Sekumpulan romansa, mimpi, dan perjalanan


            Bawa FF lagi.... Kali ini pake Louis onedirection. Sorry bila ada typo. Happy reading and dont copas!




   Aku berjalan teregesa-gesa menaiki anak tangga ketika kulirik waktu di arlojiku, pukul 07:32! Mati! Sumpah aku tidak sudi dimaki-maki oleh guru itu lagi. Tidak pernah mau.
               Ketika sampai di koridor aku segera berlari dan tepat didepan kelasku guru itu sudah siap siaga dengan mulutnya yg terkatup, sepertinya siap melesatkan sesuatu yg panas membakar telinga. "Masuklah Louis" Ucapnya ramah. Ada apa ini? Tanyaku dalam hati, ah aku beruntung karna kali ini ia tidak marah-marah. Aku masuk dengan penuh senyum kemenangan, teman-temanku terheran-heran. Ketika bokongku sudah tepat nyaman berada dikursi
guru itu menghampiri ku dan berkata; "Siapa yg suruh duduk? Taruh tas mu dan bersihkan koridor lantai 2 SEKARANG!!!!" Aaaaah... 'Cengo' tiba-tiba. Aku melesat keluar daripada harus copot telingaku karna teriakanya. Tuhan... sepertinya ia kelebihan suara.
Aku heran, mengapa jarang sekali sekolah memiliki murid yg bersih? Masalahnya ini! Lihat saja, sampah berserakan dimana-mana! Iyuuuh kamseupay jijai ye bo. Oh tidak! Jangan lagi mendadak sekong.
               Aku terus asyik dengan kegiatan menyapuku, tiba2 mata ku berbenturan dengan secoret tulisan di tembok 'Lousina always love Louis' membawa memori itu kembali
-2 Tahun yang lalu-
 
               "Louis, lihat semua teman kita sudah dengan pasanganya masing-masing" Ucap Sina. Aku hanya menatapnya sekejap lalu berlalu kembali ke pemandangan yg ia bicarakan. "Hmm.. Lalu apa?" Tanyaku. "Tidak, hanya sedikit envy" Ucapya dan tiba-tiba sebuah lampu menyala diatas kepalaku. AHA!
                "Lousina, aku punya ide. Bagaimana jika kita pura-pura sebagai seorang kekasih. Kontrak ya, 60 hari saja?" Tanyaku. Mata Sina berbinar dan mengguncan-guncang tubuhku "Haaaa... Kau pintar, sangat pintar!" Ucapnya riang. "Siapa dulu? LOUIS SANTANA UYEAH!" Ucapku mantap. Dan Lousina hanya senyum-senyum sendiri?
 
               Hari pertama pacaran..
"Louis pj dong"
"Sina pj dong"
"Cie akhirnya gak jomblo lagi cie"
"Cie sama-sama Jones jadian uhuy!"
 Tunggu-tunggu. Yg terakhir itu aku tidak suka! Jones? Kurang ajar! Sina dan aku hanya malu-malu kucing dan membalas perkataan mereka; "Apaansih gajedeh?"
"Apasih ciecie, situ enpi?"
"Jones? Situ kali ya HA-HA" 
 
               Satu bulan berlalu..
Selama 30 hari itu, aku dan Sina menghabiskan hari-hari layaknya seorang kekasih. Mulai dari kencan, mengerjakan tugas bersama, makan malam diluar terkadang. Semua berjalan dengan baik. Namun suatu hari aku merasakan sesuatu yang aneh. Entah mengapa? Rasanya beda saat aku berdekatan dengan Sina. Tak seperti biasanya, hingga aku paham kalau itu disebabkan oleh jatuh cinta.. Ya, begitu kata google. Setelah aku masukan mesin serba tahu itu dengan kata kunci 'Deket-deket cewek deg-degan' . Konyol. Namun aku mempercayainya.
 
                Setengah bulan berlalu, kini kurang lebih 15 hari lagi masa pacaran aku dan Sina sudah expayet(?) Namun belum juga aku menemukan keberanian untuk menyatakan yg sesungguhnya kepada Sina. Aku malu sebab aku benar-benar jatuh cinta padanya dan dia akan benar-benar menjadi kekasihku. Tuhaan.. Mengapa harus Sina? Entah..
               Waktu terus berlari, berlalu meninggalkan 60 hari masa pacaranku dengan Sina. Hari terakhir, aku mengajak Sina ke sebuah restoran untuk makan malam. Sebagai penutup sekaligus pelanjut hubungan kita. Pasalnya, malam ini aku akan jujur soal perasaanku. Suasana romantis, alunan biola yang Sina suka, menambah kesyahduan hati. Tenang. "Hmm.. aku mau bicara" Ucapku dan Sina berbarengan. Ok ladies first, pikirku. Tapi.. Apa yg ingin Sina katakan? Apa ia akan mengatakan sesuatu yg ingin kukatakan juga? Ah! Aku tidak bisa membiarkan perempuan yang mulai, aku pun langsung angkat bicara; "Sina, sebenernya..." 
Aku gugup, keringat dingin ku satu persatu menyeruak dari pori-pori. Oke kulanjutkan; "Sebenarnya aku mencintaimu, bisakah hubungan kita bertahan lebih lama?" Yes! Lancar juga. Tinggal bagaimana Sina menanggapinya.
 Sina terlihat cemas, aku tahu pasti ia gundah, namun apa yang ia katakan; "Gabisa is, gabisa" Aku terhenyak "Kenapa gabisa?"
"Pokoknya gabisa! gabisa!" Dan Sina pun berlari meninggalkan ku, Sina menolaku. Mentah. Mentah. Hatiku. Han. Cur.
 
 
                Sudah dua minggu berlalu semenjak tragedi mengenaskan itu. Hari ini aku patut berbahagia karna ibu ku akan disunting oleh seorang duda beranak satu. Aku sudah mengenal calon ayahku itu namun tidak dengan calon adik ku. Katanya ia sibuk, sangat sibuk.
 
               
                Aku berdiri disamping ibuku di pelaminan, menunggu sang mempelai pria datang. Disana sudah terlihat sekerumunan orang dari pihak mempelai pria. Samar-samar aku lihat pendamping nya adalah seorang wanita, rambutnya tergerai panjang, matanya indah, mengenakan gaun, dan itu Sina! Oh my God!
SINA?
ADIK KU?
MANTAN KU?
PEREMPUAN YANG KUSUKA?
CIYUSMIAPAH?
 Sina menatap ku, aku tak habis pikir. Lebih tepatnya aku kehabisan pikiran tentang semua yg sebenarnya terjadi.
"Louis ini adikmu, Lousina" Ucap calon ayahku.
 
Sina tersenyum, senyum palsu. Sementara aku masih kikuk. Harusnya yg dipelaminan ini kita, bukan orang tua kita. Pikirku.
 
 "Bukanya aku gasayang kamu Is. Tapi aku gamau ngerusak kebahagiaan ayah ku, juga ibumu" Jelas Sina. Aku masih terdiam, ini 'ciyuzmiapah' aku shock berat! Sumpah seberat-beratnya. "Kita sayangnya sebatas adik-kakak aja yah"
 
***
               
               Tengnongneng.. "Saatnya jam ketiga dimulai" Bel pergantian jam berdentang membuyarkan lamunanku. Yeah akhirnya selesai! Tapi-tapi.. Harusnya coretan itu dihapus, ah tapi biarlah.
 Krek.. Seorang keluar dari kelasnya, membawa segenggam sampah rautan.
ia menatapku, melemparkan sebuah senyuman. Oh tidak! Hilangkan rasamu Louis! Sina adikmu sekarang. 
"Nyapu ya? Kenapa kak?" Tanya Sina. "Heheh.. Biasa tadi kakak terlambat, Sina tadi gak nungguin kakak sih" Ucap ku. "Nungguin kakak? kan semalam aku nginep dirumah tante?" Bodoh! sudah dua tahun tapi gelagatku masih belum bisa diatur. "Ooh.. iya lupa" Selaku.
               "Kak Louis capek?" Tanya Sina. Perhatianya, apa mungkin ia juga masih mempunyai rasa padaku. Kasian juga Sina. "Iyanih, banget" Jawabku. "Cape? RASAIN!!!!" Ucapnya sambil mendobrak pintu. ADIK KURANG AJAR!!!!
 
 
 
 
 
 
WOOOYYY!!!!!!!!!!!!!!
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
INI CIYUZ LOH!
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

| Designed by Colorlib