Sekumpulan romansa, mimpi, dan perjalanan

Waktu itu menjelang Ujian Nasional SMK, saya janji sama diri sendiri kalau saya nggak mau belajar apa-apa lagi terutama mata pelajaran pokok yang diujikan; Akuntansi. Saya juga berusaha keras melupakan segala apa yang tercetak dalam buku, bahasa, angka-angka, rumus, laba rugi, dan antek-anteknya. Menjelang UN otak saya harus kosong, agar pas hari H saya bebas isi kepala saya dengan pertanyaan dab kasus perusahaan manufaktur. Et, itu masa lalu, setahun kemarin, tapi memang masih berasa haha.
Saya nggak bakal lupa masa-masa SMK saya, dulu saya dan teman usaha bareng jualan lumpia dan pastel dikelas, ngebangun usaha gerilya karena takut ketahuan pihak sekolah (karena waktu itu entah kenapa ada larangan khusus, padahal saya sekolah di bidang bisnis dan manajemen) tapi Alhamdulillah berhasil punya anak buah, notabene dari adik kelas yang juga butuh uang jajan tambahan. Dari situ, saya selalu punya simpenan uang, untuk kegiatan, bonus untuk beli buku yang saya mau. Keinget sebelum jualan kalau mau apa-apa susah dapetinnya karena waktu itu uang jajan saya jujur cuma 7 ribu, ongkos 2 ribu, dan....kok jadi curhat lagi? Hampuraaa, suka kebablasan. Intinya, dari usaha kecil sama teman itu saya mulai belajar ngebiayayain apa yang saya ingin tanpa minta ke orang tua.

Di toko buku, beberapa hari menjelang UN, saya luntang-lantung. Niatnya cuma mau beli alat-alat gambar, kemudian ngider cuci mata liat-liat buku. Nggak ada yang sedang saya incer sampai kemudian saya melihat bukunya M Aan Mansyur, kumpulan puisi; Melihat Api Berkerja. Saat itu banyak pilihan buku puisi, tapi entah kenapa saya tertarik dengan buku yang tahun 2016 itu telah masuk cetakan ke empat. Pertama mungkin karena covernya, kedua karena illustrasinya disetiap puisinya, ketiga karena salah satu penggalan puisi yang mejeng di cover belakang.

Pertama saya membaca puisi pembuka dalam Melihat Api Berkerja, puisi ini tidak seperti puisi pada umumnya. Dibuka dengan puisi dengan judul Belajar Berenang yang lumayan panjang, saya seperti membaca puisi rasa dongeng dengan illustrasi coklat pekat seperti tumpahan kopi di halaman sebelahnya. Puisi di halaman-halaman pertama menghabiskan kurang lebih satu halaman dengan dua bagian dan tulisan yang lumayan kecil-kecil.

Puisinya tidak biasa, seperti juga yang dikatakan oleh Sapardi Djoko Damono dalam pengantar buku ini, "...puisi-puisi Aan berhasil memaksa kita dengan cermat mendengarkan demi penghayatan dongengnya"
Buat saya, Melihat Api Berkerja adalah buku pertama yang membawa saya berjabat tangan dengan sosok M Aan Mansyur. Puisi-puisinya memang tidak terasa nyentrik, tetapi semacam ada ciri khas khusus pada setiap penulisan puisi Aan, salah satunya yang selalu saya temui adalah; Judul puisi super panjang dengan bait puisi yang kadang-kadang cuma tiga atau empat baris. Entah apa maksudnya, tetapi jika itu bisa menjadi sebuah pembaharuan dalam gaya berpuisi, mengapa tidak? Oiya. Puisi-puisi dalam Melihat Api Berkerja sendiri cenderung halus dan mudah 'baper', tidak ada sarkasme atau nyinyir, lebih membahas ke soal kehidupan sehari-hari, perasaan-perasaan sendu, dan romantisme yang gagal mencapai si empunya, juga barangkali, kesunyian kesepian yang terasa ramai. (Eh, iya nggak sih? Kalo menurut saya sih gitu, ahaha)
Illustrasi di setiap judul puisi juga unik dan nyastra banget. Klop dengan puisi-puisi Aan meski beberapa setengah berkonsep abstrak. Seperti yang saya bilang diatas, lukisan dalam setiap puisi Aan terlihat coklat pekat seperti tumpahan kopi. Asyik dan nyaman dilihat. Dan ya, Aan tidak sendiri dalam kumpulan puisi ini, ia hadir bersama seorang seniman bernama Muhammad Taufiq atau yang akrab disapa Emte. Emte adalah seorang seniman sekaligus desainer grafis dari Jakarta yang telah banyak menggarap proyek komersil dan kesenian. Beliau adalah otak dibalik lukisan kreatif yang bagai tumpahan kopi.

Saya lupa berapa harga buku ini, yang jelas insya Allah tidak mahal-mahal amat dan isinya setimpal lah dengan harga. Setelah Melihat Api Berkerja, kita juga bisa menikmati karya-karya Aan yang lain seperti Kukila (2012), Aku Hendak Pindah Rumah (2008), Perempuan, Rumah Kenangan (2007), dan ternyata masih banyak lagi karyanya. Selain itu Aan juga aktif menulis di Medium, sebuah platform yang mirip-mirip dengan tumblr. Bisa ditemukan dengan nama M Aan Mansyur atau user id-nya @hurufkecil disana. Lelaki puitis ini juga hobi foto-foto, aktif meramaikan timeline instagram saya dengan user @aanmansyur.

Yak, segitu saja sih reviewnya. Intinya, puisi Aan adalah puisi rasa dongeng yang bergaya lebih fresh menurut saya yang masih fakir bacaan ini. Sering saya datang ke bazar buku, tetapi percayalah, buku-buku kumpulan puisi seperti ini, bahkan novel-novel sastra sangat sulit ditemukan. Maka saya berhenti itung-itungan kalau mau beli buku jenis ini, ekhehehe.. Tidak tahu tapi kalau di toko buku bekas, saya sih belum nemuin, karena biasanya saya kalau ke toko buku bekas, saya cuma cari novel detektif dan misteri yang pastinya ori.
Rekomendasi toko buku bekas lengkap di Jakarta Barat adalah Delawas di sepanjang Jl. Tanjung Duren (arah Green Ville) dan toko buku bekas mini Ampera di Jl. Tanjung Duren Utara (sebelah SMPN 89). Saya sering main-main di keduanya, koleksinya lumayan lengkap lah, dan yang terpenting, bukunya nggak bajakan, hihi..

Saya membaca buku ini tahun 2016, ketika mengimigrasikan anak-anak saya ke rumah baru (red: buku-buku saya ke rak baru), saya menemukan buku ini dan rasanya boleh nih dijadikan review di blog, hehe. Untuk yang mau beli, silahkeun cari di Gramedia, mudah-mudahan masih ada. Bisa juga di pesan online kok.

Dan akhir kata, suatu hari saya janji saya akan punya kumpulan puisi sendiri. Mau baca?
Insya Allah, Bismillah..

Sampai jumpa di tulisan selanjutnya, salam sehangat mentari Dhuha,
Ka Ha 💕

2 komentar:

| Designed by Colorlib