Langsung ke konten utama

[ Karya Ilmiah ] Analisis Degradasi Persinetronan Indonesia, dan Eksistensi Seorang Penulis Skenario di Belakangnya



Image source: Google. Versi sederhana, karya ini dipublikasi tanpa daftar isi


KATA PENGANTAR
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh..
            Alhamdulilah, segala puji bagi Allah SWT. yang karena karunia-Nya, penulis dapat menyusun karya ilmiah ini dengan keadaan sehat baik jasmani maupun rohani. Shalawat serta salam tidak lupa penulis haturkan kepada baginda Nabi Muhammad saw. yang telah membawa segenap umatnya dari zaman kegelapan, menuju zaman yang terang benderang.
            Dewasa kini, tayangan yang beredar pada pertelevisian Indonesia sangatlah beragam, terutama dalam fokus sinema. Namun tak ubahnya suatu perjalanan, dunia sineas Indonesia juga mengalami banyak perubahan seiring dengan perkembangan zaman. Begitu banyak perbedaan yang akan kita temukan bila kita mau meneliti lebih jauh lagi aspek-aspek sineas Indonesia pada masa kini dan masa lampau. Pada karya ilmiah kali ini, penulis akan mencoba mengulas hal-hal berkaitan dengan sineas Indonesia, namun agaknya penulis akan persempit pembahasannya menjadi lebih fokus kepada dunia persinetronan saja, baik dari segi alur cerita maupun pada penulisan skenarionya.
            Karya Ilmiah ini dibuat untuk memenuhi tugas Bahasa Indonesia II, dalam karya ini penulis sadar betul pembimbing akan menemukan beberapa cela dan kekurangan. Untuk itu mohon kiranya untuk kritik dan saran agar penulis dapat menyusun sebuah karya ilmiah yang lebih baik lagi dimasa mendatang, terima kasih.
            Wassalamualaikum wr. wb
Jakarta, 5 April 2017


Rolyta Nur Utami

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
“Film, adalah sebuah realisasi nyata dari aksara yang bersifat fiktif, maupun empiris”, agaknya memang itu ungkapan yang paling tepat untuk menggambarkan bagaimana sebuah karya fiksi menjadi suatu dimensi lain selain dalam bentuk tulisan. Kehadiran tayangan sendiri telah sejak lama ada bahkan sebelum manusia menemukan televise sebagai media elektronik yang pada akhirnya lebih memudahkan mereka dalam menonton atau menikmati sebuah tayangan. Di Indonesia sendiri misalnya, dunia peran telah lama berkembang bahkan secara adat istiadat, menyatu dalam banyak kebudayaan masyarakat Nusantara yang beragam dengan tema dan kemasan yang beragam pula, sebagai contoh tontonan atau seni peran tradisional Indonesia sebelum akhirnya dunia sineas menjadi primadona masa kini adalah lenong, ludruk, ketoprak, dan sebagainya.
Dunia sineas Indonesia agaknya memang tidak pernah berhenti membuat tanyangan untuk para pemirsanya, baik dari dunia perfilman, maupun persinetronan. Namun setiap aspek dan fokus pastilah memiliki perkembangan, tidak terkecuali pada sineas ini sendiri. Berdasarkan penelitian dan pengamatan yang penulis lakukan, dunia sineas Indonesia mengalami perubahan yang begitu drastis dalam setiap tayangannya, semua itu menyentuh cukup banyak segi, beberapa pengamatan itu akan penulis uraikan pada karya ilmiah ini.
Jika kita melihat ke belakang, agaknya genre dan sifat persoalan yang diangkat dalam dunia persinetronan masa lalu lebih beragam dibanding dunia persinetronan dalam rentang tahun 2016 keatas, hal-hal berikut akan diulas dalam karya ilmiah ini dengan beberapa rujukan yang akan penulis cantumkan baik pada catatan kaki, maupun pada daftar pustaka pada bagian akhir. Selanjutnya, karya ilmiah ini akan terfokus pada pembahasan dunia persinetronan Indonesia yang diisukan tengah mengalami degradasi moral.




1.2. Rumusan Masalah

1.      Apa yang menjadi pembeda antara dunia persinetronan pada masa lampau dengan masa kini?
2.      Mengapa terjadi perubahan drastis diatara dunia persinetronan pada masa lampau dengan masa kini?
3.      Kapankah dunia persinetronan Indonesia mengalami perubahan yang begitu drastis?
4.      Siapa saja pihak-pihak yang berperan dan berkontribusi banyak terhadap perubahan ini?




1.3. Tujuan Penulisan
1.      Membongkar faktor internal maupun eksternal dalam perkembangan dunia persinetronan Indonesia.
2.      Menganalisis dan mengetahui hal-hal apa saja yang mempengaruhi jalan cerita dan kecenderungan dalam tema sinetron masa lampau, dan sinetron masa kini.
3.      Mengetahui selera penonton Indonesia, dan kecenderungannya terhadap genre dan isi cerita.

1.4. Manfaat Penulisan
1.      Pembaca dapat mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perkembangan persinetronan Indonesia baik dari faktor internal, maupun eksternal.
2.      Pembaca dapat mengetahui kecenderungan tema sinetron pada masa lampau dan masa kini, serta menyimpulkan apakah tema tersebut bersifat monoton, ataukah tidak.
3.      Melalui pengamatan dan penelitian ini pembaca dapat mengetahui kecenderungan genre yang banyak diminati oleh para penonton di Indonesia dari semua rentang usia sehingga nantinya pembaca dapat menyimpulkan sendiri apakah sebuah genre juga dibentuk oleh seorang sutradara dan penulis skenario, ataukah hanya dibuat untuk memuaskan imajinasi pemirsa semata.




BAB 2
PEMBAHASAN

2.1. Tempoe Doeloe vs Zaman Millenium
            Meminjam perkataan seorang pengamat sinetron, Ade Irwansyah, beliau pernah mengatakan demikian, “Penggemar sinetron enggak akan pernah habis. Mau apapun genrenya, pokoknya orang Indonesia itu suka sama yang berbau drama. Kalau ada yang disiksa, ada yang sedih, mereka pasti nonton,”. Maka jika demikian adanya, maka kedudukan di Indonesia selalu mendapatkan tempat dihati para penggemarnya—entah yang memang penggemar penonton garis keras, atau yang hanya iseng-iseng pindah chanel karena acara berita justru malah terkesan membosankan—persinetronan di Indonesia nyatanya masih memiliki tempat di hati para masyarakat.
            Ada beberapa perbedaan yang mencolok pada sinetron produksi tempo dulu dan produksi masa kini, baik dari segi yang sudah siap menjadi sebuah tontonan per-adegan, maupun yang masih dalam berbentuk sebuah skenario. Berikut akan penulis uraikan secara detail beberapa perbedaan dari sinetron produksi tempo dulu dan produksi masa kini:
1.      Jumlah tayangan yang menggugah minat vs tayangan rasa ‘abadi’
Mengapa saya sebutkan seperti diatas? Kalau boleh kembali untuk mengingat sinetron era 90-an, para penontonnya akan dibuat asik karena tidak setiap hari sebuah sinetron akan tayang. PH (Production House/Rumah Produksi) memiliki aturan yang berbeda pada masa itu. Mereka tidak menayangkan episode sinetron setiap hari, melainkan pada hari-hari tertentu saja. Misalnya, dalam jangka waktu seminggu sebuah sinetron tertentu hanya akan tayang pda hari Senin, Selasa, dan Jumat. Jadwal seperti ini akan memberikan keleluasaan pada pihak rumah produksi untuk mematangkan setiap episodenya, selain itu seorang penulis scenario juga punya ruang untuk bernafas untuk membuat sebuah alur cerita yang akan dimainkan untuk selanjutnya. Hal ini juga berpengaruh pada kualitas sebuah tulisan.
Berbeda dengan sinetron masa kini yang hampir setiap hari selalu tayang, dan acapkali, karena ratingnya yang tinggi, sinetron yang semula hanya berdurasi enampuluh menit per-episode digandakan menjadi berdurasi seratus duapuluh menit, hanya karena rating yang tinggi. Perhatikan, sistem stripping seperti ini terbukti tidak membuat sebuah sinetron menjadi lebih berkualitas baik dari segi penayangan maupun skenario. Sinetron menjadi sebagai alat hiduran semata dan nilai-nilai esetetika serta pesan-pesan kehidupan memudar seiring dengan lebih pentingnya rating dibanding sebuah kualitas.
2.      Kualitas Aktor
Pada era tahun 90-an, kita mengenal banyak artis-artis sinetron senior yang sudah tidak perlu diragukan lagi kemampuannya, sebut saja Rano Karno misalnya. Pada era tahun 90-an, seleksi pemain sinetron tidak hanya berdasarkan tampilan fisik belaka, namun juga bakat dan kualitas yang dimiliki dan kemampuan seorang aktris dalam memahami sebuah skenario. Dewasa kini, dunia persinetronan agaknya lebih banyak memfokuskan pada aktris yang memiliki potensi sebagai ‘tokoh impian’ para pemirsa sinetron. Akibatnya, disamping ketenaran yang sama instannya dengan keboomingan, kualitas sinetron juga dipertanyakan karena posisinya yang menempatkan pemain amatiaran bermodal ‘tampang impian’ sebagai pemeran utamanya.
            Kembali saya akan mengutip salah satu ucapan saudara Ade Irwansyah, "Kalau zaman dahulu, para artis memiliki banyak waktu untuk memahami skrip. Kalau sekarang, baru dikasih langsung disuruh action,". Secara eksplisit, sinetron Indonesia terbukti telah membentuk pola pikir masyarakat. Sinetron bergenre drama dengan alur cerita jauh dari kenyataan tetap menjadi favorit para pemirsa dari masa ke masa. Aspek cerita, penggarapan skenario yang dipaksa matang sebelum waktunya barangkali juga menjadi alasan mengapa dunia persinetronan masa kini cenderung begitu payah.
“Penggemar sinetron enggak akan pernah habis. Pokoknya orang Indonesia suka sama yang berbau drama. Kalau ada yang disiksa, ada yang sedih, mereka pasti nonton,” Ujar Ade Irawan lagi.Itu artinya, masuk akal atau tak masuk akal alur cerita jadi nomor dua. Yang penting: drama.
3.      Genre yang beragam vs Genre yang itu-itu saja
Kira-kira, kapan terakhir kali anda sebagai masyarakat Indonesia menikmati sebuah sinetron produksi Indonesia dengan genre laga atau kolosal? Pastilah telah cukup lama. Sinetron yang mengangkat tema kehidupan pada masa kerajaan memang hampir tidak pernah kita jumpai lagi di stasiun televise, dan kalaupun ada, itu pasti hanya ulangan; seperti misalnya stasiun Rajawali TV yang menayangkan ulang sinetron “Legenda Gunung Merapi” untuk mengobati rasa rindu para generasi 90-an yang barangkali tengah jengah dengan sinema-sinema yang ditawarkan hari ini. Pada era 90-an, para penikmat sinetron Indonesia akan menemukan genre-genre beragam pada setiap sinetron favorit masing-masing. Tidak hanya terpaku pada soal romansa, tema-tema juga fleksibel dan meluas, ada pula drama kolosal yang masih kental dengan kehidupan kerajaan, ada yang bertema keluarga, bahkan fantasi superhero sekelas Saraz dan Gerhana sekalipun menjadi menarik pada masanya.
 Berbeda dengan sinetron-sinetron masa kini yang terkena fenomena epigon (mengekor). Kecenderungannya seperti menjadi jika ada salah satu tema sinetron yang rilis dan menjadi booming di pasaran, maka tidak perlu menunggu sampai sinetron dengan tema yang masih fresh tersebut habis pun telah terbit sinetron-sinetron serupa—yang anehnya, juga memiliki penggandrung tersendiri. Semacam mengalami penyempitan pada saraf kreatifitasnya. Misalnya saja pada saat ini, fenomena sinetron bernafaskan kehidupan remaja yang cenderung menghadirkan gambaran kehidupan sosial akhir-akhir ini menjadi yang paling banyak diangkat temanya.
4.      Orisinal vs Saduran
Karya-karya pada masa lalu adalah karya-karya orisinil yang tertuang dari para penulis-penulis berbakat kepunyaan Indonesia, maka dari itu keseberagaman tema lebih banyak kita temui pada sinetron-sinetron terdahulu dibandingkan sinetron masa kini. Mengapa? Karena berdasarkan pengamatan penulis, semenjak era drama luar seperi drama Korea, dorama Jepang, dan telenovela Spanyol menjadi booming di Indonesia, para pihak PH kemudian mulai menyesuaikan dengan mengambil seluruh unsur dalam drama-drama luar dan di implementasikan kembali dalam versi sinetron Indonesia. Hal ini sempat menuai banyak kritik, karena hal tersebut sangat dan cenderung begitu dipaksakan.
5.      Penulis skenario idola vs yang hilang ditelan beribu episode
Singkat saja, penulis skenario namanya juga tidak kalah tenar dengan para pemain dramanya, walaupun jadinya tidak akan setenar artis utama, tetapi pada akhirnya eksistensi mereka ada minimal dalam suatu komunitas seni dan sastra misalnya. Mereka ada karena karya mereka layak dan memberi banyak sesuatu yang baru juga inspirasi, itu yang membuat mereka dikenal khalayak umum. Sementara, pernahkah penulis skenario pada masa kini terdengar namanya? Eksistensinya? Ya, mereka lenyap bersama deadline yang mencekik mereka setiap hari, tenggelam dalam ribuan episode dan keluar dengan akhir cerita yang sama sekali tidak logis dan kadang terkesan aneh. Betapa ironis.
6.      Penulis skenario yang mengembangkan vs Penulis skenario yang dikembangkan
Era persinetronan tahun 90-an melahirkan penulis-penulis skenario yang kaya akan  kreasi.  Pada masa itu para PH masih membuka lowongan sebesar-sebesarnya untuk karya kreatif yang nantinya akan mereka angkat ke layar kaca, untuk kemudian disuguhkan kepada masyarakat Indonesia. Penulis skenario pada era 90-an mengambangkan idenya untuk menembus batas-batas tingkat kretifitas yang sebuah PH ajukan. Berbeda dengan trend sinetron stripping alias kejar tayang, deadline yang rapat dan kebutuhan atas ‘kehidupan lain’masyarakat harus disuapi tiap jam prime time setiap harinya membuat posisi seorang penulis skenario menjadi seorang yang dikembangkan oleh tuntutan. Ia harus berkerja dengan batas-batas khayali indah para pemirsa atau sinetron itu akan kehilangan satu episodenya.



2.2. Perubahan Drastis, dan Dilematis Para Penulis Skenario.
                        ‘… mereka diajak untuk berada dalam wilayah antah berantah, di bawah indahnya awan biru, tempat bunga-bunga bermekaran, burung-burung bernyanyi, semua hidup tenang dan serba berkecukupan.’
Prisgunanto (2004: 241).
            Ulasan pada bagian sebelumnya setidaknya telah menjelaskan secara jelas apa yang menjadi perbedaan kontras antara sinetron tempo dulu dan sinetron masa kini. Dari hasil pengamatan penulis, faktor terbesar yang mendalangi segala perubahan yang major ini adalah kepentingan seni yang tergeser oleh kepentingan materialistis para penggiat sinetron yang lebih mementingkan rating dibanding sebuah kualitas. Segmen penonton yang terlanjur jatuh cinta dengan kehidupan mimpi yang dijual oleh sinetron masa kini juga menjadi salah satu penyebabnya.
            Pergeseran nilai ini dapat kita lihat pada saat sinetron “Dunia Tanpa Koma” yang pertama kali tayang di salah satu stasiun televise swasta Indonesia pada 9 September 2006[1] ini menceritakan tentang kehidupan seorang wartawati, Raya Maryadi—yang diperankan oleh Dian Sastrowardoyo—yang ingin terlibat dalam arus perubahan negeri melalui investigasinya yang kuat untuk membongkar jaringan narkotika nasional pimpinan Jendra Aditya—yang diperankan oleh Surya Saputra—mantan kekasihnya. Selain itu, disini juga ada kisah lain tentang kesetaraan gender, di mana Monita—yang diperankan oleh Intan Nuraini—bintang sinetron muda yang sedang tenar diperkosa oleh lawan mainnya sendiri. Dan juga disisipi kisah asmara Raya dengan Bayu—yang diperankan oleh Tora Sudiro—dan Bram, yang diperankan oleh Fauzi Baadilla. Sinetron yang memiliki aspek dan tema yang cukup menarik ini pada akhirnya terpaksa diberhentikan, alasannya lagi-lagi karena ratingnya yang memprihatinkan. Sedikit catatan, skenario “Dunia Tanpa Koma” ini ditulis oleh salah satu cerpenis sekaligus seorang sastrawati kenamaan Indonesia, yaitu Leila S. Chudori.
            Menanggapi hal diatas, penulis teringat akan sebuah ulasan yang dengan gamblang menjelaskan tentang keadaan para penulis skenario pada saat ini. Dikutip dari sesi wawancara yang juga telah dimuat dalam vice.com, beberapa penulis skenario dan penggiat produksi sinetron yang disamarkan namanya untuk stasiun televise swasta pun mengungkapkan kejujurannya mengenai situasi yang kini tengah berlangsung.
            Salah satu kru yang telah terlibat banyak dalam proses penggarapan—kita sebut saja ia sebagai Ilham—mengatakan bahwa penggarapan sinetron yang tayang hampir setiap hari sungguh membuatnya kerepotan, iya berujar, “… kalau sinetron itu ya gitu karena waktunya bayangin aja kita harus bikin satu episode satu hari, besok sehari lagi terus aja begitu tiap hari. Bayangin saja saya setahun lebih ngerjain itu setiap hari engga berhenti tanpa ada libur”. Selain itu, Ilham juga menambahkan keterangan yang cukup ironis mengingat begitu banyaknya masyarakat yang mengeluhkan kualitas dari sinetron masa kini, “Sebenarnya Indonesia tidak kekurangan penulis berkualitas, tapi kan ya itu dari permintaan stasiun televise-nya juga”
            Jadi, permasalahannya semakin jelas. Yang membuat persinetronan Indonesia turun kualitas bukan semata-mata dari penulis skenario yang alih-alih selalu dikambing-hitamkan dengan alasan skenarionya yang sama sekali tidak bermutu, tetapi ternyata pihak ekstern juga ikut andil dalam mengapa persinetronan negeri ini mengalami degradasi moral yang cukup jauh. Pun, pada salah satu perkuliahan, saya mengutip salah satu perkataan yang dilontarkan oleh salah dosen saya saat mata kuliah Pengantar Kajian Sastra II berlangsung, dosen saya bilang, “ Jangan-jangan, sinetron-sinetron yang ada di teve-teve itu juga di invasi oleh salah satu merek atau brand tertentu”, pernyataan ini dilontarkan sehubungan dengan diskusi fenomena persinetronan Indonesia yang akhir-akhir ini selalu menyajikan tema dan alur cerita yang sama (terutama yang mengekspos kegiatan bermotor anak-anak remaja yang sangat tidak logis).
            Jadi dalam konteks ini, degradasi persinetronan di Indonesia memang agaknya di dalangi justru oleh pihak-pihak yang berwenang dan mempunyai kekuasaan lebih dalam proses penggarapannya. Mereka melihat peluang berdagang mimpi dengan pintar, kehidupan yang ditawarkan oleh realita agaknya terasa membosankan dan para penggarap industri sinetron dan antek-anteknya menawarkan solusi lain bingkai hidup serba baik yang akhirnya cuma bisa disentuh dengan jadwal enampuluh menit sekali dalam sehari via layar kaca.
2.3. Bagaimana bisa kembali?
            Pertanyaan yang cukup sulit untuk dijawab mengingat fenomena tersebut masih berjalan, pun hingga detik ini. Satu-satunya harapan adalah dengan ikut andilnya dan peraturan yang ketat perihal tayangan yang lebih bermoral dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Sebenarnya memang, Indonesia hampir tidak pernah mengalami kekeringan seorang penggiat karya, hanya saja, yang lebih banyak tampil di pertelevisian Indonesia memang tayangan-tayangan yang disokong oleh media-media major sekelas stasiun televise swasta.



BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Persinetronan Indonesia telah mengalami banyak perubahan seiring perkembangan zaman, nilai-nilai estetika dan moral pun rasanya telah cukup sulit untuk dijumpai pada sinetron masa kini. Bukan hanya itu saja, hal ini juga berdampak pada kreatifitas seorang penulis scenario yang harus merasa frustasi dengan deadline yang hanya berjangka satu hari dan kemampuan berekspresinya barangkali menjadi tumpul bersebab ia tersekat oleh prinsip-prinsip tayangan yang ‘jualan mimpi’, maka dari itu rasa-rasanya perlu ada pioneer yang berani menggubah persinetronan Indonesia menjadi lebih baik lagi, baik dari segi penayangan, maupun dari segi cerita.

3.2. Saran
Sebagai warga Indonesia, ada baiknya kita juga membangun karakter dan lebih cerdas dalam memilih tontonan. Dan, perlu digarisbawahi juga, sebagai generasi muda bangsa ada baiknya kita tidak hanya sebagai orang yang selalu berkomentar tentang betapa buruknya persinetronan di negeri ini, tetapi alangkah baiknya jika kita—para generasi muda menjadi pioneer-pioner perubahan yang membawa sineas Indonesia, terutama dalam persinetronan Indonesia.




DAFTAR PUSTAKA
Kinoysan, Ari. 2013. Jadi Penulis Skenario? Gampang Kok!. Yogyakarta: Andi Publishing.


*** 
*Karya Ilmiah ini diajukan sebagai syarat tugas dari mata kuliah Bahasa Indonesia II. Selesai ditulis oleh saya sendiri pada Jumat, 7 April 207 pada pukul 20.00 wib. Kritik dan sarannya bisa dimasukan di kolom komentar mengingat ini tulisan saya seputar non fiksi yang sifatnya masih sangat anyar.
**Best Regards untuk dosen Bahasa Indonesia II yang mengusung tugas ini, selamat membaca! :)




[1] Wikipedia, diakses pada Jumat, 7 April 2017 pada pukul 10.20

Komentar

  1. SALAM ODOSH
    1. Kurangi kata kata "agaknya", menandakan bahwa penulis kurang yakin. Prnukis harus bisa membawa pembaca hanyut
    2. Terjadi pengulangan pernyataan wawancara
    3. Kalau bisa diserta tabel antar drama tahun 90 an dan era millineum. Biar tahu perbedaanya
    4. Kesimpulan blm menjawab tujuan.
    5. Cb cek jawaban tujuan dan masalah di bagian oembahasan, apakah sudah terjawab atau belum.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih bung Andi, koreksinya sangat membantu sekali. Usul, bagaimana kalau di ODOS kita hadirkan materi menulis karya ilmiah dan esai? Sangat membantu terutama untuk saya si pemula, :D

      Salam ODOS (One Day One Share)

      Hapus
  2. Dulu udah pernah essay udah. Tapi rencananya ilmiah kagi mau di bahas

    BalasHapus
  3. Balasan
    1. Wah, berarti yang pas Esai saya terlewat ya. Boleh bung Andi, sila jelaskan sistematisnya via japri saja.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

[REVIEW BUKU] Malam Terakhir, Kelam Cerah Hidup Wanita dalam Sepotong Cerita

Pada kesempatan sebelumnya, saya sudah pernah menulis esai yang mengulas salah satu cerpen dalam Malam Terakhir yang berjudul Adila dengan pendekatan pragmatik untuk salah satu tugas kuliah, nah sekarang, wa bil khusus saya akan membuat review tentang kumpulan cerpen garapan Leila S. Chudori yang berjudul "Malam Terakhir".
Well, saya pertama kali tahu dan membaca buku ini pada tahun yang sama, yep tahun 2017, kira-kira bulan Maret. Saat itu habis gajian dan seperti biasa, kebiasaan saya semenjak punya gaji *ekhem* yaitu #OneMonthOneBook, yap, satu bulan minimal saya membeli dan selesai membaca satu buku, hehe.. (Jangan lupa sedekahin sebagian gaji, Ta.. Jangan lupa tadarusan *ngomong ke diri sendiri, wkwk)
Saat memasuki Gramedia, yang ada di pikiran saya adalah mencari buku kumpulan puisi karya Aan Mansyur (lagi), karena saya ketagihan dengan cara beliau berpuisi. Tapi kok, setelah saya bolak-balik mengamati satu per satu buku yang ada di rak Sastra, saya nggak berhenti mer…

Tukang Cilok Dekat Stasiun Tidak Jualan

Tukang cilok dekat stasiun tidak jualan. Hujan masih berbekas, sore-sore basah dan banyak orang bergegas. Di pintu keluar stasiun itu tukang ojek konvensional masih seceria pagi-pagi, melambai tersenyum sambil menawarkan jasa, rintik-rintik kecil masih berlaku untuk segerombol bocah-bocah kuyup yang menyangga payung di bahu mereka, kalau jasa ojek payung mereka tidak laku, mereka akan berusaha membantu membawa tentengan orang yang berlalu lalang sebagai bentuk dari penawaran jasa mereka yang lain, di semerawut hujan dan lalu lintas ini banyak insan berjuang mengais rupiah, di tempat lain ada yang menghamburkan rupiahnya sambil menikmati hujan dan minum kopi, membuat puisi, dan barangkali masih mengenang mantan. Sedih, karena untuk beberapa hal, hujan datang untuk momentum yang sebenarnya tidak perlu diingat lagi. Tetapi yang kucari di semesta dingin ini cuma tukang cilok, kok. Tidak macam-macam. Hanya saja sore ini si abang tidak jualan, jadi aku segera kembali memasuki stasiun dan berg…

[REVIEW BUKU] Melihat Api Bekerja; Puisi Rasa Dongeng yang Lahir dari Seorang Aan

Waktu itu menjelang Ujian Nasional SMK, saya janji sama diri sendiri kalau saya nggak mau belajar apa-apa lagi terutama mata pelajaran pokok yang diujikan; Akuntansi. Saya juga berusaha keras melupakan segala apa yang tercetak dalam buku, bahasa, angka-angka, rumus, laba rugi, dan antek-anteknya. Menjelang UN otak saya harus kosong, agar pas hari H saya bebas isi kepala saya dengan pertanyaan dab kasus perusahaan manufaktur. Et, itu masa lalu, setahun kemarin, tapi memang masih berasa haha. Saya nggak bakal lupa masa-masa SMK saya, dulu saya dan teman usaha bareng jualan lumpia dan pastel dikelas, ngebangun usaha gerilya karena takut ketahuan pihak sekolah (karena waktu itu entah kenapa ada larangan khusus, padahal saya sekolah di bidang bisnis dan manajemen) tapi Alhamdulillah berhasil punya anak buah, notabene dari adik kelas yang juga butuh uang jajan tambahan. Dari situ, saya selalu punya simpenan uang, untuk kegiatan, bonus untuk beli buku yang saya mau. Keinget sebelum jualan k…