Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

Kisah Tak Kemana

Pergi
Kemana angin membawa sebuah awal bermula
Ke tempat dimana kisah ini tidak kemana-mana
Dibawah biru muda, dikemas sekeranjang doa

Titik-titik kecil bersinar, ramai, memukau
Sebentuk senyum menggantung
Seseorang tidak akan pernah bosan untuk mengatakan bahwa sabit itu akan selalu mejadi kesayangannya
Disetiap gelap
Disaat-saat surya lelah dan lelap

Jangan coba-coba tanya malaikat tentang mengapa
Kisah ini tidak kemana-mana
Isyarat ini ambigu yang sulit sekali dipahami
Semangat yang runtuh dan semangat yang kokoh
Dijeda biru muda, dalam diam, selalu ada tanya...

Mengapa?
Kisah ini tidak kemana-mana
Hanya berjalan jauh
Jauh, jauh sampai entah bermuara dimana
Atau mungkin biru muda itu memang tidak pernah ada

Karena bagi titik-titik kecil yang jauh disana
Kisah ini hanya fiksi ihwal rasa yang jadi warna
Anak cucu Adam yang lemah dan dikelabui
Hari
Atau mungkin juga hati..




.. Tetapi mungkin satu hal yang akhirnya diketahui

Bahwa merelakan adalah jawaban tepat yang tidak bisa diganggu…

Alhamdulillah, LULUS!

Alhamdulillah...
       Puji syukur deh pokoknya sama Allah, setelah tertatih-tatih menelusuri jurusan yang mau enggak mau harus gue cinta, setelah susah payah ngejar nilai pajak dan pak Manernya, setelah semua ini... Akhirnya...
Penantian tiga tahun, semoga kelulusan diri ini menjadi kelulusan yang barokah...




         Semoga juga lulusnya diri ini membawa banyak manfaat buat kedepannya, hasil UN-nya masih nunggu tanggal 10, dan semoga hasilnya juga memuaskan. Aamiin.. Btw, beda ya sensasinya dapet surat kelulusan lewat selembar kertas vs kelulusan liat di website. Degdegan sih, tapi pas liat... biasa aja. Beda heboh pokoknya, enggak tahu kenapa. Tapi sekali lagi Alhamdulillah.. perasaan baru kemarin TPA, hari ini udah lulus SMK..

         Sejuta plan yang semoga nggak cuma jadi 'mimpi' masih nunggu dibelakang, minta direalisasiin. Lembar hidup selanjutnya dibuka. Bismillahirahmanirahim, Innallaha ma Ana, ayo mulai!

Haja-Haja; Keping Antah Berantah!

Hijrah yang Tertatih

Terhenti langkah kaki
Saat memutuskan untuk memijak jalan yang lurus ini
Jalan yang Maha Cinta Ridhoi
Temaram menjelang cahaya, sejukkan hati, kembali kepada Ilahi

Adakah Hidayah, bersemayam dalam diri?
Lembar demi lembar yang tertulis rapi
Jadi catatan perubahan diri
Seorang hamba yang mengabdi....

Bukan hitungan tahun, tidak juga dekade
Tapi selamanya...

Ada pohon iman yang terus kusirami
Biar nanti berbuah ranum, manis...
Sekeranjang berkah yang selalu ingin kubagi untukmu
Meski terkadang rindang di pohon itu layu
Meski kulihat hijau di daun begitu rapuh

Namun izinkan aku untuk tetap menghidupkannya
Dijalan hijrah ini, meski aku harus tertatih
Yang buatku sedih bukan saat menyadari diri ini sendiri
Tetapi bila melihat engkau kawanku, melangkah dan enggan searah lagi...

Jadi..

Aku berjalan, melanjutkan langkah kaki
Memutuskan untuk memijak jalan yang lurus ini
Jalan yang Maha Cinta Ridhoi...
Ingin mengulurkan tangan yang tidak seberapa suci
... Kembali

Yang buatku sedih bukan saat …

Rebah...

Rebah, dipunggung bulan yang purnama
Samudramu pasang menerkam malam, menelan sepi, meremukkan senyap
Sinar-sinar menjelma nyanyian, apakah itu bintang?
Atau hanya ilusi semata, agar kamu sedikit merasa tenang?

Di persimpangan hati, namamu memudar pelan-pelan
Kamu juga boleh melupakan segala rupa isyarat, biar hampa dan jangan diungkit jadi kenangan
Bukannya ingin melupakan, tetapi....
Ada ragu, diantara ketiadaan
Ada semu, yang sama-sama tidak dapat diungkap lewat sebuah ucapan

Jadi mengapa kita seperti tidak memiliki bahasa untuk dimengerti
 Dimengerti bahwa serupa rasa sialan ini seharusnya sama-sama kita tahu
Atau memang sebenarnya kita mahluk Tuhan yang bisu
Hanya karena tak lagi menatap sepasang mata semuanya jadi ambigu

Tolong...
Ajarkan aku untuk tidak lagi membersamainya dengan senyum itu
Atau beritahu aku rahasia untuk melenyapkan kamu bersama samudramu

Termanggu, disisi bulan yang purnama
Samudraku pasang menerkam rindu, menelan sakit, dan melenyapkan hampa
Jejak-jejak kak…

Sepaket

Pertemuan adalah sepaket kebahagiaan dengan duka yang tersembunyi... Bagaimana tidak, perpisahan sejak lama ada disana, tidak untuk diperhatikan, ia akan dibuka jika waktu telah menghendakinya untuk berperan.
Hai, tidak ada yang dapat memutar balik waktu.  Aku? Aku cuma bisa memutar-mutar jam dinding, itupun jika engkau berkenan aku melakukannya. Jadi yang tersisa tinggal rindu, sayang sekali aku tidak begitu mampu mengucapkannya kepadamu.  Karena mengucap rindu tidak semudah saat aku membuatmu marah, saat aku berubah menjadi mahluk yang menyebalkan, atau di waktu-waktu kita merasa jadi satu dan semuanya adalah kebahagiaan. Tetapi aku masih memiliki doa, apakah ia mencapaimu? Apakah kau bisa merasakannya? 
....

Menjadi Murobbi

Bismillahirahmanirahim.. Murobbi… Hmm, apa yang terlintas saat mendengar kata ini? Seorang kakak? Pembimbing? Ngaji bareng? Ngelingker bareng? Ah, apa, sih? Kepooo… Haha… Saat memutuskan untuk masuk Rohis 17 sewaktu SMK, aku sama sekali buta soal dunia dakwah. Pernah menjadi bagian Rohis sewaktu SMP, tapi masih ugal-ugalan, alias nggak punya pengetahuan dan modal apa-apa tentang itu. Ketika berada di Rohis 17, kakak yang pertama kali aku temukan adalah kak Rohimah, kakak ini suka dipanggil Oim sama teman-temannya. Pembawaannya kalem, anggun, perempuan banget. Saat masa ospek berakhir juga kak Oim dapat predikat sebagai kakak terbaik, katanya sudah dua tahun berturut-turut. Jadi segan sama kak Oim, tapi disini ternyata aku juga banyak bertemu kakak-kakak yang lain; kak Risma yang sekarang jarang banget kontak, suka komen statusnya di fb, tapi kok komen Lyta jarang dibales yak?—Wkwkwkwk, abaikan—kak Rini, kakak yang manis, yang akhir-akhir ini selalu bilang kangen, kak Nurdya, kak Endah, k…

Memoar... Cuap-cuap tiga tahun bersama