Sekumpulan romansa, mimpi, dan perjalanan


"Dulu dia pernah bilang, kalau kita pernah mencintai dia seutuhnya"
"Andai ia tercipta seutuhnya, hingga saat ini"
"Tapi kan, dia selalu ada"
"Dia abadi"
"Langit akan selalu menjatuhkanya, bila dia rindu kita. Dia yang bilang kan?"
"Seperti sore yang mendung ini"
"Dia merindukan kita"
***
               Helena Paverlli. Masih berkutik dengan setumpuk tugas rumah yang harus ia kerjakan. Ditemani secangkir teh hangat, serta temaram senja yang silau jingga menelusup dari celah-celah jendelanya. Soal demi soal terus ia tekuni dengan segenap memori yang tersisa. Ia sudah tak perduli pada apa yang menyerangnya saat ini.
               Helena. Gadis remaja berparas manis, dengan lesung pipit yang muncul setiap saat ia tersenyum. Gadis yang biasa, manis. Meski akhir-akhir ini Helena lupa nama teman-temanya, lupa menaruh benda-benda yang ia taruh, bahkan pernah, lupa membawa tasnya kesekolah.
 Sudah takdir. Mungkin itulah hidup yang harus dijalani Helena. Dengan memori yang sekian waktu harus terkikis habis, serta darahnya yang terjangkit virus mematikan.
 Sedang asyiknya ia menulis, tiba-tiba nada dering smsnya berbunyi..
 
"Helena.. Sudah ngerjain pr?"
"Lagi nih :) aku senang. sering-sering sms aku ya. Biar aku gak lupa. Mihihi"
"Lho? Haha.. Kamu baca baik-baik ya Helle. Lalu save sms ini di draf. Aku Pave yang rambutnya ikal, si Chela yang gendut, yang suka resein kamu tuh namanya Ojan"
               Helena tersenyum. Ternyata aku punya teman-teman yang menyayangiku, pernah. Selain ayah, pikirnya. Mata sipitnya berpindah fokus menatap langit sore yang semakin muram, mendung.
 Ah.. Andaikan ia bagian dari langit, pasti ia akan abadi. Terurai terus, tanpa mati.
               "Non Helle. Sebaiknya non istirahat dulu" Ucap seorang wanita paruh baya, helena menoleh sembari terus menggali memorinya. Menggali tentang siapa yang ada dihadapanya saat ini.
"Ini bibi non" Ucap wanita paruh baya itu lagi, dengan tatapan nanarnya. Helena hanya tersenyum, sambil selanjutnya memeluk si bibi. "Helena gak lupa bi, suer" Ucapnya, dengan setitik air mata yang jatuh membasahi segaris pipi cubby-nya. 
"Non, dua minggu lagi ayah pulang"
"Ayah....?"
***
                "Helle.. Helle.." Panggil ayah, namun seisi rumah kosong. Ayah beranjak, berjalan menuju kamar Helle. Tanganya mulai memutar knop pintu dan terbukalah. Namun sia-sia, kerinduanya harus tertahan lagi, sebab ayah tidak menemukan Helle dikamarnya. Ayah masih berdiri di muka pintu kamar Helle, putrinya. Menyapu seluruh
ruangan kamar putrinya. Semuanya rapih, kecuali dua lembar kertas yang menyita perhatian ayah sehingga ia terduduk di ranjang manis Helena.
 
'Untuk seorang yang biasa kupanggil 'Ayah' . Aku tahu, sebelumnya aku pernah merasakan cinta kasih yang engkau beri meskipun hari ini aku telah benar-benar lupa bagaimana rasanya, ayah. Tapi menurutku engkau tampan, ada foto kita bersama diruang tamu, masih bersama wanita cantik disampingku. Kata bibi namanya 'Ibu' namun ia sudah tak disini'
                Lembar pertama itu lekas membuat ayah tertegun. Ia lupa bahwa putrinya mengalami leukimia, dan pasti saat ini ia sedang berada
di sebuah rumah sakit. Ayah segera beranjak, masih dengan dua lembar kertas yang ia genggam. Ia tancap gas menuju rumah sakit tempat dimana Helena dirawat.
***
                Helena masih terbaring lemah, tubuhnya makin kurus, pipinya semakin tirus, namun senyumnya tak luput hilang. Tinggalah tiga temanya, yang setia menunggu detik-detik Helena selanjutnya.
"Ingat kami Helle. Kami pernah menyayangimu seutuhnya. Seutuhnya." Ucap Ojan, yang sehar-harinya terkenal iseng pada Helena. Helena hanya mengangguk lemah, serta merta melukis senyuman yang tak kalah lemah juga.
 
                "Helle.. Helle" Teriak ayah yang tiba-tiba memasuki
ruangan. Jantungnya berdegup kencang, seketika air matanya jatuh melihat sang putri terbaring lemah sambil menatapnya nanar.
 Ayah memeluk Helle dengan lembutnya.
"Ini ayah Helle"
"Oh, ini yang namanya Ayah. Mirip sama aku ya?"
 Mendengar kata-kata Helle ayah terdiam. Matanya menatap sang dokter dengan penuh tanda tanya. "Alzheimer" Ucap sang dokter, membuat rasa bersalah semakin sempurna dibenak sang ayah.
***
                Pagi itu, dikamar Helena..
 Ayah terduduk dengan lembaran kedua dari Helena.
'Ayah, kata bibi kau adalah seorang yang sibuk. Jauh sekali engkau dari aku yah. Sebenarnya aku ingin memintamu untuk'
'menemuiku seharian penuh saja. Agar aku hafal lagi bagaimana rasanya dicintai olehmu setelah aku benar-benar lupa. Walaupun esoknya aku akan lupa lagi, yah. Aku mencintaimu, ayah. Walaupun aku lupa bagaimana rasanya cinta, aku lupa ayah. Tapi aku akan tetap mencintaimu.
Luv, Helena.'
                Ayah menggenggam surat itu kuat, membenamkanya ke dada. Sambil terus menyebut nama Helena. Penyesalan terus bergulir mendesak dada. Rasanya bodoh, harus sekali lagi kehilangan seorang bidadari hidupnya. Setelah sebelumnya kehilangan sang ibu dari bidadari kecil tersebut.
***
 
 
               'Untuk seorang yang kusebut engkau 'Teman'
Kalian pernah mencintaiku, aku tahu meskipun aku lupa rasanya, aku lupa. Kalian sedih tidak, jika suatu saat nanti aku beranjak menguap menjadi bagian dari langit? Aku tidak sepenuhnya melebur dengan tanah, yang banyak disebut orang: Mati.
 
Baca ini baik-baik:
               Suatu hari.. Aku akan menguap bagai air laut, terangkat ke atas langit. Menjadi setitik awan putih bersih
Berarak beriringan menyingsing hari, hingga warnaku hitam legam.
Dan akhirnya, kau tahu aku akan turun bersama teman-temanku yang lain. Kalian biasa menyebutnya, Hujan. Ya.. Lalu aku akan mengalir'
'melebur bersama air sungai yang membawaku sampai ke laut. Dan begitu seterusnya. Aku abadi :)
Oh iya, akan lebih indah jika setelah hujan muncul pelangi.
Jika aku rindu kalian, atau jika kalian rindu aku. Walaupun untuk saat ini aku lupa rasanya rindu.
Lihatlah hujan, atau tunggulah hujan.
Ur friend, Helena.'
 
                Ketiga remaja itu saling terdiam setelah membaca surat dari Helena. Tepat setahun yang lalu, ketika seorang Helena menguap menjadi awan putih yang manis, dan terus terurai. Bagai siklus cuaca, abadi.
                Sebenarnya, sudah sejak lama surat ini dibaca. Namun sore ini hujan sangat deras, sehingga mau
tak mau, dengan ketidaksengajaan surat tersebut muncul kembali. Sehingga menimbulkan niat untuk membacanya.
               Hujan reda, rindu Helena yang tersampaikan sudah selesai. Tinggal segurat pelangi indah menghiasi bekas hujan. Dengan senja yang mulai muncul, seiring dengan cerahnya langit.
 
 
 
 
 
 
 
'Aku sudah ingat..
Bagaimana rasanya mencintai
Bagaimana rasanya dicintai
Apa itu rindu dan semacamnya
Aku sudah ingat kalau itu ayah
Aku ingat kalian teman-temanku, yang setia menatap hujan. Dan mengingat namaku.
Aku ingat siapa ibu
Ibu disini bersamaku
Wanita cantik yang ketika didunia aku lupa.
 
Aku ingat semua...'

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

| Designed by Colorlib