Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Rumah

rasanya tanah begitu jauh dan tinggi ketika aku berada di pundaknya,
rasanya lega sekali melihatnya kembali tepat sebelum adzan maghrib berkumandang,
tetapi kesedihannya mungkin beranak pinak ketika waktu dan umur anak gadisnya beranjak

bukankah dulu adalah aku yang melarang lelaki itu untuk menua?

aku masih ada di belakang punggungnya saban pagi, tidak bisa bayangkan jika kebiasaan itu berhenti,
dan selalu ditanyakannya apakah aku punya uang saku yang cukup?
Lelaki itu terlalu khawatir,
di bola matanya, aku selalu jadi anak kecil umur empat tahun berkuncir dua

Bagaimana mengatakannya?
Ia adalah bahasa cinta sepanjang masa,
sesuatu yang tidak perlu banyak diungkap karena sejauh apapun aku pergi, pelukannya akan selalu jadi tempat berpulang,
sebab ia adalah rumah,
dan ia adalah Ayah.


*Jakarta, November 2017

Darurat Status, Tapi Lupa 'Nyiapin' Diri

Tukang Cilok Dekat Stasiun Tidak Jualan

Tukang cilok dekat stasiun tidak jualan. Hujan masih berbekas, sore-sore basah dan banyak orang bergegas. Di pintu keluar stasiun itu tukang ojek konvensional masih seceria pagi-pagi, melambai tersenyum sambil menawarkan jasa, rintik-rintik kecil masih berlaku untuk segerombol bocah-bocah kuyup yang menyangga payung di bahu mereka, kalau jasa ojek payung mereka tidak laku, mereka akan berusaha membantu membawa tentengan orang yang berlalu lalang sebagai bentuk dari penawaran jasa mereka yang lain, di semerawut hujan dan lalu lintas ini banyak insan berjuang mengais rupiah, di tempat lain ada yang menghamburkan rupiahnya sambil menikmati hujan dan minum kopi, membuat puisi, dan barangkali masih mengenang mantan. Sedih, karena untuk beberapa hal, hujan datang untuk momentum yang sebenarnya tidak perlu diingat lagi. Tetapi yang kucari di semesta dingin ini cuma tukang cilok, kok. Tidak macam-macam. Hanya saja sore ini si abang tidak jualan, jadi aku segera kembali memasuki stasiun dan berg…

Merasa Cinta Dengan Sederhana