gerimis sambil menunggu ojek online, semua pedagang kaki lima kecuali tukang cilok. Atau jangan-jangan hari ini adalah hari libur Kang Cilok Internasional, aku tidak tahu.
Aku menyulut sebatang rokok, menghisapnya dalam.
“Jauh dari gue akan membuat paru-paru lo semakin rusak”
Lobang-lobang di jalanan yang katanya akan di aspal sejak seabad yang lalu menciptakan becekan yang masa bodoh aku terjang saja, dan aku memang bodoh karena aku lupa kalau ini sepatuku satu-satunya, dan esok aku masih harus kembali berkerja.
“Nanti siapa yang ngurusin lu punya sepatu, sama celana jeans yang belel? Lu kan males, nyuci sepatu aja segan!”
Gang-gang sekitaran rumah telah sepi, sampah di seberang kali yang belum diangkut menguarkan aroma busuk. Aku masuk ke dalam gang-gang terkecil di kawasan kumuh padat kehidupan, menaiki tangga dan membuka pintu. Ada banyak berantakan yang membalas salam bahkan ketika aku tidak mengucapnya.
“Jauh dari gue akan membuat seisi hidup lo berantakan. Kamar lo, cucian kotor lo, piring bekas ma--”
Ku tutup pintu. Kamu masih belum enyah juga. Masih saja mengomel meski telah lama kutinggalkan sejak tiga tahun yang lalu. Masih saja berpetuah dan mengulang banyak percakapan lama, masih sering mencari-cari tukang cilok meski sudah kuperingatkan bahwa cilok di kota metropolitan ini ada yang dicampur daging tikus dan tetelan kecoak.
Jauh dari rumah tempat segala rindu berpulang, aku sendirian. Mengunjungi warung makan sederhana dengan sepatu basah, ikut larut dalam keramaian judi bola dan ikut meneriakan kata gol berkali-kali, aku merokok lagi dan menghisap asap rokok dari rokok-rokok yang lain, aku tenggelam jauh dalam palung ramai sampai kamu berhenti berbicara walaupun dalam setiap tegukan kopi yang membasahi bibir dan tenggorokan adalah kamu yang berkali-kali aku peluk.
Segala kerusakan yang kamu prediksi, segala ketidakteraturan yang terjadi, adalah satu-satunya ruang di mana kamu abadi. Besok atau kapan-kapan kalau mampu akan ku benahi sendiri. Kamu benar, aku payah, dan sok tahu. Tidak lebih tahu dari kang Cilok junjunganmu itu. Kamu benar, tekhnologi memang hebat dan mutakhir, tetapi tidak dengan manusia. Ia mampu memecah jarak, tetapi tidak dengan sebuah sapa “Hai, apa kabar?” atau “Hai, titisan mama Lauren, aku benar-benar berantakan sekali”. Banyak media yang menghancurkan jeda, tetapi tidak dengan hancurnya rasa takut untuk mengungkapkan bahwa, “.. ya, saya kangen kamu. Jadi hampir rada-rada gila”


*Jakarta, 22 Oktober 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

| Designed by Colorlib