Sekumpulan romansa, mimpi, dan perjalanan



               Pagi itu angin berhembus kencang, meniupkan dedaunan kering yang basah karena hujan deras semalam. Hawa dingin seakan menguasai pagi itu, langit mendukung dengan warnanya yang kelabu.
                Sepeda reyot milik gadis tanggung bernama Anne menerobos hawa dingin, melewati kubangan-kubangan air yang kotor. Rantainya yang kering berderit, karat di sepedanya sudah 80% memenuhi. Anne merapatkan sweater lusuhnya, sekedar mengusir hawa dingin. Gadis kepang dua itu kini berdiri di sebuah lapak baju bekas. Anne merogoh kantong sweaternya, ada uang duapuluh ribu hasil menabung selama seminggu.
               "Mau pilih baju yang kayak gimana neng?" Tanya abang penjual. Anne masih diam, tangannya dengan cekatan menelusup diantara tumpukan baju.
                "Ada sweater nggak bang? Ukurannya sebadang abang, rada tebal" Jelas Anne. Dengan sigap, abang penjual itu merogoh kardus-kardus di bawah meja lapaknya.
                "Tinggal satu neng, pas banget kayaknya sama ciri-ciri yang neng sebutin"
                Anne mengambil sweater dari tangan abang penjual. Sempurna. Cocok. Dan, ada sensasi hangat berbeda saat Anne mendekapnya. Di punggung sweater itu tertera tulisan Jinbum. Sweater itu untuk bang Fedi, kakak Anne.
               Akhir-akhir ini cuaca dingin memasuki musim hujan. Bang Fedi sering kali masuk angin, pilek, juga batuk. Selain itu bang Fedi juga satu-satunya murid yang tidak pernah memakai sweater di SMA nya. Bang Fedi yang culun, dan sering jadi bahan ejekan.
 Dulu sweater yang melekat di tubuh Anne juga pemberian bang Fedi. Walaupun sama bekasnya. Jadi menurut Anne, anggap saja ini balas budinya.
                "Berapa, bang?"
                "Limabelas aja, neng"
                Anne memberikan limabelas lembar uang seribu pada si abang penjual. Lima ribu sisanya ia akan pakai untuk membeli roti dan kopi hitam di warung bi Darmi.
               "Oh iya neng, dulu yang kasih sweater itu ke abang orang cina neng. Orang Jakarta"
                "Jakarta kota gede itu ya, bang?"
                "Iya, katanya, itu jaket bekas anak lelakinya yang meninggal. Anaknya ganteng!"
                "Kenapa nggak abang aja yang pake? Kenapa di jual?"
                "Itu jaket terlalu keren neng buat abang"
 
                Anne menaruh sepeda reyotnya asal. Bergegas masuk rumah dengan bungkusan berisi tiga roti dan tiga sachet kopi hitam instan. Juga sweater baru untuk abangnya.
                "Bang, bang! Liat Anne bawa apa?" Anne sumringah, menggoyang-goyangkan tubuh abangnya yang ringkih berbaring di kasur.
                "Roti sama kopi, kan?"
               "Iya! Tapi ada lagi!"
                "Kopinya diseduh nanti aja, barengan sama ibu. Ibu masih di kebun pak Rohman"
                "Bang, Anne beliin abang, sweater!" Anne menjembreng sweater berwarna coklat itu di depan wajah Fedi. Fedi demi melihat sweater itu bangun dari tidurnya dan terduduk. Matanya berbinar, tangannya mulai mengelus sweater coklat itu. Ada sensasi hangat yang berbeda.
                "Buat abang, biar keren, biar nggak kedinginan"
                Fedi menatap adik perempuannya. Perempuan kedua yang ia cinta setelah ibu. "Dapet uang dari mana kamu, neng?"
                "Ngumpulin uang jajan" Anne tersenyum senang.
               "Abang nggak kebagian buat beli ginian, neng. Lihat, kacamata abang aja udah musti diganti"
                "Nggak apa-apa, kan, udah aku beliin"
                Fedi memeluk adiknya.
 
*
 
               Pagi itu kelas dimulai pukul tujuh, tetapi Fedi baru berdiri di ambang pintu ketika jam menunjukan pukul tujuh lewat limabelas. Dengan terengah-engah juga rasa takut menghadapi gurunya Fedi memberi salam. Semua mata menoleh.
               "Silahkan masuk, Fed"
                "Tapi saya terlambat limabelas menit, pak"
                "Nggak masalah, ayo masuk"
                Ada yang aneh menurut Fedi. Biasanya, terlambat tiga menit saja dia sudah tidak diperbolehkan mengikuti jam pelajaran pertama.
Tapi pagi ini berbeda.
                "Fedi, duduk bareng aku"
                "Bareng aku aja"
                "Aku!"
                "Aku!"
                Para siswi perempuan itu dengan centil mengosongkan bangku disebelahnya, mengusir teman sebelahnya dengan enteng. Fedi membenarkan posisi kacamata bututnya. Ada yang aneh pagi ini. Gurunya, anak-anak di kelasnya.
                Biasanya gurunya selalu sentimen karena Fedi selalu datang terlambat dan berpakaian lusuh. Biasanya teman-temannya juga seakan tidak menganggapnya ada dan hanya menggunakannya sebagai bahan olok-olokkan.
                Aneh.
                Akhirnya Fedi memutuskan untuk duduk sebangku dengan Ningsih. Kembang desa sekaligus perempuan yang
lama telah ia taksir.
 
*
 
                Fedi melempar tas sekolahnya asal. Ia melepas kacamata butunya, kemudian mematut dirinya di cermin lemari. Ada satu lagi hal yang aneh, matanya tidak buram. Fedi tersenyum, rasa keajaiban menghampiri dirinya hari ini.
                "Kalau besok keadaanya masih seperti ini. Aku nggak bakal jadi bahan olok-olok lagi, hahaha"
 
*
 
                Anne seperti biasa, pulang sekolah menyusuri jalan geradakan dengan sepeda reyotnya. Tapi hari ini sekumpulan anak SMA menghadang laju sepedanya di tengah jalan.
                "Misi mang"
                "Etss.. Buru-buru amat, ne. Kita mau tanya sesuatu nih sama kamu"
                "Apa, mang?"
               "Fedi. Si culun"
               Anne mengernyitkan dahinya. Ada apa dengan Abangnya?
                "Hmm, mang. Kalo abang punya salah, tolong maafin deh"
                "Bukan itu. Yang kita mau tanya, kenapa Fedi bisa sebening dan berkilau hari ini?"
                Anne semakin tidak mengerti.
                Sepanjang jalan Anne masih memikirkan ucapan teman-teman abangnya tadi. Tentang abang yang hari ini bening dan berkilau. Maksudnya apa, coba?
               Anne menaruh sepedanya di saung pinggir sawah ibunya. Siang ini Anne harus mengantarkan serantang nasi serta lauk titipan uwanya di kampung sebrang.
                "Hai.." Seseorang memanggil Anne.
                "..."
                Seakan tidak percaya siapa yang memanggilnya, Anne terdiam.
                "Mau ke ibu, ya?" Tanya seseorang itu lagi. Laki-laki berwajah putih dengan lesung pipi kanannya. Tampan, juga matanya yang beriris coklat dan sabit. Anne meleleh bersama terik matahari.
                "Jinbum" Laki-laki itu memperkenalkan diri sambil meyodorkan tangan kanannya.
               "Anneke, panggil aja Anne" Anne tergugup.
               "Mari, saya antar ke ibu"
                "Mahluk setampan kamu ngapain mejeng di sawah?"
                "Kita ceritanya sambil jalan-jalan aja yuk!"
                Anne berlalu bersama lelaki tampan bernama Jinbum tadi. Anne berlalu bersama angin.
 
*
 
                Fedi sedang memacul tanah di pekarangan belakang rumahnya sore itu. Ibu menyuruhnya untuk menanam benih lenca. Fedi menyeka keringatnya, dari belakang terdengar suara langkah kaki. Fedi tidak perduli karena di tahu itu pasti Anne.
                "Perlu ku bantu?"
                Fedi menoleh. Terdiam. Dihadapannya kini berdiri seorang lelaki tampan, putih, dan berlesung pipi. Bukan, bukan itu yang membuat Fedi terdiam, melainkan sweater coklat yang melekat pada tubuh lelaki itu. Sweaternya.
                "Siapa kamu? Lancang banget ngambil sweater saya"
                "Saya Jinbum"
                "Saya nggak nanya, lepasin itu sweater saya punya!"
                "Tadi kamu nanya,sih. Ini punya saya"
               Fedi selangkah mendekat, menarik lengan sweater coklatnya dengan kasar, "Lepasin! Ini dari Anne untuk saya"
                "Ini punya saya. Sweater saya! Mami saya yang beliin tahun 1970, waktu umur saya tujuhbelas"
                "Bod.." Fedi tercekat tiba-tiba. Mata lelaki di depannya berubah merah menyala, wajahnya yang tampan dan seputih porselen kini menjadi gelap, dari dahinya keluar banyak darah.  Fedi terjatuh, tidak dapat berkata-kata sama sekali.
                "Kamu ganteng tadi pagi karena sweater ini!"
                "Apa hubungannya?"
                "Karena saya ganteng!"
                "Idiiih.." Fedi bergidik geli. "Ganteng sih bilang-bilang"
               "Tapi itu kenyataanya. Coba kamu dekati perempuan tanpa sweater ini"
                "Nggak nanya, asli"
                Tiba-tiba wajah dan tubuh lelaki itu kembali seperti biasa. Normal. Tampan. "Tolong, balikin sweater ini ke mami"
                "Tapi saya gatau dimana rumah mami kamu itu"
                "Oh iya.."
                Hening.
                "Kamu balikin aja sama yang jual"
                "Gimana kalau saya yang pakai aja? Kan, bisa jadi tambah ganteng, tuh"
                "Itu dosa, Fed"
 
               
                Gubrak!
                "Uwadaaww.." Fedi meringis kesakitan. Ia terjaga dari tidur siangnya yang baru tigapuluh menit. Tiba-tiba dari arah pintu Anne masuk dengan wajah yang berbinar-binar, langsung masuk ke kamar Abangnya.
               "Bang, tau nggak?" Ucap Anne, senyumnya mengembang menyiratkan kegembiraan luar biasa telah menyambangi jiwanya.
                "Nggak?" Fedi menjawab sembari mengucek-ngucek mata.
                "Tadi, di sawah ibu, Anne ketemu sama cowok guanteeeng buanget"
                "Masa?"
                "He eh. Putih, manis, ganteng, punya lesung pipit!"
                "..."
                "Namanya Jinbum!"
                Fedi menatap adiknya tajam, seakan bangun dan teringat akan mimpinya barusan. "Jin.. Jinbum?" Tanya Fedi penasaran. Kemudian ia menggapai sweater coklat yang tergantung di dinding.  Fedi melihat bagian punggung sweater coklat itu.
 
 JINBUM
 
               "Ini, neng. Tadi juga abang ketemu Jinbum. Di mimpi, asli!"
                Anne tercengang tak percaya, ia menatap abangnya yang masih menatap bordiran nama Jinbum di sweater coklat itu. Rasanya, baru tadi senyum manis Jinbum menyentuh langit-langit hati Anne.
                "Jadi gini..." Fedi mulai menceritakan apa yang terjadi padanya mulai pagi hari, hingga mimpi tadi.
 
*
 
                Pagi itu Fedi dan Anne sama-sama mengayuh sepeda reyotnya menuju pasar pagi di desa sebelah. Anne yang duduk dibelakang memeluk sweater coklat itu erat. Ia masih tidak percaya, kalau sosok Jinbum kemarin ternyata tidak nyata.
               Padahal Anne sudah terlanjur mengaggumi senyumnya yang manis, juga mata sabitnya. Kenyataannya semakin menyakitkan jikalau sampai saat ini Jinbum masih hidup, ia akan menjadi seorang bapak-bapak berusia 50 tahun.
               Anne dan Fedi berhenti di lapak abang penjual lusa lalu. Abang penjual itu dengan santainya membaca koran sambil menghisap sebatang rokoknya.
                "Bang" Anne memanggil. Abang penjual itu bangun dari duduknya sambil tersenyum melihat Anne.
                "Mau milih baju lagi, neng?"
                "Bukan. Mau balikin swater ini"
                "Lho emang kenapa? Lagian sayang lho neng, uang neng juga nggak bisa balik"
               "Nggak apa-apa, bang. Jadi sweater itu一"
                "Sweater itu terlalu keren buat saya, bang" Fedi memotong perkataan Anne cepat. Anne menatap abangnya dan mengerti.
                Hening.
                "Jinbum, ya?" Abang penjual itu bersuara, membuat Fedi dan Anne bersamaan berkata, "Kok tau?"
                "Itulah. Sebab saya nggak pernah pakai sweater ini. Jinbum terus-terusan minta saya balikin sweater ini ke maminya. Sementara, maminya entah dimana sekarang"
                "Sudah nggak di Jakarta?"
                "Nggak"
 
                Fedi dan Anne menuju jalan pulang, melewati jalan jelek yang menanjak sepeda tuanya kembali berderit-derit seperti merintih.
               "Dorong aja, bang"
                "Yaudah"
               Anne dan Fedi turun dari sepeda tua mereka. Sesaat itu Ningsih, kembang desa yang lama telah Fedi taksir terlihat di depan sana. Anne menyikut lengan abangnya, namun Fedi tetap diam saja. Ia tidak yakin untuk menyapa Ningsih, karena Fedi tidak sedang memakai sweater milik Jinbum.
                "Fed, kamu dari mana?" Wanita bernama Ningsih itu berhenti di sisi kiri Fedi.
                "Ehh.. Ningsih.. Mau, pulang" Fedi gugup. Rasanya ia ingin berjingkrak senang mendapati Ningsih bertanya sambil tersenyum menyapanya. Anne cengengesan di belakangnya.
                "Oh, gitu. Yaudah, saya duluan, ya. Mau kepasar"
               "Oh, iya. Mari, Ningsih"
                "Mari"
                Ningsih berlalu meninggalkan jantung Fedi yang tak hentinya berdetak senang. Anne masih cengengesan.
                "Ciyeee" Goda Anne.
               "Apaan, kamu? Ehh, emang abang ganteng, ya? Abang, kan, nggak pake sweater itu"
               "Hahaha, mau gimana juga di mata aku, abang selalu ganteng"
                Fedi menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Mereka mulai berjalan lagi menyusuri jalan yang menanjak dan jelek. Tiba-tiba angin berderu kencang, menerbangkan daun-daun yang kering di sekitarnya. Anne mencengkram baju Fedi erat. Fedi membetulkan kacamata bututnya yang miring.
               "Apaan, nih, bang?"
                "Nggak tau. Mau hujan, kali?"
               Suara langkah kaki seseorang terdengar dari belakang. Anne dan Fedi masih dengan berat melawan angin mendorong sepeda reyotnya.
                "Perlu kubantu?"
                Hening.
                Cuma suara angin berderu kencang.
                Jantung Anne berdetak melihat senyumnya, begitupun Fedi.
                Jinbum tersenyum.
 
 
 
 
Dandelion, 080713

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

| Designed by Colorlib