Sekumpulan romansa, mimpi, dan perjalanan

Jadi waktu ada cerpen saya yang goal dengan genre Romance Comedy, saya mulai coba-coba lagi bikin. Yang ini short, lebih ke absurd mungkin? wkwkwk.. Tapi teteup, usaha.. Iseng shart lah, udah lama juga nggak nge blog. Maaf, banyak kurangnya..


Here we go!


---------------------------------------------------------------------------------------------------------------



            Kata mama, gue masih kecil. Iya, beliau selalu kasih gue wejangan setiap habis makan bersama. Gue, semenjak naik kelas 3 SMP bahkan hapal mati wejangan logat jawa mama yang selalu menasehati gue dengan bunyi seperti, "Nduk, kamu belajar sing bener, yo. Ora usah pacaran dulu, biar nilai-nilaimu bagus"
             Atau kakak perempuan gue yang siriknya minta ampun. Meskipun gue sayang sama dia, ada satu hal yang membuat gue gondok setiap kali dia bilang, "Nandaru, kamu itu bukannya belajar malah sms-an nggak jelas! Ma.. Nandaru pacaran, nih, Ma!"
            Dan ketika mama mendengar teriakan itu, mama gue akan menghampiri gue dan memberikan wejangan yang sama seperti yang diatas.
             Bete banget.
             Gue setuju sama lagunya Nikka Kosta yang berjudul 'My First Love'. Dimana, salah satu lirik itu sedikit banyak punya arti buat gue, bunyinya..
            They all say im not the same, kid a us to be..
             Iya, artinya jangan buang sampah di kali ciliwung. Bukan, bukan.. Artinya, mereka berpikir bahwa kita masih terlalu kecil untuk jatuh cinta. Kurang lebih seperti itu.
             Parah abis.
             "Keluarga gue emang kolot banget kayaknya.." cerita gue, kepada Atari, sahabat gue.
             Atari, dia adalah cowok yang lumayan ganteng, dia sabuk hitam di taekwondo, dia selalu naro duit di sepatunya. Tapi belakangan yang gue tahu, duitnya yang dia taro di sepatunya lenyap! Seratus ribu, men! Kemudian akhir-akhir ini gue tahu, sepatunya itu jebol. Kasian, ngenes banget dia.
             Meski begitu, Atari ini sahabat gue. Dia mengerti banyak tentang gue. Terutama, tentang seseorang yang kali ini sedang gue taksir. Namanya Mia. Dia adalah orang yang sederhana dan sangat bersahabat.
             "Hmm, susah juga. Jadi kapan lo mau nembak Mia?" tanyanya, to the point.
             "Nggak, gue nggak berani"
             "Lho, kenapa? Kalian selama ini udah deket banget!"
             "Justru itu…."
             "Justru kenapa?"
            "Justru karena kita deket banget, gue jadi nggak tahu mana bedanya perhatian ke teman, atau perhatian yang mengandung perasaan"
             Atari hanya ber-hmm dengan takjim.
             Iya, gue memang sudah dekat banget dengan Mia. Kami satu angkatan, meski gue dan dia beda satu tahun. Gue lebih tua, tetapi wajah gua tujuh tahun lebih muda. Kita juga sering jalan dan ngerjain tugas bareng. Sahabat banget.
             Gue dan Atari sama-sama terdiam.
             "Eh, Mia suka makanan apa?"
             "Makanan khas Korea, kimchi, kenapa?"
             "Gue punya ide!" Sebuah lampu petromax menyala diatas kepala Atari, "Gimana kalau lo bikin sendiri, apa tadi kesukaannya? Banchi?"
             "Kimchi, norak lo"
            "Nah itulah, biar ada kesan spesialnya. Jarang-jarang kan"
             Gue berpikir sejenak. Bener juga, ya. Daripada gue beli diluaran, harganya bisa bikin gue puasa lima bulan setelah membeli itu satu porsi, mending gue bikin.
             "Lagian juga dia bakal mikir lo macho banget, berkorban buat dia"
             Gue berpikir lagi. Bener banget, ya.
             Kimchi, sebuah makanan khas dari Korea Selatan dimana sayur-sayuran seperti     sawi dilumuri bumbu pedas dan difermentasikan selama enam bulan.
             BAH?
             "BIKIN KIMCHI BUTUH WAKTU ENAM BULAN, BAKAAAAA!"
            Atari mengerlingkan matanya, "Enam bulan, perjuangan yang heroik, Nandaru"
            Hah, omong kosong! Gue? Seorang Nandaru harus menunggu selama enam bulan lamanya untuk menyatakan perasaan? Nggak! Idiot dan gila plus lama banget namanya.                         Terus heroik darimananya, coba?
             Oke, Atari pikir gue cowok apa? Dia pikir, gue cowok kaya dia yang nggak mau modal buat menggapai cintanya? Gitu? Ih, kzl, kzl, kzl! Gue nggak level men, bikin kimchi sendiri, nunggu enam bulan lamanya. Mending juga gue beli di luaran, nggak papa mahal, demi cinta.
             "Oke Atari gue mau buat kimchi sendiri" ucap gue mantap, menyanggupi.
 Atari memberikan tanda sip dengan jempolnya. Kemudian ia mulai browsing tata cara membuat kimchi yang baik dan benar.
             Kemudian kita ngitungin enam bulan kedepan dimana kimchi itu mateng, alias telah selesai di fermentasikan. Gue girang, karena pas banget, kimchi itu mateng saat Mia ulang tahun.
             Yeah!
             "Tar, gue takut"
             "Takut kenapa?"
             "Takut kalau gue di terima, dan gue pacaran, mama gue bakalan marah nggak, ya?"
             "Nggak.." ("Kampret nih bocah pede banget!")
             "Tahu darimana, lo?"
             "Udah pokoknya mama lo nggak akan marah" ("Koruptor digantung di monas kalau cinta lo beneran keterima")
             "Oke!"        
             Gue percaya Atari.
             Hati gue tenang.

*

Enam bulan kemudian...

             "Gimana, lo udah siap?" Atari menepuk bahu gue mantap.
             Gue mengiyakan.
             Di tangan gue sudah tersedia kado spesial yang sudah gue siapkan semenjak enam bulan yang lalu, iya, kimchi. Dan malam ini, bertepatan dengan ulang tahunnya Mia, gue berencana akan memberinya kado ini dan menyatakan perasaan gue ke dia.
             Duh, gue nervous banget.
             Gue udah bolak-balik toilet tujuh kali selama lima menit tadi. Terakhir gue lupa cebok malah. Jorok, ya? Nggak papa, demi cinta.
             "Tar, gue nggak yakin, nih!" gue ragu.
             "No, Nandaru. Look your awesome kimchi"
             Gue pun melihat kimchi gue seperti yang Atari instruksikan. Awesome kimchi katanya. Iya, mudah-mudahan, Mia suka.
             "Oke, samperin dia!"
            Gue, dengan sisa-sisa keberanian yang terkumpul memberanikan untuk melangkah kedepan. Menghampiri Mia yang malam ini cantik banget.
             "Mia.." Sapa gue ragu.
             Mia membalikan badannya, "Hei, Nandaru! Akhirnya datang juga"
             "Happy Birthday, ya!" gue menyalaminya.
             And its started.
            Tiba-tiba aja gue gugup tingkat dewa dan keluar keringet dingin, sialnya juga, gue kembali merasa ada kontraksi di perut gue.
            "Lho, Nan. Kamu kenapa?"
            "Nggak papa kok, Mia"
            Untung gue cuma kentut ringan.
            "Mia," lanjut gue, "Gue pengen ngomong sesuatu"
            "Apa? Ngomong aja.."
            "Gue.. Gue.. Suka sama lo"
            "Oh, gitu"
            Lho, kok gini?
            Gue berusaha mengatur gaya, tetap gentel, "Lo mau nggak, jadi pacar gue?"
            Yes! Gue lega! Akhirnyaaaa....
            "Nggak"
            Mampus gue.
            "Maaf ya, Nan. Tapi kata Ayah, aku masih kecil"
            Sial, jangan-jangan Ayahnya Mia temen arisan mama gue lagi.
            "Maaf, ya"
            Gue mengangguk dengan kepingan hati yang hancur, mengingat segala perjuangan gue, setidaknya dia mau menerima kimchi ini.
            "Maaf juga, Nan. Bukannya aku nggak mau kimchi kamu, tapi kata dokter, aku nggak boleh makan yang pedes-pedes dulu"
            Oh man!
            Semuanya.
            Sia.
            Sia.
*

             Gue melangkah lemas. Menghampiri Atari yang sibuk nepokin nyamuk di kanan kirinya. Melihat gue datang, Atari segera bangkit dan memberondong gue dengan segenap pertanyaan yang nggak penting.
             Gila, hati gue sakit banget.
             Begini, ya, rasanya ditolak? Tau gitu, mah, mendingan gue tetap memendam perasaan sampai gue dibolehin pacaran sama mama gue, nyesel.
             "Terus, kimchinya juga nggak diterima?"
             Gue menggeleng.
             Atari berteriak kalap.
            "Kok bisa?"
             Gue menggeleng.
             Atari berteriak lagi.
             "Oke, Nan. Demi lo, gue akan habiskan kimchi ini"
             Atari melahapnya.
             Besoknya, dia koma.
            Gue lupa ngasih tahu Atari kalau sebenarnya kimchi itu gagal dari tiga bulan yang lalu, kimchi itu sebenarnya sudah mateng, dan gue memendam kebenaran itu selama satu minggu. Setelah satu minggu berlalu, ternyata kimchi itu malah basi. Karena ulang tahun Mia masih tiga bulan lagi dari tragedi kimchi basi itu, yaudah, mau gamau kimchinya gue akalin.
            Kimchinya gue kasih pijer, alias boraks. Enak sih, tapi gurih-gurih menyakitkan gitu.

*Kopi Boraks -_-, 09/08/2014 11:03 PM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

| Designed by Colorlib