Jumat, 16 Juni 2017

[REVIEW BUKU] Malam Terakhir, Kelam Cerah Hidup Wanita dalam Sepotong Cerita

Ka Ha
(A photo by instagram.com/alienkeren)
Pada kesempatan sebelumnya, saya sudah pernah menulis esai yang mengulas salah satu cerpen dalam Malam Terakhir yang berjudul Adila dengan pendekatan pragmatik untuk salah satu tugas kuliah, nah sekarang, wa bil khusus saya akan membuat review tentang kumpulan cerpen garapan Leila S. Chudori yang berjudul "Malam Terakhir".

Well, saya pertama kali tahu dan membaca buku ini pada tahun yang sama, yep tahun 2017, kira-kira bulan Maret. Saat itu habis gajian dan seperti biasa, kebiasaan saya semenjak punya gaji *ekhem* yaitu #OneMonthOneBook, yap, satu bulan minimal saya membeli dan selesai membaca satu buku, hehe.. (Jangan lupa sedekahin sebagian gaji, Ta.. Jangan lupa tadarusan *ngomong ke diri sendiri, wkwk)

Saat memasuki Gramedia, yang ada di pikiran saya adalah mencari buku kumpulan puisi karya Aan Mansyur (lagi), karena saya ketagihan dengan cara beliau berpuisi. Tapi kok, setelah saya bolak-balik mengamati satu per satu buku yang ada di rak Sastra, saya nggak berhenti merasa tertarik dengan cover kumcer Malam Terakhir, ya? Akhirnya, dengan segenap keyakinan, pilihan saya jatuh pada buku ini.

Sama seperti karya-karya sastra yang datang dari para sastrawan senior di Tanah Air, beberapa cerpen yang dimuat dalam Malam Terakhir karya Leila ini mengandung unsur yang sebaiknya dibaca oleh mereka yang telah memasuki usia 21 tahun keatas, (meskipun lagi-lagi saat membaca itu umur saya belum genap 19 tahun, alias masih 18 tahun #kyeopta), namun Leila meramunya dengan apik dan sepintasan, tidak mendetail seperti gaya penulisan Murakami dalam Review 1Q84 yang juga sempat saya ulas.

Ada sembilan cerpen dalam Malam Terakhir, termasuk Malam Terakhir itu sendiri yang dijadikan sebagai penutup dari kumpulan cerpen ini. Memulainya dengan "Paris, Juni 1988", saya sedikit-banyak bertanya dengan kepribadian tokoh Marc dan obsesinya yang absurd, saat itu, gambaran tentang Paris yang romantis pudar begitu saja dari benak saya saat Leila mulai menggambarkan keadaan guest house yang si pemeran utama tinggali. Dan, ketika saya selesai membaca cerpen pertama pada buku ini, saya praktis bertanya tentang apa ya yang seorang Leila khayalkan sehingga beliau bisa menciptakan seorang Marc dengan obsesinya yang terlampau aneh? Hmm, that is little creepy juga sih, cuman kamu harus baca dulu deh biar tahu dimana letak obsesinya yang absurd itu. (dan, tidak perlu kaget ya nanti)

Kemudian, akan ada beberapa cerpen yang tidak hanya mampu membuat pembaca merasa tergugah, tetapi juga sesak secara bersamaan. Seperti ketika saya membaca "Untuk Bapak", dan kebertandatanyaan ketika saya habis membaca "Sepasang Mata Menatap Rain", dan kengerian yang mengigit ketika tandas emosi saya membayangkan seorang perempuan yang tersiksa dalam "Malam Terakhir". Kumcer dengan jumlah total 117 halaman itu saya habiskan dalam waktu tiga hari, seluruh kisahnya berpadu-padan menciptakan emosi yang beragam untuk pembaca.

Meski begitu, tetap saja, satu yang tertinggal dalam ingatan dan hidup dalam benak saya adalah "Adila". Entah mengapa sejak mencicip kalimat pertama dalam cerpen tersebut, rasanya saya dapat langsung melihat adegan Adila yang sedang asyik sendiri dengan dunianya di dalam toilet, mengintip isi buku yang telah enambelas kali ia baca, dan melihat akhirnya ia menenggak cairan yang selalu menariknya dari awal cerita sampai akhirnya ia berakhir karena itu. Saya merasakan keterkekangan Adila disana, selalu otomatis lagu Numb milik Linkin Park yang terputar di otak saya saat membacanya ulang.

Salah satu teman saya mengaku bahwa ia juga jatuh hati--yang sakit--pada cerpen Adila. Akhir ceritanya membekas, sama sekali tanpa penyesalan dalam tokoh-tokoh yang bermain di dalamnya. Maka, ketika selesai membaca cerpen Adila dan menghembuskan nafas lega, saya tersadarkan akan cover depan buku ini. Ini Adila sekali!

Ohya, terlepas dari semua itu, Malam Terakhir adalah kumpulan cerpen Leila yang terbit pertama kali pada tahun 1989, yang sekarang menjadi milik saya dan memenuhi deretan koleksi buku dirumah adalah cetakan keempat yang terbit pada Januari 2017. Yap, bisa dibilang, cetakan ini masih segar-segarnya.

Well, secara keseluruhan, membaca karya Leila yang satu ini membuat saya memasukan beberapa karyanya yang lain untuk dinikmati di kemudian hari. Sayang, untuk mahasiswi-karyawan-heterogen seperti saya ini, untuk satu buku kategori sastra yang masih eksis mejeng di deretan buku anyar, harganya cukup menguras kocek hahaha.. Yaaaa, uang pulang pergi seminggu lah ya, makanya kalau ada bazar buku seperti Big Bad Wolf kemarin, saya sebagai seorang mahasiswi merasa sangat tertolong.

Saya rasa cukup, beberapa hari kedepan saya akan tetap mengisi blog ini. Mungkin dengan puisi, dan ya, beberapa review buku lagi. Saat ini saya sedang pada tahap membaca karya Natsume Soseki yang berjudul Rahasia Hati. So, tunggu update review bukunya yap? Salam sastra! Jangan lupa berkarya!


Xoxo,
Ka Ha



*Tebet, 16 Juni 2017

Ka Ha / Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

2 komentar:

  1. Wah kece juga reviewsx dek.....ajarin dong 😍😍😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insya Allah nanti dibuat tips2nya kak 😁

      Hapus

Coprights @ 2016, Blogger Template Designed By Templateism | Templatelib