Sekumpulan romansa, mimpi, dan perjalanan


               "Ini baju yang aku hadiahkan buat mama ku saat mama ultah bulan kemarin lho" Ucap seorang anak SD bernama Julia sambil memeperlihatkan foto saat pesta ulang tahun mamanya.
***
                Sepanjang jalan pulang menuju rumah Dini hanya termenung, kepikiran Julia tadi. Ibu ultahnya kapan sih? Terus kan aku bukan orang kaya jadi aku gak punya uang untuk beliin ibu hadiah. Ayah kan udah gak kepada temanya Dini. Dini hanya senyum-senyum ikut larut dalam kesenangan temanya tersebut ada. Pikir Dini. Langkahnya terhenti. "Kalo Julia bisa? Kenapa aku nggak? Aku punya uang jajan dan bisa dikumpulin kok
gumam Dini, ia mulai melanjutkan langgkahnya dengan mantap. Dengan segenap niat mulia yang tertanam di hati gadis es de itu
***
               "Ibu.." Tiba-tiba tangan lembut Dini memeluk ibunya yang sedang memasak dari belakang. Ibunya hanya melemparkan senyum teduh padanya. "Ibu, ibu suka benda apa bu? Ada gak benda yg ibu suka banget?" Tanya Dini mengorek-ngorek informasi. Ibunya terheran-heran dengan ya? Barang yang ibu sukai adalah kalung emas" Jawab sang Ibu sekenanya. Dini terdiam. Emas? Emas kan mahal pikir Dini.
               Dini meninggalkan ibunya yang sedang memasak dengan wajah penuh kebingungan. Emas? Itu mahal. pikirnya. Dini memasuki kamar tidur, ia lihat dompet sang ibu tergeletak, dan Dini mengambil KTP ibu. "Lahir: Jakarta, 16 November 1986" Gumamnya pelan. Dengan KTP yang masih digenggaman Dini berjalan menuju kalender, melihat kapan tanggal 16 november tersebut
"Sekarang tanggal 15" Ucapnya sambil menunjuk angka 15, "Besok tanggal 16.... November" Dini panik, dengan kata-kata yang barusan keluar dari bibir mungilnya. 16 November itu besok? Tapikan aku belum punya uang untuk beli hadiah buat ibu. Batinya.
               Ditengoknya lagi sang Ibu yang sekarang sedang membersihkan peralatan dapur. Peluh berjatuhan satu persatu, namun ia tetap terlihat teduh dengan balutan jilbabnya yang anggun. "Ibu, apa yang harus aku persembahkan untuk ibu?" Gumam Dini pelan sambil tetap mengintip kegiatan ibunya.
***
pertanyaan Dini, ia membalikan tubuh letihnya dan menatap Dini. "Dini mau tau 
                "Dini, maafkan ibu ya. Hari ini ibu belum dapat rejeki. Bekalmu hari ini dua ribu rupiah saja ya?" Tanya sang ibu pada pagi hari, tepat di hari miladnya. Dini terdiam melihat uang dua ribu yang ibu sodorkan di meja makan. "Kamu kenapa din?" Tanya ibunya lagi. "Nggak bu, bu dini berangkat sekarang ya" Pamit dini, seraya 
mencium kedua pipi ibunya. Dan segera berlari terburu-buru. "Hati-hati Dini" Ucap sang ibu.
 
               "Dini istirahat yuk" Ajak Julia. Dini hanya menggeleng, tidak biasanya Dini begini. Pikir Julia. "Kamu sakit?" Tanya Julia lagi. Sekali lagi Dini menggeleng, membuat Julia berlalu meninggalkanya di kelas sendirian.
***
                Dini masih mengepal selembar dua ribu rupiah di tanganya. Ia melihat sekekeliling, apa yang harus ia beli? Banyak anak berhamburan membeli jajanan ini dan itu sesuka hati mereka. Karna mereka anak yang punya uang jajan banyak, lain dengan Dini.
               Dini mulai melangkah kan kakinya, ia mantap untuk membelikan ibunya sebuah coklat pasta. Dengan hati berdebar debar Dini membeli dua coklat pasta. Masih ada sisa seribu rupiah, harus ia belikan apa?
 "Nak kasihan nak" Terdengar suara pengemis tua dibelakangnya, Dini berbalik. Matanya melihat sang nenek tua dengan pakaian lusuh serta compang camping dimana-mana. "Kasihan nak" Ucap pengemis itu. Akhirnya, uang seribu rupiah sisa membeli coklat mendarat di kotak kertas pengemis tua itu.
***
                Dini berlari tergesa-gesa dengan dua coklat pasta digenggaman tanganya. Langkahnya terhenti sesaat di depan
rumahnya ia melihat sang Ibu sedang dimarahi oleh pemilik kontrakan. Ibu nunggak? Pikirnya. Miris, di hari miladnya sang ibu harus kena omel sang empunya kontrakan.
 Dini menunggu semua stabil. Pemilik kontrakan sudah pergi, ibu sudah masuk rumah lagi. Segera Dini berlari memasuki rumahnya, dan mencari-cari sosok sang ibu.
                "Dini! Jangan lari-lari. Kamu tidak ucapkan salam kan tadi? Pernah Ibu ngajarin kamu kayak gitu?" Bentak sang ibu tiba-tiba. Dini tertunduk, matanya membendung butiran-butiran mutiara bening.
 "Ibu..." Lirihnya. Wajah ibu hari ini sangat masam, tak ada senyum.
Dini tahu, ibu sedang tak punya uang. Jadi ibu begini. Pikir dini.
 "Apa? Kamu gak liat ibu pusing banget? Kerjaan ibu banyak din" Oceh ibunya lagi. Dini menatap ibunya yang kali ini sama sekali cuek, air matanya jatuh. "Ibu selamat ulang tahun" Ucapnya. Sang ibu merasa kaget, ia berbalik dan menatap Dini. "Dari mana kamu tau nak?" Tanya ibu.
                "Kemarin kan aku liat di ktp ibu tanggal 16, sekarang tanggal 16 kan. Tapi aku gabisa kasih emas. Tadi uangku cuma seribu jadi aku cuma bisa beli ini bu. Bukan emas" Ucap Dini yang terisak menangis sambil menaruh dua coklat pasta di tangan Ibunya.
"Tadinya uang seribu sisanya aku mau beliin minuman. Tapi ada pengemis jadi aku kasih. Maafin Dini ya bu, Dini gabisa kasih ibu kalung itu" Lanjut Dini. Hati sang Ibu seperti tersentuh belaian cinta baru. Dipeluknya Dini. Tangis haru mewarnai hari itu.
                "Dini, kamu tau gak hal yang paling suka itu bukanlah kalung emas" Dini hanya menggeleng. "Ibu lebih suka coklat pasta ini Din." Lanjut sang ibu sambil menaruh satu coklat pasta ditangan dini, membuat Dini tersenyum manis karna sudah berhasil membuat ibunya senang.
                "Selamat ulang tahun bu" Ucap dini lagi sambil mencium pipi ibunya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

| Designed by Colorlib