Sekumpulan romansa, mimpi, dan perjalanan

            Dunia mungkin tidak pernah mengenalnya sebagai sesosok orang yang paling berpengaruh; ia bukan seorang pejuang, ia bukan seorang penemu, bukan pula seorang yang prestasinya membuat banyak umat berdecak kagum atau mungkin merasa iri. Ia hanya seorang perempuan biasa untuk dunia ini.
            Tapi, ianya selalu menjadi terang di setiap gelap kami; angin di bawah sayap-sayap kami; dan kami berbakti, karena di bawah telapak kakinya ia di anugrahi sebuah kehidupan yang abadi, yakni Surga.
            Adalah sebuah desa kecil yang jauh dari hingar bingar kota, empat puluh satu tahun silam, tepat pada 18 Agustus 1974, lahir seorang putri kedua dari pasangan Tarwini dan Ibrahim Santana. Rupanya begitu jelita, ayahanda tercinta memberinya nama Ely Marlina.
            Ely, begitu biasa orang-orang memanggilnya. Sapaan akrab untuk si anak ke dua dari tiga bersaudara. Saat masih belia, ayahanda yang menghadiahkannya nama indah itu harus lebih dulu menghadap yang Kuasa. Sehingga hingga kini pun ia tidak pernah mengetahui bagaimana rupa Abah, begitu ia memanggilnya. Tetapi ia tumbuh menjadi anak yang berbakti lagi prihatin. Masa itu adalah masa-masa yang cukup pelik untuk keluarganya, ekonomi menjadi beban utama saat sang Ibu mengganti peran menjadi kepala keluarga.
            Ely memulai pendidikannya di Sekolah Dasar di desa Jalatrang, jarak antara sekolah dan rumahnya hanya berjarak dua kelokan, di Sekolah Dasarnya ia hanya murid biasa. Cenderung tidak memiliki pengaruh apa-apa. Baru pada saat ia melanjutkan masa SMP nya di desa seberang, ia memilih sekolah di Madrasah Tsanawiyah Negeri Subang. Disana, Ely mulai merintis prestasinya. Keahliannya dalam membaca Al-Qur’an membuat ia berkali-kali memenangkan kejuaraan Musabaqoh tingkat kabupaten. Dalam masa remajanya pula ia memiliki ketertarikan di bidang sastra. Kecintaannya pada membaca dan hari-hari di sekolah yang banyak ia habiskan di perpustakaan membuatnya memiliki hobi menulis.
            Ely pernah berpikir untuk menjadi seorang penulis, menulis seperti penulis novel-novel yang setiap bulan ia beli dari hasil sisihan uang  jajannya. Tetapi ia tidak bisa mewujudkan apa yang ia ingin kendati mesin tik pada masa itu sangatlah mahal. Jadilah ia penulis gelap yang ulung merangkai kata dalam ketidaktahuan siapa-siapa. Suatu hari, putri sulungnya akan memiliki sesuatu yang sama yang dulu ia pernah miliki.
Selepas Tsanawiyah dan melanjutkan masa SMA nya yang jauh dari rumah, peraturan pemerintah mulai berlaku. Masa itu siswi tidak di perbolehkan memakai kerudung, harus memakai rok setinggi lutut. Ely melanjutkan masa SMA nya di Subang bersama Ambu (Kakak Abah), dan pulang seminggu sekali setiap hari libur.
            Selain prestasi yang satu itu, masa mudanya juga ia habiskan dengan membantu Mimihnya. Di rumah yang sederhana itu Mimihnya membuka warung kecil, menjajakan berbagai macam kue-kue kering, nasi uduk, ketoprak, dan serabi. Setiap pulang dari Tsanawiyah dulu, ia selalu menyempatkan dirinya untuk membeli keperluan jualan esok hari.
            Ia pernah bercerita, kalau suatu waktu ia pernah bertemu teman sekolahnya saat ia sedang menjajakan jualannya di pasar malam bersama Mimih. Tapi ia bilang, ia tidak malu. “Untuk apa malu, kan kitanya juga lagi bantu orang tua” ungkap Ely.
            Terkadang ia membantu mimih bersama kakak perempuannya, atau terkadang ia sendiri. Semua kegiatan yang ia lakukan bersama Mimihnya itu menerbitkan rasa ingin, cita-cita yang di suatu hari nanti ia akan bagi bersama putri sulungnya; ia ingin memiliki warung sendiri, toko sendiri. Agar Mimih tidak perlu capek-capek berkeliling untuk menjajakan dagangannya.
            Selepas SMA di Subang, Ely berniat untuk melanjutkan jenjang pendidikannya ke UNIKU (Universitas Negeri Kuningan), namun kendati keadaan ekonomi yang tidak memungkinkan akhirnya ia mengalah. Tepat setelah ia lulus dari SMA nya, ia ikut bersama bibinya ke Ibukota. Mencoba mencari peruntungan di sana; cita-cita untuk melanjutkan pendidikannya ia serahkan kepada kakak perempuannya. Ely lebih memilih bekerja, selangkah lebih maju untuk mewujudkan cita-citanya membuka warung untuk Mimih.
            Tahun pertama ia berkerja, gaji perdananya hanya berkisar Rp. 10.000. Kesemua gaji itu ia berikan kepada Mimihnya. Ely bekerja di sebuah pabrik bohlam, PT. HIKARI di daerah Jelambar, Jakarta Barat. Di sana, ia tinggal di sebuah kontrakan kecil bersama bibinya.
            Hidup di Jakarta, tidak pernah seindah yang ia impikan. Mimpi-mimpinya yang pernah ia harap akan menjadi nyata bada mengarungi ibukota itu mulai di lupanya; hidup mengalir apa adanya. Selang beberapa tahun hidup sendiri, pada tahun 1997 ianya menemukan tambatan hati.
            Perkenalannya dengan lelaki itu hanya berjangka tiga bulan, seseorang yang ia ketahui bekerja di sebuah Toko alat tulis tidak pernah sama sekali ia sangka akan menjadi seseorang yang akan membawanya ke tahap hidup yang baru. Berawal dari status saling teman yang berujung pada sebuah pelaminan, #eaaaa
           


Adalah seorang Rosidin Anwar (Nanang), yang tidak lain adalah temannya sendiri yang kelak menjadi pendaping hidupnya. Pernikahan Ely dan Nanang berlangsung di desa Jalatrang, Kec. Subang, Kab. Kuningan, Jawa Barat pada tanggal 20 Agustus 1997. Tidak pernah ada kisah yang berliku diantaranya, bertemu hanya selang waktu tiga bulan untuk kemudian memutuskan membangun bahtera rumah tangga.
            Dari pernikahannya, Ely dan Nanang di karuniai lima orang anak; Rolyta Nur Utami (25 Mei 1998), Abdullah Garin Arrasyid (09 Januari 2004), Alm. Abdullah Malik Arrasyid (19 Februari 2010), Ridha Nur Rahmah (09 Februari 2011), dan Almh. Nurul (09 Februari 2011).
 Ely, bersama suami dan putri sulungnya.
            Masa-masa sulit itu selalu ada. Kehilangan seseorang yang ia cinta adalah luka yang menganga bagi batinnya. Pada kehamilannya yang ketiga, Ely selalu merasa tidak sesehat kehamilan-kehamilan sebelumnya. Pernah suatu waktu bahkan ia tidak bisa sama sekali untuk bangun. Putra ketiganya lahir tepat pada 19 Februari 2010, sayang cobaan masih harus ia terima ketika kenyataan bahwa jantung putranya tidak sesempurna jantung bayi pada umumnya.
            Putra ketiganya yang rupawan itu ia panggil Malik, setiap kali menatap wajah mungilnya adalah kebahagiaan dan waktu yang tidak pernah bisa ia kembalikan. Tetapi harapannya untuk terus memeluk Malik dan mendampinginya dengan segala keterbatasan dan ketidakmampuan dalam dirinya itu harus berakhir singkat. Seminggu setelah kepulangannya dari rumah sakit, Malik berpulang ke pelukan sang Khalik.
            Namun, bersama kesusahan itu selalu terdapat kemudahan. Allah ternyata mempunyai rencana yang lebih indah karena pada tahun yang sama juga Ely kembali mengalami kehamilan yang keempat. Pada tanggal 09 Februari 2011, ia melahirkan dua kembar perempuan. Namun satu diantaranya tidak dapat hidup karena posisi janin yang timpang sehingga meninggal dua hari di dalam kandungan.
            Kini Ely dan suami telah sempurna memiliki tiga buah hati yang selalu mengisi hidup mereka. Tinggal di sebuah rumah kontrakan sederhana di bilangan asem tiga daerah duri kepa. Putri sulungnya kini genap berusia 16 tahun (tiga bulan kemudian 17 tahun), putra keduanya tengah mengenyam pendidikan di Madrasah Ibtidayah kelas 4, dan putri bungsunya masih duduk di bangku PAUD.
            Harapannya kini sederhana saja. Dapat menjadi ibu yang baik untuk keluarga, memiliki anak-anak yang berbakti lagi bertakwa, dan sukses di masa depannya. Ely adalah seorang ibu yang penyabar, ianya selalu mahir menyembunyikan kesedihan dan menampakkannya dengan senyuman. Begitupun dengan suaminya, ia adalah lelaki yang tidak kenal kata menyerah; seorang ayah yang mendidik anak-anaknya untuk taat beribadah.
            Untuk menemui  seorang malaikat, kita tidak selalu perlu membayangkan seorang wanita cantik yang menawan lagi indah dengan sayap yang membentang di belakang punggunya. Aku memiliki seorang malaikat, setiap hari; meski ianya tidak secantik bidadari tetapi bagiku ia adalah wanita tercantik di muka bumi; meski ianya tidak bersayap tetapi pelukannya adalah sesuatu yang selalu rindu untuk ku dekap.


            Aku memanggilnya Ibu. Apa-apa yang ku tulis di sini tidak akan pernah cukup untuk menggambarkan rasa cintaku kepadamu. []


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

| Designed by Colorlib