Sekumpulan romansa, mimpi, dan perjalanan


(source: instagram.com/omen___)



Apa yang lo pikirkan sewaktu lo memutuskan untuk kuliah sambil kerja?
Semua orang punya alasannya masing-masing, mereka berbeda-beda. Ada yang memang untuk melanjutkan sebuah pendidikan, ada yang rindu belajar, ada juga yang bilang karena dia kurang kerjaan. Apapun itu, setiap alasan bersanding dengan banyak perjuangan, karena notabene mahasiswa yang kuliah sambil kerja itu pastilah berjuang; untuk hidupnya, keluarganya, dan untuk gelar di belakang namanya.
Gue ambil kuliah sambil kerja dengan jurusan yang tidak biasa bukan tanpa alasan. Ada banyak pertimbangan, mohon-mohon agar kesempatan masuk PTN itu ada, tapi hasil dari istikharah yang lumayan bimbang itu akhirnya memantapkan hati untuk mengambil jurusan Sastra Indonesia di salah satu PTS di bilangan Pamulang, Tangerang Selatan. Ya, Universitas Pamulang. Mengapa Sastra Indonesia? Karena passion gue sepenuhnya di sana. Walaupun ya, harus kesasar lebih dulu di jeruji jurnal akuntansi saat SMK, its ok. Allah adalah seindah-setepat pengatur rencana.
Well, kembali lagi ke pertanyaan utama tentang apa yang lo pikirkan sewaktu lo memutuskan untuk kuliah sambil kerja?
Kalo gue, gue memikirkan untuk lanjut mengembangkan kemampuan dan mengambil beberapa langkah lebih dekat dengan cita-cita gue saat gue memutuskan mengambil kuliah nyambi kerja gini. Nggak perduli jaraknya jauh, nggak perduli kalau kata orang alur hidup gue nggak nyambung karena gue sekolah tiga tahun di jurusan Akuntansi, kerja di perusahaan IT, dan sekarang mengambil jurusan Sastra Indonesia. Dulu gue hampir saja merapihkan alur hidup gue yang kata orang banyak berantakan ini dengan melanjutkan kuliah di jurusan IT, saat itu tinggal tunggu masuk hari pertama kuliah sampai akhirnya gue nggak tahan untuk bohongi diri gue sendiri. Itu hari Sabtu, gue minta izin ke ortu, nggak ada gambaran tentang bagaimana UNPAM, antara yakin dan tidak yakin gue ke Pamulang untuk pertamakalinya dengan salah satu sobat, daftar kuliah.
Ketika gue menulis catatan ini, gue semester tiga. Dan semuanya tidak lepas dari doa mama bapa, istikharah, dan doa pastinya.
Menjadi mahasiswa yang sekaligus kuli pada hari Senin sampai Jumat adalah tantangan tersendiri. Waktu belajar kami lebih sedikit, itupun dikebut. Lelah akibat lembur dan banyak deadline di kantor masih belum selesai ketika kami bertemu lagi dengan Sabtu; akhirnya nambah capek. Itu perspektif pertama, kalau kita merasa kuliah di hari Sabtu adalah beban. Beda rasanya kalau mind set yang kita bangun adalah kita akan happy setiap Sabtu karena kita akan mengemban ilmu baru, bertemu teman-teman yang unpredictable karena kita berasal dari latar belakang bahkan rentang umur yang berbeda-beda, diskusiin banyak hal yang asik walaupun kadang-kadang malah jadi curhat atau malah ya… gosip. He-he. Itu perspektif kedua, di mana kita bisa merasa happy dengan pola pikir yang kita bangun semenjak kita membuka mata di hari Sabtu. Perspektif kedua adalah pola pikir yang sedang gue istiqomahkan dengan metode “Alhamdulillah ngemban ilmu lagi”
Kenapa gue menulis catatan ini, tentang sebuah perasaan di penghujung minggu, tentang banyak tujuan kita untuk kuliah?
Gue mengamati. Tidak semua dari teman-teman gue serius dengan pendidikannya. Nggak tahu, sih, atau memang gue yang terlalu kaku? Karena yang gue lihat, beberapa dari mereka tidak serius dalam mengerjakan tugas, bahkan mirisnya, ada aja gitu yang masih merasa kalau copas itu cukup. Maksud copas di sini adalah lo searching di internet, dan lo ajuin copasan lo untuk tugas tanpa editan sama sekali (ini sering terjadi saat kerja kelompok di mana posisi kita adalah pengumpul materi), atau sampai detik ini misalnya, ketika UAS, gue belum pernah menemukan kelas steril dari android dan bisikan-bisikan halus. Gue nggak menempatkan diri sebagai orang yang suci, tapi gue tengah berusaha untuk istiqomah jujur dalam pendidikan dan itu nggak mudah. Gue berhenti nyontek kelas 2 SMK, berjanji sama diri sendiri, beberapa kali ingkar, maka dari itu gue sebut untuk berusaha jujur itu memang tidak mudah.
“Curang lo buka google,” protes gue kala itu, bada UAS Morfologi, dengan salah satu teman yang memang sudah akrab, jadi berani ngomong gini. “Percuma lo belajar-bikin makalah-beli buku referensi kalau ujung-ujungnya google pas UAS”
Temen gue itu cengegesan sambil bilang, “Nggak sempat belajar, Ta-chan… Kerjaan numpuk, lembur pula…”
Kembali lagi ke pertanyaan, apa yang lo pikirkan saat lo memutuskan untuk kuliah sambil kerja?
Gue juga pernah beberapa kali melakukan pendekatan, ngobrol dari hati ke hati dengan satu dua teman soal ini. Ketika gue tanya pertanyaan yang sama, jawaban mereka juga nggak jauh-jauh dari soal kerjaan, keluhan dan problema di kantor. Gue juga nanya tentang kenapa sih lo gak pernah totalitas kalau ngerjain tugas sama presentasi? Jawabannya masih sama, nggak jauh-jauh dari kerjaan, kantor, dan segala problemanya.
Itu saat gue coba nanya ke teman-teman dekat nyambi dengerin curhat mereka, tukar pikiran. Ketika gue menanyakan ini sama teman (yang tapi tidak sama sekali akrab dengan intonasi dan nada bicara yang sama dengan teman yang akrab), gue justru mendapatkan hasil yang berbeda berupa kalimat sinis, minta di maklumi, dan ungkapan ‘jangan terlalu serius belajar’.
“Jangan terlalu serius kalo belajar”
Terus kalo gue nggak serius alias setengah-setengah dalam belajar nanti gelar dibelakang nama gue juga setengah-setengah gitu?
*
Well, teman-teman, ketika menulis ini gue entah kenapa merasa egois dan takut sekali kalau ada ujub (bangga hati) dalam diri. Karena sungguh ujub itu halus sekali sampai tidak terasa oleh diri. Orang shalih aja masih bisa kena ujub, apalagi gue yang masih jauh dari defenisi shalih atawa shaliha.
Teman-teman, kita gemash dengan Gayus Tambunan, Setya Novanto, dan jajaran koruptor negara yang makan uang rakyat, hidup mereka enak dan berlimpah tapi bikin miskin negara, mereka korupsi teman-teman, mereka berlaku tidak jujur. Kita kritis dengan banyak permasalahan di negeri ini, kita mengeluh perihal pemerintah yang tidak becus, tapi tahu nggak kalau kita bisa menghentikan semua kegaduhan itu dari diri kita sendiri?
Gue paham, paham sekali tentang bagaimana lelahnya menjadi pekerja yang harus berjuang untuk menimba ilmu setiap Sabtu. Gue paham sekali rasa lelahnya, remuk redam badan akibat deadline juga lembur dan ngebul otak yang kita bawa-bawa dari hari Sabtu, kalau kita sudah merasa demikian, kenapa kita nggak totalitas aja dengan menjadi pembelajar sepenuhnya? Karena percuma gitu kalau kita udah ngeluh capek dan melabeli semua ini dengan kata ‘perjuangan’ kalau pas di garis akhir kita tetap ketergantungan dengan Maha Lengkap Google dengan segala hasilnya. Iya nggak, sih?
Begini, dengan segala struggle yang sudah kita jalani dari Senin sampai Jumat dan harus bonus hari Sabtu, ketika kita berlaku tidak jujur kita akan mendapat beberapa titik hitam; kehilangan kepercayaan sama diri sendiri, apa yang lo pelajarin selama ini nggak ada maknanya, nggak berkah tuh ilmu karena nyontek, dosa karena gak berlaku jujur, jadi bibit kecil koruptor, dan perjuangan lu ya senilai kuota sama apa yang google kasih ke elu aja.
Ini bakal berasa saat kita beranjak menuju semester akhir. Kalau tidak dibiasakan dari sekarang, jangan-jangan kita bakal keteteran pas skripsi. Emang mau kuliah lama-lama?
Ketika kita memilih untuk kuliah sambil berkerja, seharusnya bukan cuma tujuan dan alasan yang kita pikirkan, tapi juga kosekuensi-kosekuensi yang ada, rasa lelah yang berlipat ganda, itu yang harus siap untuk kita terima. Kalau yang jadi alasan adalah melulu soal padatnya pekerjaan, itu adalah kosekuensi dari jalan yang kita pilih sekarang, nggak bisa kita ngeluh, nyalahin dosen yang kasih tugas banyak, nyalahin kantor dengan segala problemanya, ini jalan yang udah kita pilih; mengeluh tidak akan membuat semuanya jadi lebih baik, kan?
So, menurut gue, kalau mau berjuang jangan tanggung-tanggung lah. Kalau lo capek, lelah, lo harus ingat sama tujuan utama lo, kuat tekad mimpi, orang-orang tersayang yang ngarepin lo jadi orang yang berhasil. Kalau mau lelah, sekaligusin aja lelahnya sekarang, habisin jatah kegagalan dan susahnya selagi muda.
Hidup kita terlalu berarti untuk sesuatu yang dikerjakan setengah hati. Dan tenang aja, berhasil dan sukses itu bukan ukuran pada hasil akhir, defenisi berhasil dan sukses itu ada di perjalanan dan proses ini, percaya deh.


*
Ditulis dengan bahasa lo-gue agar lebih komunikatif walaupun sejatinya ini sebagai pengingat (setengah protes) dan nasihat untuk diri sendiri. Maaf jika ada kalimat yang salah, sampaikan saja kelirunya di mana; saya masih butuh banyak bimbingan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Spesial terima kasih untuk kak Mulyanti Andhani, kakak guru Akuntansi yang menguatkan tekad saya untuk berhenti berbuat curang dan praktis dalam proses belajar. Terima kasih untuk segenap teman-teman kelas Akuntansi 1 2013-2016 yang telah menjadi kelas yang mendukung segala proses untuk berubah. Ketika merasakan ini, ketika menulis ini, gue bener-bener rindu suasana kelas. Apalagi pas dagangan gua laku HAHAHA.
Intinya, aku mencintai kalian karena Allah.
Udah gue, gua, aku pula.
Penuh Cinta,


Lyta.

1 komentar:

  1. Jangan terlalu serius melangkah dalam kehidupan Ta-chan......

    BalasHapus

| Designed by Colorlib