Langsung ke konten utama

[ Re-post Cerpen ] Ketika Nitrogen Tenggelam dalam Asam Sulfat

(Source photo: google.com/images/tenggelam+tumblr)




Notes ada di depan sebelum melanjutkan membaca cerpen ini. Jadi, saya abis iseng ganti-ganti template yang pada akhirnya berujung unfaedah, karena saya enggak' menemukan template baru yang sesuai keinginan. Saya bongkar-bongkar isi blog ini, dan menemukan post lama yang berasal dari tahun 2012. Itu artinya, umur saya kala itu adalah 14 tahun, dan semestinya tengah duduk di bangku kelas 2 SMP. Saya ngakak menemukan cerpen ini, selain karena tampilannya yang berantakan, saat itu juga saya bukan anak IPA yang dengan entengnya dapat memberi judul cerpen ini 'Nitrogen yang Tenggelam Dalam Asam Sulfat' tanpa tahu reaksi yang sebenarnya akan terjadi, hahaha.. Dan, menurut pengamatan saya, sejauh saya menulis cerpen yang rada absurd ini, cerpen ini cukup banyak mendulang apresiasi, baik itu dari orang-orang bernama maupun mereka yang anonim. Jadi disinilah, cerpen ini saya post ulang, saya sama sekali tidak mengubah bahasa dan alur cerita, hanya merapihkan sedikit tatanannya agar mudah dibaca. Ketika membaca ulang cerpen ini, saya benar-benar merasa sebagai Rolyta umur empatbelas tahun dengan segala ke-'begajulannya'. Saya ngakak lagi, hahaha.. Udah ah, capek ngetik. Untuk kalian, selamat membaca, dan ya, kritik dan sarannya untuk Rolyta lima tahun lalu ya... ^_^

***



Ketika Nitrogen Tenggelam dalam Asam Sulfat

               "Mungkin hatinya sudah habis terendam nitrogen. Sehingga ia tidak pernah terlihat mencintai seseorang"
                "Dia hanya bicara pada orang tertentu lho. Itupun seperlunya saja"
                "Santero SMA menjulukinya Nitro-gen. Atau manusia yang tercipta dari gen-gen Nitro, haha"
                "Hsst.. Tapi aku pernah bertatap dengan matanya, dan dia tersenyum"
                "Heh, kau ngibul ya, Nirina?"
                "Nama aslinya, Natra Geandra"

*
                Sesosok lelaki berjalan diantara ramainya kerumunan siswa yang berseragam putih abu-abu. Mata mereka terus tertuju pada sosok lelaki berkacamata hitam, berkulit putih, berhidung bangir, dan bermata tajam. Sosok yang hampir sempurnya untuk memikat perempuan di sekitarnya. Namun tidak, sikapnya yang benar-benar misterius seolah menjadi penghancur kesempurnaanya. Ia benar-benar acuh pada setiap bisikan nakal yang lalu lalang mecercanya.
                "Hey kau! Yang berkaca mata, namamu ganti sajalah. Dari Natra, menjadi Nitro-gen"
                "Hahaha.. Sok misterius. Apa kau benar-benar pernah berendam dalam cairan nitrogen, Ha?"
               Namun lelaki itu hanya terus berjalan acuh, hingga ia berhenti karna sesosok wanita disampingnya membisikan sesuatu, berhiaskan senyum manisnya; "Kau hanya perlu Asam Sulfat, Natra"

*
  

[ Natra POV ]

               Decitan suara keyboard, kopi hitam dengan asapnya yang masih mengepul, serta alunan musik tenang yang sengaja kuputar. Menemani sunyinya malam yang sudah biasa kutekuni. Sudah pukul satu pagi, namun mataku tak kunjung sayup. Seperti tak ada gairah untuk terlelap.
Aku masih setia berhadapan dengan layar terang komputer ku, sembari perlahan menyeruput kopi hangat itu. Terasa damai, kecuali nanti pagi aku akan tertidur dikelas, akibat begadang semalaman begini.
                Angin malam membelai mesra tengkukku, terasa dingin. Itu sudah biasa bagiku. Mataku terus menelusuri apa yang disediakan jejaring sosial pagi-pagi buta begini, tak ada yang menarik. Semua sepi, facebook, twitter. Hanya beberapa saja yang terlihat. Dan kurasa ia sudah terlelap disana. Akhir-akhir ini aku sering sekali membuka profilnya, lantasan di kehidupan sehari-hari aku sudah jarang sekali bertemu denganya. Sulit. Gerakan tanganku lantas membawa pada history chat facebook dua tahun yang lalu.
        "Hai, Nirina"
               "Hai juga, siapa namamu?"
               "Aku.. Kau bisa memanggilku, Nitro"
               "Why? Sudahlah.. Dimana kau bersekolah?"
               "Di tempatmu Nir. Sama"
               "Ohehe, kelas berapa?"
                Hanya sampai di sana, lalu aku memutuskan obrolan. Aku tak berani terus berbicara dengannya.

*
               "Berdiri kamu di lapangan!" Gertak seorang laki-laki bertubuh tegap yang refleks membuat ragaku menjauh meninggalkan ruangan yang sedang menangkap ilmu tersebut. Kini aku sudah berdiri tegap ditengah lapangan, persis menantang gedung ini. Mataku terus bersipit-sipitan seiring sinar mentari pagi yang menyilaukan pandanganku. Pukul sembilan pagi, biasanya langit benar-benar biru, dan awan masih enggan muncul sekedar melukis abstrak di kanvas mewah tersebut. Mataku menyapu seluruh panorama lapangan, dan satu pohon rindang tersebut membuat fokus perhatianku terhenti. Biasanya dulu, di bawah pohon rindang tersebut, selalu ada perempuan yang bernama Nirina, yang duduk sambil menatap langit, tersenyum dengan anggunya. Mata bulatnya, bibir cherinya, rambutnya yang panjang tergerai dan kelincahanya. Namun tidak dengan saat ini, semuanya sirna.
                Biasanya dulu, saat istirahat banyak sekali anak-anak perempuan bermain di sisi pohon itu, tidak terkecuali Nirina. Lalu aku akan diam berdiri di lantai dua, sambil tetap menikmati seorang Nirina dari kejauhan. Namun sekarang Nirina sudah tak nampak disana, senyuman dan segala tingkah lakunya sirna seketika, dan semua itu tidak mengurangi rasa cinta yang lama terpendam.
        Tring..!
                Bel istirahat kemudian berbunyi. Segera saja aku beranjak dari neraka ini, dengan mata-mata mereka yang menatapku sinis. Aku tak perduli, mereka bilang aku Nitrogen, seorang yang berhati beku. Terserah. Mereka tidak tahu, sudah sejak lama aku larut bersama asam sulfat. Habis ragaku, sehingga beku jadilah cair dan akan terus terdiam. Aku melebur pada asam sulfat yang indah itu, asam sulfat yang membuatku larut selarut-larutnya. Asam sulfat yang sudah jarang kutemui, Nirina. Mata-mata itu terus melontarkan derit tanya setiap harinya. Tentang siapa aku? Bagaimana sebenarnya aku? Nitrogen. Benarkah?
                Seandainya aku boleh menjawab semua cercaan yang setiap harinya terus bergeming, entah langsung ataupun tidak. Aku hanya sesosok mahluk biasa, dengan kodrat sebagai lelaki yang Tuhan hadiahkan. Kehidupan dengan materi yang sempurna melingkupiku, apapun yang aku inginkan kecuali kasih sayang. Dan itulah yang membuatku tenggelam bersama nitrogen, hingga saat aku benar-benar larut dalam asam sulfat. Inikah kasih sayang? Yang selama tujuh belas tahun jarang kutemui diantara kedua orang yang sering disebut mamah dan papa? Dan akhirnya aku tetap diam, dengan kasih sayang yang kupeluk sendirian.

*

               "Natra, untuk penyakit ini belum ada satupun obatnya. Maaf" Ucap seorang lelaki paruh baya itu. Aku hanya menyunggingkan selukis senyum kecil yang jarang sekali kutaburkan di air wajahku. Aku berjalan santai menikmati angin sore di lorong rumah sakit ini. Sambil membawa hasil rongsen yang tadi dokter itu berikan padaku.
                Angin sore membelai mesra kulit tubuhku, aku masih menyusuri lorong-lorong rumah sakit sampai akhirnya aku berhenti di sebuah ruangan.Tanganku berhasil mendarat di knop pintunya, segera kuputar dan terbukalah. Mataku menatap nanar pada sosok yang terbaring disana. Tubuhnya semakin melemah, kurus. Rambutnya habis tak seperti dulu, matanya yang indah kini sayu, bahkan tak bisa melihat lagi. Seolah menyadari kehadiranku, mata butanya terbelalak sambil berkata; "Siapa disana?"
                Aku mulai memasuki ruangan itu, lalu duduk disamping ranjangnya. Pertamakalinya aku sedekat ini, sebelumnya mana pernah. Sebelumnya aku hanya nitrogen yang mengagguminya dari kejauhan, sampai akhirnya tanpa sengaja aku benar-benar tenggelam dalam larutas asam sulfatnya yang mematikan.
         "Kau masih bisa mendengarkan, Nirina?"
                "Ya, lalu ini siapa?"
                "Nitrogen"
                "Natra, aku senang kau menjenguku"
               "Aku juga senang, aku benar-benar didekat larutan asam sulfatku sekarang"
                "Nitrogen. Sudah kuduga, kau tidak seburuk yang mereka fikir"
                Seulas senyum terkembang dari wajahnya yang kurus. Aku masih bisa melihatnya. Andai semua yang kau derita bisa kubekukan dengan nitrogen, lalu kau yang lenyapkan dengan asam sulfat.
                Sementara hidup kita sama-sama berada di ambang fajar. Engkau, dengan kanker getah beningmu yang sekarang sudah membuat matamu buta. Dan aku, dengan alzheimer yang lambat laun akan menghabiskan memori otaku, lalu mati. Pada akhirnya, kau akan mengenalku sebagai Nitrogen. Nitrogen yang begitu mengaggumi asam sulfat. Dan aku, akhirnya akan lupa bagaimana rasanya menjadi seorang nitrogen, bagaimana rasanya tenggelam dalam larutan asam sulfat. Bagaimana rasanya mendekap sendirian rasa kasih sayang. Bagaimana rasanya disudutkan. Aku akan lupa, lalu mati.
                Maaf Nirina, selama ini aku hanya menggagumimu dalam kebekuan, aku ingin merubah takdir. Aku tidak mau aku lupa segalanya, tentang bagaimana pahit manisnya hidup. Maksudku, aku ingin kita mati bersama. Menjalani kehidupan baru di dimensi lain. Bukan sebagai Asam sulfat ataupun Nitrogen. Melainkan menjadi Natra dan Nirina, seutuhnya.

*
— Epilog —
              
                Beberapa ilmuwan terlihat sedang sibuk diruang lab-nya. Mereka disibukan dengan segelas larutan asam sulfat yang harus di identifikasi. Hasil lab menunjukan bahwa ada dua DNA yang berbeda dalam larutan tersebut. Sementara beberapa oknum kepolisian masih terus mencari keberadaan seorang gadis yang hilang dari ruangan rawatnya. Ditempat lain, garis polisi melintang membatasi sebuah rumah mewah, diduga ada praktik pembunuhan disana yang dilakukan oleh pemuda yang juga ikut mati dalam peristiwa ini, namun semuanya hilang tanpa jejak.

                Dan disebuah kamar, dengan segelas kopi yang sudah berubah menjadi muara semut-semut merah. Komputer yang masih dalam keadaan menyala, dengan laman facebook yang sedang membuka profil seorang gadis dengan nama 'Nirina Dyra'. Obat-obatan yang berserakan, serta tumpahan cairan yang mematikan, yang membasahi seluruh permukaan kamar, membuat oknum-oknum polisi itu sulit untuk mengidentifikasi dan melakukan olah TKP.
        "Masih belum bisa masuk pak, lapor. Cairan asam sulfat masih terlalu berbahaya, namun ilmuwan kami berhasil mengambil sampelnya. Dan diketahui ada dua DNA didalamnya. Laporan selesai"

.....

Ketika Nitrogen Tenggelam dalam Asam Sulfat.
Rolyta, 151212 12:05

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[REVIEW BUKU] Malam Terakhir, Kelam Cerah Hidup Wanita dalam Sepotong Cerita

Pada kesempatan sebelumnya, saya sudah pernah menulis esai yang mengulas salah satu cerpen dalam Malam Terakhir yang berjudul Adila dengan pendekatan pragmatik untuk salah satu tugas kuliah, nah sekarang, wa bil khusus saya akan membuat review tentang kumpulan cerpen garapan Leila S. Chudori yang berjudul "Malam Terakhir".
Well, saya pertama kali tahu dan membaca buku ini pada tahun yang sama, yep tahun 2017, kira-kira bulan Maret. Saat itu habis gajian dan seperti biasa, kebiasaan saya semenjak punya gaji *ekhem* yaitu #OneMonthOneBook, yap, satu bulan minimal saya membeli dan selesai membaca satu buku, hehe.. (Jangan lupa sedekahin sebagian gaji, Ta.. Jangan lupa tadarusan *ngomong ke diri sendiri, wkwk)
Saat memasuki Gramedia, yang ada di pikiran saya adalah mencari buku kumpulan puisi karya Aan Mansyur (lagi), karena saya ketagihan dengan cara beliau berpuisi. Tapi kok, setelah saya bolak-balik mengamati satu per satu buku yang ada di rak Sastra, saya nggak berhenti mer…

[ ESAI ] Sahabat Semu Dalam Cerpen “Adila”, dan Keterkekangannya yang Terefleksi Dalam “Numb” Milik Linkin Park

[REVIEW BUKU] Melihat Api Bekerja; Puisi Rasa Dongeng yang Lahir dari Seorang Aan

Waktu itu menjelang Ujian Nasional SMK, saya janji sama diri sendiri kalau saya nggak mau belajar apa-apa lagi terutama mata pelajaran pokok yang diujikan; Akuntansi. Saya juga berusaha keras melupakan segala apa yang tercetak dalam buku, bahasa, angka-angka, rumus, laba rugi, dan antek-anteknya. Menjelang UN otak saya harus kosong, agar pas hari H saya bebas isi kepala saya dengan pertanyaan dab kasus perusahaan manufaktur. Et, itu masa lalu, setahun kemarin, tapi memang masih berasa haha. Saya nggak bakal lupa masa-masa SMK saya, dulu saya dan teman usaha bareng jualan lumpia dan pastel dikelas, ngebangun usaha gerilya karena takut ketahuan pihak sekolah (karena waktu itu entah kenapa ada larangan khusus, padahal saya sekolah di bidang bisnis dan manajemen) tapi Alhamdulillah berhasil punya anak buah, notabene dari adik kelas yang juga butuh uang jajan tambahan. Dari situ, saya selalu punya simpenan uang, untuk kegiatan, bonus untuk beli buku yang saya mau. Keinget sebelum jualan k…