Langsung ke konten utama

Postingan

Post Terbaru

[ Review Buku; Perempuan di Titik Nol ] Feminisme yang Menemukan Rumahnya

Adakah kabar kematian yang senada dengan bunyi kemenangan?

Maka dalam Perempuan di Titik Nol, Nawal El-Shaadawi menjawabnya dengan kata, "ada". Adalah Firdaus, seorang gadis--yang berhasil bertransformasi menjadi seorang wanita--yang menemukan jati dirinya di halaman terakhir kisah yang penuh lika-liku dan cenderung tidak adil, bahkan menurut saya yang notabenenya adalah seorang pembaca.

Nawal El-Shadawi berhasil memaparkan betapa bobroknya moralitas kehidupan yang dipimpin oleh kaum adam di tanah Mesir lewat kisah Firdaus, yang bahkan mengawali masa kanak-kanaknya dengan berbagai pelecehan-pelecehan kecil, atau tentang ketidakmengertian jiwa kanak-kanaknya tentang mengapa ia dan ibunya harus menahan lapar sementara Ayahnya makan dengan sangat-sangat cukup.

Terbit perdana pada tahun 1975, novel yang pada dasarnya diangkat dari sebuah kisah nyata ini sangat terlihat jelas mengangkat isu feminisme dan status darurat hak perempuan di tanah Mesir, penyalahgunaan hak atas dasar …
Postingan terbaru

Yang Tidak Kuungkapkan

Aku, atau bahkan ia bagaikan benih yang menyemai dan tumbuh, tepat ketika musim hujan mengirimkan pertanda, serta mekar ketika rintik-rintik menyejukkan itu jatuh. Dan aku ragu apakah itu aku, seseorang yang jauh dari kata dewasa dibanding ia dengan segala perjalanan dan pengalaman hidupnya, ingin aku banyak bertanya, ingin sekali. Tetapi pertanyaan-pertanyaan itu lenyap oleh pernyataannya yang sederhana malam itu. Seba’da berkunjung untuk pertama kali.
Lalu aku menahan diriku sendiri tentang mengapa ia bisa jatuh cinta, mengapa aku hanya bereuforia. Aku bahkan enggan menatap sepasang matanya kala itu hanya karena aku takut untuk mempercayai kata-kata bersebab luka lama, aku tahu ia berbeda, dan seharusnya aku tidak terlalu takut karena ya, ia berbeda.
Kemudian kami bermetamorfosa dengan diam-diam dan jauh dari segala kebertahuan banyak orang, aku dan ia yang pelan-pelan menjadi kita. Seiring waktu berlalu.
Ia menyebalkan. Terlalu sering mengucap rindu. Begitu memper…

[ESAI] Memecahkan Segmentasi Budaya dengan Unsur-unsurnya; Pengamatan Sederhana dalam Lingkungan yang Sederhana

Rumah

rasanya tanah begitu jauh dan tinggi ketika aku berada di pundaknya,
rasanya lega sekali melihatnya kembali tepat sebelum adzan maghrib berkumandang,
tetapi kesedihannya mungkin beranak pinak ketika waktu dan umur anak gadisnya beranjak

bukankah dulu adalah aku yang melarang lelaki itu untuk menua?

aku masih ada di belakang punggungnya saban pagi, tidak bisa bayangkan jika kebiasaan itu berhenti,
dan selalu ditanyakannya apakah aku punya uang saku yang cukup?
Lelaki itu terlalu khawatir,
di bola matanya, aku selalu jadi anak kecil umur empat tahun berkuncir dua

Bagaimana mengatakannya?
Ia adalah bahasa cinta sepanjang masa,
sesuatu yang tidak perlu banyak diungkap karena sejauh apapun aku pergi, pelukannya akan selalu jadi tempat berpulang,
sebab ia adalah rumah,
dan ia adalah Ayah.


*Jakarta, November 2017

Darurat Status, Tapi Lupa 'Nyiapin' Diri

Tukang Cilok Dekat Stasiun Tidak Jualan

Tukang cilok dekat stasiun tidak jualan. Hujan masih berbekas, sore-sore basah dan banyak orang bergegas. Di pintu keluar stasiun itu tukang ojek konvensional masih seceria pagi-pagi, melambai tersenyum sambil menawarkan jasa, rintik-rintik kecil masih berlaku untuk segerombol bocah-bocah kuyup yang menyangga payung di bahu mereka, kalau jasa ojek payung mereka tidak laku, mereka akan berusaha membantu membawa tentengan orang yang berlalu lalang sebagai bentuk dari penawaran jasa mereka yang lain, di semerawut hujan dan lalu lintas ini banyak insan berjuang mengais rupiah, di tempat lain ada yang menghamburkan rupiahnya sambil menikmati hujan dan minum kopi, membuat puisi, dan barangkali masih mengenang mantan. Sedih, karena untuk beberapa hal, hujan datang untuk momentum yang sebenarnya tidak perlu diingat lagi. Tetapi yang kucari di semesta dingin ini cuma tukang cilok, kok. Tidak macam-macam. Hanya saja sore ini si abang tidak jualan, jadi aku segera kembali memasuki stasiun dan berg…