Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Ilmu Adalah Cahaya

Bismillahirahmanirahim..

Sesuai dengan target saya, dengan bismillahirahmanirahim, saya mulai mengisi blog saya dengan catatan hijrah juga. Nggak detail dari pertama sih, mau dibuat slice of life aja biar bacanya dan ingatnya asik, heuheu. Maka dari itu saya usahakan agar segala tulisan yang ada di blog ini dapat saya back-up dan saya berdoa agar kelak anak cucu saya bisa ngintip blog moyangnya. Jadi pas baca-baca mereka bakal inget gitu, ehhhh si mimih teh waktu mudana kitu, geulis..... Geulis? Iya saya geulis, kata budhe pecel langganan di sekolah dulu, katanya saya geulis, apalagi kalau budhenya nggak lagi pakai kacamata.
Okhay, memulai dari dua pekan terakhir aja.
Mentoring saya mengalami pergantian murabbi lagi, karena kak Anis--murabbi sebelumnya--sedang dalam kondisi mengandung si Utun yang usianya telah menginjak bulan ketujuh, otomatis aktivitas beliau dikurangi banyak terutama ngurusin kami para menti-mentinya yang bengal. (Nggak sih, yang bengal gue doang sebenarnya..). Sa…

Melarikan Diri

Melarikan diri,
membenahi anak kecil yang berantakan dalam dirimu,
mencari-cari bocah linglung yang mengunci senyap dalam diriku

Setiap hari Sabtu aku rindu Ambu
setiap hari milikmu sama berlalu

Kau tahu, di Jakarta jarang turun hujan
yang ada cuma mendung dan rindu yang deras, di dadaku

rintik-rintik hening
hening rintik-rintik
mendung mengambang
mengambang genangan
mengambang kenangan...

Melarikan diri, dari, sunyi...
Kita adalah kau dan aku dalam pergantian malam menuju pagi
Dini hari itu, kita benahi anak kecil yang berantakan dalam diri kita







*Gelap kamar, 26 Juli 2017, 00.12

[REVIEW BUKU] Melihat Api Bekerja; Puisi Rasa Dongeng yang Lahir dari Seorang Aan

Waktu itu menjelang Ujian Nasional SMK, saya janji sama diri sendiri kalau saya nggak mau belajar apa-apa lagi terutama mata pelajaran pokok yang diujikan; Akuntansi. Saya juga berusaha keras melupakan segala apa yang tercetak dalam buku, bahasa, angka-angka, rumus, laba rugi, dan antek-anteknya. Menjelang UN otak saya harus kosong, agar pas hari H saya bebas isi kepala saya dengan pertanyaan dab kasus perusahaan manufaktur. Et, itu masa lalu, setahun kemarin, tapi memang masih berasa haha. Saya nggak bakal lupa masa-masa SMK saya, dulu saya dan teman usaha bareng jualan lumpia dan pastel dikelas, ngebangun usaha gerilya karena takut ketahuan pihak sekolah (karena waktu itu entah kenapa ada larangan khusus, padahal saya sekolah di bidang bisnis dan manajemen) tapi Alhamdulillah berhasil punya anak buah, notabene dari adik kelas yang juga butuh uang jajan tambahan. Dari situ, saya selalu punya simpenan uang, untuk kegiatan, bonus untuk beli buku yang saya mau. Keinget sebelum jualan k…

Tanggal Saat Kamu Pergi Tanpa Pamit; Buku Karangan Edgar Alan Foe yang Belum Kuterima

Untuk sahabat, abang, kawan terbaik dalam berdiskusi dan belajar puisi. Hingga detik ini, aku masih lebih percaya bahwa semester depan aku akan menemukanmu tidur sembarangan di sudut koridor dengan wajah yang tertutup buku yang baru kau beli. Angga Bachtiar, maafkan aku karena hidup ini akan terus berjalan.
*

Semuanya akan baik-baik saja, Angga mungkin sepekan sekali kau akan menyeleksi puisi terbaikmu untuk kamudian kau publikasi di instagram Aksara-aksara nakal yang kaya makna, kadang suka nyinyir dan aku suka membacanya
Setiap hari Sabtu akan terasa sama, Angga kau akan datang lebih pagi dan tidur sembarangan di sudut koridor sambil menutupi wajahmu dengan koleksi bukumu yang baru
Dan kebiasaan kita berdebat soal puisi, juga teman sebelah bangkumu yang lebih hobi membaca komik strip hadiah dari ciki gopean..
Aku dan kau akan selalu begitu, Angga bertukar buku bacaan berkompetisi dengan banyaknya jumlah buku Sok menjadi orang nomor satu dan mengaku-ngaku saat dosen tampan andalanku me…

[REVIEW BUKU] Malam Terakhir, Kelam Cerah Hidup Wanita dalam Sepotong Cerita

Pada kesempatan sebelumnya, saya sudah pernah menulis esai yang mengulas salah satu cerpen dalam Malam Terakhir yang berjudul Adila dengan pendekatan pragmatik untuk salah satu tugas kuliah, nah sekarang, wa bil khusus saya akan membuat review tentang kumpulan cerpen garapan Leila S. Chudori yang berjudul "Malam Terakhir".
Well, saya pertama kali tahu dan membaca buku ini pada tahun yang sama, yep tahun 2017, kira-kira bulan Maret. Saat itu habis gajian dan seperti biasa, kebiasaan saya semenjak punya gaji *ekhem* yaitu #OneMonthOneBook, yap, satu bulan minimal saya membeli dan selesai membaca satu buku, hehe.. (Jangan lupa sedekahin sebagian gaji, Ta.. Jangan lupa tadarusan *ngomong ke diri sendiri, wkwk)
Saat memasuki Gramedia, yang ada di pikiran saya adalah mencari buku kumpulan puisi karya Aan Mansyur (lagi), karena saya ketagihan dengan cara beliau berpuisi. Tapi kok, setelah saya bolak-balik mengamati satu per satu buku yang ada di rak Sastra, saya nggak berhenti mer…

[REVIEW BUKU] 1Q84 Jilid 1, Sebuah Prolog Panjang Menuju Dunia Pararel

Akhir-akhir ini saya sedang tertarik untuk membaca karya-karya dari para penulis Jepang, entah mengapa. Tetapi rasanya saya terpikir begitu setelah sekian lama saya banyak menonton anime keluaran studio Ghibli yang ceritanya lain dari pada yang lain. (Bisa search sendiri ya nanti, hehehe), kebetulan saya memang penikmat anime dan manga Jepang sejak duduk di bangku SMK, dua semester menjadi mahasiswi Sastra Indonesia saat ini, saya beralih menuju karya literasinya.

Yang pertama dan selalu saya dengar namanya adalah Haruki Murakami, seorang novelis senior yang telah banyak melahirkan karya fenomenal. Saya banyak mendengar namanya disebut-sebut, entah oleh komunitas kepenulisan yang saya ikuti, teman satu hobby nonton anime di grup sebelah, dari dosen saya yang sedang menjelaskan di depan kelas, dan masih banyak lagi. Singkat cerita, saya kepo sampai akhirnya saya searching tentang Haruki Murakami, dan pilihan pertama saya jatuh kepada karyanya yang berjudul 1Q84, (Well, lebih banyak pe…

Kolase Stasiun; Sebuah Perjalanan Rutin

Hujan itu turun dengan lamban.
Rintik-rintik tertiup angin, pukul enam pagi yang tanpa payung diatas kepala, tanpa juga kopi hitam hangat sebagai pembuka awal mula, saya berangkat. Oya, dulu, saat masih menjadi siswi SMK saya selalu berdoa dan bermimpi agar jika saya pada akhirnya ditakdirkan untuk berkerja, saya ingin berkerja di tempat yang jaraknya jauh dari rumah.
Kalau Tebet - Duri Kepa itu jauh atau lumayan? Haha. Intinya, saya merasa doa saya waktu di dikabulkan oleh Allah, dan Alhamdulillah, selain jauh, pekerjaannya juga berkah dan moga bisa mengembangkan potensi diri saya.
Setiap perjalanan punya keunikan dan cerita masing-masing, saat itu saya masih baru menjadi pengguna commuter line, naik dari Stasiun Pesing, transit Duri dan melanjutkan dengan KA jurusan Depok - Bogor - Nambo, untuk kemudian turun di Stasiun Tebet. Kantor saya tidak jauh dari stasiun, dan hal yang sampai saat ini selalu saya syukuri adalah; setiap keluar stasiun, rasanya seperti pasar. Jadi saya nggak k…

Mencela Sabtu

Kehampaan seperti apa yang sontak menyergapmu?
Seperti kau membenci dan mendambakan sepi secara bersamaan
Ingin memilih senyap sekaligus menghindarinya
Beberapa orang bertingkah bodoh,
rasanya ingin sekali membuangnya ke lain dunia
Rindu-rindu tak terlunasi,
berlalu begitu saja untuk kemudian berbalik arah dan menatap matamu dengan sengaja,
siang bolong dan hatimu kosong
Dunia ini kan bukan milikmu, nak.
Segalanya tidak harus berjalan sesuai apa maumu, seenak jidadmu. Kau ini cuma gelas kosong, nak.
Pun pongah dan egois, hanya akan membuatmu tersungkur di kubangan yang sama.

*Pamulang, 03 Juni 2017, terlampau pagi (lagi).

Merumahkan Rindu

Merumahkan rindu,
membungkamnya agar berhenti berpuisi,
menjadikannya tamu di tempat lain,
karena, tidak ada cukup nyali untuk membuat rindu berpulang kepada pemiliknya

Merumahkan rindu,
membuatnya berhenti bertanya kapan ia akan dikebumikan pada senyuman yang teduh itu..
Dan, jangan lagi ada senyap-senyap kejap yang menagih dengan menghadirkan jauh sinar di wajahnya

Merumahkan rasa rindu,
mengantarnya pulang dengan lapang dada,
pada koridor-koridor di lantai tiga yang sendu, seorang pria dengan setelan hitam necis menerimanya dengan senyum tersipu *Pamulang, 19/05/17

Cuma

Kau berjalan, di lengang malam
Tiada satu, atau dua kau temui
Hidupmu adalah senar-senar gitar
Bertautan, kau bermelodi

Nyanyikan aku, wahai
lagu yang menceritakan tentang kisah-kisah terdahulu
Di beranda rumahku, saat Ayah tiada di rumah

Melesatlah ribuan panah, wahai
Jarak tak beranjak
Rindu yang beranak pinak
dan cinta ini bukan sekedar cuma...


*Ka Ha, lupa tanggal. Puisi ini diterbitkan bersama beberapa puisi lainnya dalam antologi Love Line yang diterbitkan oleh penerbit Ellunar pada tahun 2017 :), selamat jatuh cinta.












Pastinya Ketidakpastian

"Pasti",
barangkali menyihir alam bawah sadar kita, bahwasannya segala yang diharapkan akan terjadi, segalanya hanya soal waktuNamun di sanalah, di waktu
Pasti-pasti itu berkelindan dengan sejuta ketidakpastian, dan kita lalai, atau jangan-jangan menutup mataDunia itu, diri kita sendiri
barangkali perlu antisipasi
nasehati diri sendiri
Tentang ketidakpastian yang pasti, atau pastinya sebuah ketidakpastianMaka hari ini aku hanya menjalani, tanpa berpikir kemungkinan pastinya ketidakpastian, atau ketidakpastian yang pasti
Dua kalimat yang dibolak-balik itu membuat kau berpikir, "Sudahlah."19/04/2017

Mimpimu, Ibu

Hujan, kau ingatkan aku.. Tentang, satu rindu.. Dimasa yang lalu.. Saat mimpi masih indah bersamamu.. (Opick ft. Amanda- Satu Rindu) * Ibuku selalu senang bercerita. Ya, ia bercerita tentang apa saja. Ia bercerita tentang betapa menggemaskannya anak-anak di PAUD tempat ia mengajar, ia bercerita tentang mesin jahitnya yang sering ngadat, ia bercerita tentang kegiatan ibu-ibu PKK yang terkadang membosankan, ia bercerita tentang arisannya bersama ibu-ibu yang lain, ia bercerita soal penggerebekan rental Playstation di daerah tempat dulu kami pernah tinggal. Ibuku selalu bercerita, ia suka bercerita dan selalu membagi ceritanya. Menyenangkan mendengarnya, mengetahui banyak sesuatu yang tidak sempat untuk aku ketahui. Setidaknya, dengan mendengarnya bercerita tentang apa saja, aku punya alasan untuk melepaskan perasaan dan urusanku pribadi, dan aku akan selalu ada untuk Ibuku tercinta. Namun, akhir-akhir ini Ibuku terlihat.. menyebalkan. Ya, seberapa besar rasa sayang seseorang kepada orang lai…

[ Re-post Cerpen ] Ketika Nitrogen Tenggelam dalam Asam Sulfat

Notes ada di depan sebelum melanjutkan membaca cerpen ini. Jadi, saya abis iseng ganti-ganti template yang pada akhirnya berujung unfaedah, karena saya enggak' menemukan template baru yang sesuai keinginan. Saya bongkar-bongkar isi blog ini, dan menemukan post lama yang berasal dari tahun 2012. Itu artinya, umur saya kala itu adalah 14 tahun, dan semestinya tengah duduk di bangku kelas 2 SMP. Saya ngakak menemukan cerpen ini, selain karena tampilannya yang berantakan, saat itu juga saya bukan anak IPA yang dengan entengnya dapat memberi judul cerpen ini 'Nitrogen yang Tenggelam Dalam Asam Sulfat' tanpa tahu reaksi yang sebenarnya akan terjadi, hahaha.. Dan, menurut pengamatan saya, sejauh saya menulis cerpen yang rada absurd ini, cerpen ini cukup banyak mendulang apresiasi, baik itu dari orang-orang bernama maupun mereka yang anonim. Jadi disinilah, cerpen ini saya post ulang, saya sama sekali tidak mengubah bahasa dan alur cerita, hanya merapihkan sedikit tatanannya agar…