Sekumpulan romansa, mimpi, dan perjalanan

(Credit on pic)

Bismillahirahmanirahim..


Sesuai dengan target saya, dengan bismillahirahmanirahim, saya mulai mengisi blog saya dengan catatan hijrah juga. Nggak detail dari pertama sih, mau dibuat slice of life aja biar bacanya dan ingatnya asik, heuheu. Maka dari itu saya usahakan agar segala tulisan yang ada di blog ini dapat saya back-up dan saya berdoa agar kelak anak cucu saya bisa ngintip blog moyangnya. Jadi pas baca-baca mereka bakal inget gitu, ehhhh si mimih teh waktu mudana kitu, geulis..... Geulis? Iya saya geulis, kata budhe pecel langganan di sekolah dulu, katanya saya geulis, apalagi kalau budhenya nggak lagi pakai kacamata.

Okhay, memulai dari dua pekan terakhir aja.

Mentoring saya mengalami pergantian murabbi lagi, karena kak Anis--murabbi sebelumnya--sedang dalam kondisi mengandung si Utun yang usianya telah menginjak bulan ketujuh, otomatis aktivitas beliau dikurangi banyak terutama ngurusin kami para menti-mentinya yang bengal. (Nggak sih, yang bengal gue doang sebenarnya..). Saya--Rolyta, biasa dipanggil Aisha khusus kalo lagi mentoringan--kak Pipin, kak Ellys, kak Mulya, dan Tiwi akhirnya dipertemukan dengan murabbi baru kami, masih satu alumnus SMKN 17 juga, namanya kak Mala.

Singkat cerita, mentoring kami berjalan seperti biasa. Bedanya, kami kembali mengatur jadwal dan lembar mutaabaah baru, karena kan murabbinya baru juga. Mulailah itu regenerasi lembar mutabaah, penargetan amalan-amalan perbulan mulai dari sholat wajib (kudu tepat waktu, maksimal telat 30 menit, dan kalau bisa jamaah), tilawah, sholat sunnah, puasa sunnah, sedekah, setor hapalan, qiyamul lail, dan yang bikin saya melongo adalah; QOBLIYAH SUBUH WAJIB TIAP HARI.

"Iya, bagus kan? Kan pahalanya lebih besar dari dunia dan seisinya" kata kak Mala, waktu saya nanya itu serius?
Hehe, tahu nggak? Pernah sekali waktu saya tinggal sendirian dirumah, cucian dan gosokan udah beres di hari Sabtu. Minggu pagi setelah sholat Subuh saya bebenah sebentar, sudah pasang alarm pengingat jam 8 jalan ke At- Taqwa untuk mentoring, saya lupa sama sekali kenapa saya waktu itu ketiduran, intinya tiba-tiba saya kebangun pas azan Zuhur :(

Maka dari itu saya meragukan diri sendiri, Qobliyah Subuh tiap hari?

Terlepas dari insiden itu, (pantes disebut insiden nggak kalo kesiangan?) saya jadi teringat salah satu kajian. Disana seorang ustad--afwan saya lupa namanya--bercerita tentang rekannya yang kebetulan juga sulit bangun pagi, sulit pula menghafal Al-Qur'an, dan mati-matian ketika menjaganya.

Rekan si Ustad ini bertanya, dia bingung dengan dirinya sendiri, kok dia udah niat, udah tekad, tetap aja itu hapalan ilang, tetap aja itu qiyamul lail kelewat, eh jangankan qiyamul lail, subuh aja kelewat. Akhirnya, dari cerita Ustad  dan rekannya ini--moga beliau dan rekannya selalu dalam lindungan Allah--saya dapat satu jawaban perihal kebiasaan buruk saya yang juga masih seputar kesiangan, dan kalau tidur itu ngablu banget.

Satu dan simple namun mencerahkan, mengutip dari perkataan Imam Syafie, "Ilmu itu cahaya, dan cahaya tidak akan bertahan dalam hati orang-orang yang bermaksiat"

Astagfirullahal Adzim.

Satu kisah lagi yang buat terenyuh adalah kisah yang datang dari Imam Syafie sendiri. Tahu kan kalau Imam Syafie itu terkenal akan daya ingatnya yang Masya Allah.. kuat banget! Diriwayatkan bahwa suatu waktu Imam Syafie resah karena ia mengalami kesulitan dalam meghapal hadist-hadist. Ini Imam Syafie lho, beliau kaget saat beliau sadar akan daya ingatnya yang menurun, lha saya? Saya kaget kalo daya ingat saya sedang tajam, hiks.

Imam Syafie kemudian ngadu ke gurunya, dan disana sang guru bertanya, selama ini dia masih melakukan maksiat apa? Imam Syafie berusaha mengingat, tapi dia yakin betul kalau selama ini dirinya sudah mati-matian menghindar dari segala hal yang berbau maksiat. Sampai kemudian Imam Syafie teringat sesuatu; setiap ia pulang dari majelis ilmu, ia melewati pasar. Di pasar itu, ia sering melihat banyak kegiatan maksiat seperti judi, perempuan yang masih terlihat auratnya, dan sebagainya. Allah beri ingatan dan kesadaran itu kepada Imam Syafie, beliau sontak menangis, sadar. Besok-besoknya, Imam Syafie kalo habis pulang dari majelis ilmu, beliau tidak pernah lagi melewati pasar. Imam Syafie lebih memilih jalan memutar yang meskipun jauh, yang penting beliau tidak melihat pasar itu lagi.

Dan tahu apa yang terjadi setelah Imam Syafie tidak pernah lagi melewati pasar? Setiap belajar hadist, beliau harus menutup sebelah halaman bukunya, karena jika tidak, ia akan hapal keseluruhan dari dua halaman yang terbuka disitu.

Keren banget nggak, sih?

Dan itu Imam Syafie, seseorang yang Allah kasih rahmat gitu, beliau tidak masuk dalam maksiat dan hanya melihatnya saja tapi berasa dan ngefek gitu di kegiatannya menuntut ilmu. Lha, gimana saya? Yang kecebur? Yang jadi pelaku? Astagfirullah..

Dari sana saya banyak instropeksi jadinya. Kenapa saya masih suka kesiangan, kenapa qobliyah saya bolong-bolong, kenapa hapalan saya mandek dan bolong-bolong, dan kenapa-kenapa lainnya. Ternyata, memang masih banyak gitu sesuatu yang menghambat saya. Saya doa, saya berusaha, saya kurangi pelan-pelan.

Saya tidak bermaksud menampakkan aib yang Allah telah tutupi, tapi sebagai pelajaran untuk kita; semoga tidak terulang karena dulu saya itu suka musik-musik keras seperti Linkin Park, My Chemical Romance, A7X, dan lainnya gitu. Masuk tahap hijrah, saya masih bandel dengerin dan rutin pasang headset buat nikmatin lagu-lagu senada, ketika saya punya tekad untuk memulai hapalan Al-Qur'an, subhanallah... saya ngapalin susah. Kalo boleh jujur, waktu ujian tahsin 2H1J (hapalan full juz 30--Juz 30 yak, bukan 30 Juz, beda lho, hehe), saya sempet nggak lulus dan saya nangis karena... ya Allah.. kok susah banget, sih? Kok lupanya cepet banget, ini ngapalnya seharian lho ya Allah, belum kalo makhraj sama tajwidnya salah, kering ini tenggorokan! Iyak, saya ngeluh. Capek. Mata sepet. Ngantuk. Seret pulak.

Saya curhat sama Murabbi saya dan beliau menasehati dengan cerita Imam Syafie. Kayak kesamber petir aja tiba-tiba, diotak saya waktu itu jawaban atas mandeknya hapalan saya adalah; musik.

Saya kurangi, pelan-pelan. Semuanya butuh proses, kan? Nggak ada yang bisa ninggalin sesuatu hal secara menyeluruh. Lha orang lupain mantan juga butuh proses kok #eh (Btw saya nggak punya mantan, punyanya bekas #eh)

Dan Alhamdulillah, bisa. Ternyata kepayahan itu datangnya dari diri saya sendiri, tapi saya ngeluhnya sama Allah. Jangan ditiru, yak?

Intinya, ilmu itu adalah cahaya, ilmu juga lebih berharga daripada harta, karena kalo kata Sayyidina Ali, ilmu itu menjagamu, sementara kamu menjaga harta. Sementara maksiat itu adalah kegelapan, satu maksiat yang kita perbuat, satu titik hitam muncul di hati kita. Semakin hitam hati seseorang, semakin sulit ia menerima cahaya.

Banyak-banyak istighfar, minta juga dijaga, dijaga biar istiqomah, diajaga agar Allah selalu karuniakan hidayah. Doain saya juga ya? :) ... Alhamdulillah, rampung catatan hijrah pertama, saya rasa segini juga udah panjang ya? Dan saya sengaja pakai bahasa biasa dan tidak patuh kepada EYD biar saya merasa saya lagi ngobrol lho ini sama teman-teman saya, hehehe...

Maaf kalau ada salah kata-maupun kalimat. Catatan ini saya tulis berdasarkan apa yang tengah saya jalani, dan apa yang pernah saya alami, semoga ada manfaatnya, semoga manfaatnya bisa jadi pengingat kebaikan untuk sesama. Sampai jumpa di catatan hijrah berikutnya, semoga kamu, iya kamu... Bukan, bukan yang disebelah kiri, nah... Iya kamu yang disebelah kanan ujung, jangan ujung-ujung ya, nanti jatuh #krik #recehkanBlogLyta

Sayonara, semoga teman-teman nteu kapok ngabacana. Komentar dan tanya-tanya gratis dan tidak dipungut biaya, kok. Tapi kalo mau baca di blog emang perlu kuota sih~ Wassalamualaikum.




~ Salam sehangat mentari duha,
Rolyta Nur Utami

*
Catatan:
- Murobbi: kakak pembimbing mentoring, mentoring sendiri adalah kegiatan berkumpulnya 3-7 orang, biasanya kami ngaji, juga diskusi.
- Menti: yang dibimbing Murobbi
- Lembar Mutabaah: semacam lembaran target, isinya amalan-amalan wajib dan sunnah
- Rolyta Nur Utami: manusia berjenis kelamin perempuan yang jatuh cinta terhadap kesederhanaan, kerja di daerah Tebet, suka naik kereta, waktu itu pernah ketiduran sampe Stasiun Cawang saking sejuknya kipas di gerbong khusus perempuan.

4 komentar:

  1. https://budistory.wordpress.com/
    Mampir yak. Wah kerennnnn mantappppppppppp

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyak bang Budi, iyak, sudah kusambangi blog-blogmu, banyak sekali blogmu, satu aja plis.

      Hapus

| Designed by Colorlib