Sekumpulan romansa, mimpi, dan perjalanan


Bismillahirahmanirahim..
            Murobbi…
            Hmm, apa yang terlintas saat mendengar kata ini? Seorang kakak? Pembimbing? Ngaji bareng? Ngelingker bareng? Ah, apa, sih?  Kepooo… Haha…
            Saat memutuskan untuk masuk Rohis 17 sewaktu SMK, aku sama sekali buta soal dunia dakwah. Pernah menjadi bagian Rohis sewaktu SMP, tapi masih ugal-ugalan, alias nggak punya pengetahuan dan modal apa-apa tentang itu. Ketika berada di Rohis 17, kakak yang pertama kali aku temukan adalah kak Rohimah, kakak ini suka dipanggil Oim sama teman-temannya. Pembawaannya kalem, anggun, perempuan banget. Saat masa ospek berakhir juga kak Oim dapat predikat sebagai kakak terbaik, katanya sudah dua tahun berturut-turut. Jadi segan sama kak Oim, tapi disini ternyata aku juga banyak bertemu kakak-kakak yang lain; kak Risma yang sekarang jarang banget kontak, suka komen statusnya di fb, tapi kok komen Lyta jarang dibales yak?—Wkwkwkwk, abaikan—kak Rini, kakak yang manis, yang akhir-akhir ini selalu bilang kangen, kak Nurdya, kak Endah, kak Dina, kak Elis, kak Muliaranisa, mungkin masih banyak lagi.
            Berada di Rohis membuat diri ini hijrah, Alhamdulillah.. perjalanan jiwa dari yang reyot menjadi memiliki pondasi, walaupun pondasi itu harus selalu dikukuhkan, atau tidak akan rusak dengan sendirinya. Awal masuk di Rohis, terasa banget kebersamaan saat syuro pertamakali, satu ruangan penuh, meskipun belum mengerti apa-apa, di satu atap itu seperti terbentuk keluarga baru. Keluarga yang sama-sama berjuang di jalan Allah, saling ajar-mengajarkan. Suka, seneng setiap ada syuro, selalu antusias setiap ditunjuk jadi Sekertaris ataupun Sie. Acara—ya, setiap ada acara apapun yang Rohis handel, aku nggak jauh-jauh dari dua posisi itu, nggak tahu kenapa—ngomong-ngomong syuro, kapan lagi ya bisa jadi bagian dari Syuro? Heheh, maklum udah lulus, moga masih ada kesempatan. Aamiin…
            Dan disana aku menemukan mentoring. Awalnya ikut-ikut aja, karena memang belum terlalu mengerti. Ada disana bersama kak Rini sebagai Murobbi, ada Pratiwi, Aida, Abkar… Btw lupa siapa aja yang waktu itu jadi menti-mentinya, karena waktu Murobbinya dipegang kak Rini, posisi aku waktu itu masih kelas 10 alias masih baru banget. Pertamakali ngikut mentoring, inget banget kak Rini nyuruh kita bikin surat cinta buat temen disamping kita, aku bikin surat buat Aida—najong banget dapet surat dari Aida ada cap bibirnya, ewh—tuker-tukeran surat cinta kepada teman yang notabenenya temenan sebulan aja belum. Materi yang pertamakali dikasih kak Rini waktu itu Marifatullah, dan layaknya seseorang yang emang baru adaptasi sama lingkungan baru, setiap kak Rini nyelesain materi dan bilang, “Ada yang mau ditanyain?” kita Cuma bisa liat-liatan sambil senyum-senyum, senggol-senggolan—alay banget emang—bisik-bisik nggak jelas, ya maklum masih malu. Tapi pas udah kenal jadi malu-maluin, wkwk—nggak kok, boong—mungkin itu terkadang.
            Masih bersama kak Rini, materinya juga selalu ganti-ganti setiap minggu, kadang mentoring gabungan, kadang kita main games, kadang cuma curhat-curahatan. Yang dengan intesitas bertemu itu, kak Rini pelan-pelan menjadi sosok ‘kakak’, itu buat aku pribadi, nggak tahu kalau yang lain. Mentoring membawa banyak dampak dan perubahan, ketambah lagi sama keputrian—yang meskipun kadang-kadang banyak yang males ikut, mereka sebenarnya rugi karena kalau di ikutin dengan baik, ilmu dari keputrian itu banyak—dan nggak ngebosenin.
            Benar kalau diawal-awal masuk Rohis kakak-kakaknya bilang kalau mentoring itu jantungnya Rohis, ruqyah kita terpegang disana. Sayang, jalannya emang nggak semulus jalalan yang baru diaspal. Ada aja emang rintangannya, mulai dari teman-teman yang nggak istiqomah, jangankan teman-teman, kadang suka kepalang heran sama kakak kelas yang ngakunya Rohis tapi cuma muncul pada saat-saat tertentu aja. Waktu itu cuma bisa mikir kenapa? Kenapa mereka kok gini, kok gitu, kan Rohis? Tapi ya sudahlah, setiap orang punya jalan yang selalu bisa mereka pilih untuk ditempuh. Dan ya, hidayah itu cuma Allah yang bisa kasih, mahal banget emang harganya, makanya jangan pernah sia-siain hidayah yang kita punya.
            Terlepas dari itu semua dan balik lagi ke mentoring. Naik ke kelas dua, mentoring kita di rombak. Ganti murobbi, sempat sama ka Risma untuk beberapa waktu dan itu nggak lama. Tahu rasanya orang yang udah kebiasaan mentoring tiba-tiba kosong untuk berbulan-bulan? Subhanallah… haus. Haus tarbiyah, haus ilmu, kehilangan sosok kakak yang biasanya suka ngedengerin—ngejajanin, haha. Tapi serius, nggak mentoring berbulan-bulan lamanya itu membawa dampak yang…. Ah, males nulisnya.
            Banyak yang futur. Nggak terkecuali aku, aku pernah. Mungkin kalau di depan orang banyak, kefuturan seseorang nggak akan terlalu terlihat, tapi kita nggak pernah tahu ketika seseorang itu tengah sendiri?
            Pas lagi tahsin, sensei Eki pernah ngebahas soal iman dan beliau bilang, “Iman seseorang itu diuji ketika ia sedang sendiri, bukan saat ia sedang ramai-ramai. Emangnya nih, kita lagi tahsin gini, terus Rolyta izin; ‘Kak, saya bawa pacar saya tahsin ya kak?’
            Ngakak.
            Tapi bener, mentoring itu penting. Setelah beberapa kali ganti-ganti Murobbi, mulai dari ka Rini yang tiba-tiba pamit kaya lagunya Tulus, ka Risma yang akhirnya lepas sama sekali, kemudian ka Fathima yang sampai sekarang nggak kedengeran kabarnya, lalu yang terakhir kak Ani yang sulit banget buat kita maupun beliau untuk bagi-bagi waktu.
Tapi setelah perpindahan melelahkan itu—yaelah, melelahkan, lari-lari kaga—kita akhirnya dipertemukan oleh sosok menginspirasi ini, posisinya sih bukan Murobbi, tapi guru tahsin, namanya Mochammad Mulkiyat Muttaqien, dipanggilnya kak Eki—by the way, iya.. Namanya panjang banget, dipanggilnya singkat banget—Gomenasai sensei! *Nggak maksud ngeledek, hehe…*
            Alhamdulillah Allah masih kasih kita kak Eki, kalau seandainya Allah nggak menghendaki kak Eki untuk ada di Rohis 17 sampai hari ini, entah… Entah deh kak, saya juga nggak berani ngebayangin. Karena jujur, ada kakak yang berpengaruh aja pondasi kita kokoh tapi rapuh. Ya, setidaknya itu yang aku lihat, dan aku rasa. Semoga aku salah…
            Ketika hari berganti bulan dan bulan berganti bintang—bukan, maksudnya bulan berganti tahun. Islah meminta beberapa dari kita—aku sama teman-teman yang waktu itu posisinya sudah jadi kelas duabelas—untuk kumpul. Singkatnya, padatnya, kaget deh ketika ditunjuk dan dipercaya untuk menjadi Murobbi.
            Karena… Karena sumpah, masih merasa diri ini kurang banget; dari segi ilmu, juga akhlak mungkin. Dan karena menurutku menjadi seorang Murobbi berarti juga mengemban amanah, jadi panutan menti-menti kita nanti. Orang lain boleh ngganggap ini enteng, orang lain boleh nganggap ini biasa aja, orang lain boleh anggap aku lebay, tapi serius dah, bingung waktu itu. Kenapa? Kenapa gue? Emang pantes apa?
            Tapi nyadar juga lama-lama, bertanya terus malah nggak ada gunanya. Mungkin ditunjuk sebagai Murobbi adalah sinyal dari Allah untuk terus memperbaiki diri dan sebisa mungkin menjaga iman agar naik turunnya nggak terlalu sering. Menjadi lebih baik, memperbaiki akhlak dan mulai punya kebiasaan yang positif—Iya, dulu waktu SMP kegiatan gue ngisengin orang sama sikul, wkwk.. Masih kanak-kanak—jadi ya, mencoba menjalani.
            Awalnya sempat nggak percaya diri, down kenapa harus menjadi Murobbi. Karena saat acara pengelompokan, nama-nama yang disebut mendapat jatah Murobbi seorang Rolyta pada ngeluh, “Yahhh… kok nggak sama kakak itu?”
            Serius, mereka—mungkin semua akhwat kelas sepuluh yang ada disana—berharap mendapat Murobbi salah satu teman aku yang memang cukup popular, cantik, dan memang baik orangnya. Tapi kalau sampai disitu saja gentar, bagaimana kedepannya? Jadi yang lalu itu bukan masalah, sekarang adalah tentang bagaimana bertanggung jawab atas amanah ini dan menjalankannya dengan baik. Aku pernah ngerasain jadi menti terlantar, tahu bagaimana dampak yang ada karena ketiadaan mentoring, jadi nggak ada niat ngulangin ketidaknyamanan yang sama, satu-satunya cara adalah menjadi seorang Murobbi yang terus belajar dan saling berbagi, jadi kakak yang baik, dan ya, tetap menjadi teman yang baik juga. Semuanya sedang dalam proses, tahap usaha.
            Sudah berlalu lima bulan kurang lebih, Alhamdulillah… Masih bisa mentoring bareng Anggi, Putri, Esti sama Rahma. Kadang-kadang mentoring gabungan juga, yang paling sering nimbrung di halaqah aku biasanya Maudy, Tata, sama Layla. Waktu itu sempet kaget karena di salah satu halaqah beberapa anak kelas sepuluh yang notabenenya bukan anak Rohis pada mau ikut mentoring bareng, akhirnya kita ngomongin tentang Manajemen Cinta yang waktu itu udah pernah di sampein juga sama Sensei Eki. Tahu gimana, kan, remaja putri umur 16 keatas kalau di ajak ngomong cinta? Iya, getol bener. Tapi Alhamdulillah bisa diajak masuk ke materi, ya meskipun pas sesi tanya-jawab ada yang nyolong buat curhat, wkwkwk.. Inget banget yang itu.
            Meskipun begitu, sadar diri ini masih perlu banyak belajar. Kalau nggak ada halangan sebisa mungkin pengen mentoring sama kak Ani, buat aku nggak masalah yang dateng berapa, yang penting mentoring jalan. Kadang memang susah sih ngelawan rasa males, setan itu pinter bener emang ngehasut anak adam. Anak Adam juga emang pinter bener dah kalo nyari-nyari alasan, katanya hamasah, kok disuruh ngelakuin kebaikan masih suka mendesah? *Eaa, abaikan..
            Masih punya cita-cita untuk Rohis 17 untuk selalu bangun setiap saat. Dakwah di sekolah, minimal ngajakin temen-temen tadarus, sama shalat kalau waktunya sudah tiba. Syukur-syukur bisa jadi pribadi yang berpengaruh buat orang banyak, berpengaruh dalam kebaikan, bisa jadi panutan. Sekarang bentar lagi jadi alumni, udah nggak bisa control dari dekat lagi, mungkin support dari jauh bisa. Jangan sampai di sekolah pak Casnoto berulang kali bilang, “Rohis, ayo bangun Rohis.. Jangan tidur!”
Untuk diri sendiri, selalu berharap tarbiyah ini terjaga, plan setelah ini mau jadi bagian dari GSM-Qu, semoga masih ada waktu, minimal bantu pembangunannya.. Aamiin..
            Sama satu, mau masuk rumah Qur’an, belajar tahsin lagi. Dakwah di lingkungan sendiri, orang-orang terdekat, itu impian banget. Hapal Al Qur’an, siapa yang nggak mau? Semuanya sedang berjalan pelan-pelan, cita-cita akhirat yang berdampingan dengan cita-cita duniawi.
            Dan aku akan terus berlari, berharap untuk tidak pernah jatuh.
            Kalau jatuh, biar Soon Jong Ki yang bantuin bangun dan ngiket tali sepatu aku, Hahahahak! Nggak ding.. Kalaupun nantinya akan ada jatuh, aku yakin jatuhnya pasti karena Allah memang berkehendak begitu untuk suatu alasan, Insya Allah, nanti Allah juga yang bantu bangkit. La tahzan innallaha ma ana…

*Jakarta, 23 April 2016 15.29

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

| Designed by Colorlib