Touch Me.
Hardware accelerated using
CSS3 for supported iOS
Responsive.
Respond to change in browser
width and adjust automatically
Flexible.
Run multiple sliders on
the same web page
Customize.
Set momentum, elasticity,
scrollbars and more...

Jumat, 16 Juni 2017

[REVIEW BUKU] Malam Terakhir, Kelam Cerah Hidup Wanita dalam Sepotong Cerita

Ka Ha
(A photo by instagram.com/alienkeren)
Pada kesempatan sebelumnya, saya sudah pernah menulis esai yang mengulas salah satu cerpen dalam Malam Terakhir yang berjudul Adila dengan pendekatan pragmatik untuk salah satu tugas kuliah, nah sekarang, wa bil khusus saya akan membuat review tentang kumpulan cerpen garapan Leila S. Chudori yang berjudul "Malam Terakhir".

Well, saya pertama kali tahu dan membaca buku ini pada tahun yang sama, yep tahun 2017, kira-kira bulan Maret. Saat itu habis gajian dan seperti biasa, kebiasaan saya semenjak punya gaji *ekhem* yaitu #OneMonthOneBook, yap, satu bulan minimal saya membeli dan selesai membaca satu buku, hehe.. (Jangan lupa sedekahin sebagian gaji, Ta.. Jangan lupa tadarusan *ngomong ke diri sendiri, wkwk)

Saat memasuki Gramedia, yang ada di pikiran saya adalah mencari buku kumpulan puisi karya Aan Mansyur (lagi), karena saya ketagihan dengan cara beliau berpuisi. Tapi kok, setelah saya bolak-balik mengamati satu per satu buku yang ada di rak Sastra, saya nggak berhenti merasa tertarik dengan cover kumcer Malam Terakhir, ya? Akhirnya, dengan segenap keyakinan, pilihan saya jatuh pada buku ini.

Sama seperti karya-karya sastra yang datang dari para sastrawan senior di Tanah Air, beberapa cerpen yang dimuat dalam Malam Terakhir karya Leila ini mengandung unsur yang sebaiknya dibaca oleh mereka yang telah memasuki usia 21 tahun keatas, (meskipun lagi-lagi saat membaca itu umur saya belum genap 19 tahun, alias masih 18 tahun #kyeopta), namun Leila meramunya dengan apik dan sepintasan, tidak mendetail seperti gaya penulisan Murakami dalam Review 1Q84 yang juga sempat saya ulas.

Ada sembilan cerpen dalam Malam Terakhir, termasuk Malam Terakhir itu sendiri yang dijadikan sebagai penutup dari kumpulan cerpen ini. Memulainya dengan "Paris, Juni 1988", saya sedikit-banyak bertanya dengan kepribadian tokoh Marc dan obsesinya yang absurd, saat itu, gambaran tentang Paris yang romantis pudar begitu saja dari benak saya saat Leila mulai menggambarkan keadaan guest house yang si pemeran utama tinggali. Dan, ketika saya selesai membaca cerpen pertama pada buku ini, saya praktis bertanya tentang apa ya yang seorang Leila khayalkan sehingga beliau bisa menciptakan seorang Marc dengan obsesinya yang terlampau aneh? Hmm, that is little creepy juga sih, cuman kamu harus baca dulu deh biar tahu dimana letak obsesinya yang absurd itu. (dan, tidak perlu kaget ya nanti)

Kemudian, akan ada beberapa cerpen yang tidak hanya mampu membuat pembaca merasa tergugah, tetapi juga sesak secara bersamaan. Seperti ketika saya membaca "Untuk Bapak", dan kebertandatanyaan ketika saya habis membaca "Sepasang Mata Menatap Rain", dan kengerian yang mengigit ketika tandas emosi saya membayangkan seorang perempuan yang tersiksa dalam "Malam Terakhir". Kumcer dengan jumlah total 117 halaman itu saya habiskan dalam waktu tiga hari, seluruh kisahnya berpadu-padan menciptakan emosi yang beragam untuk pembaca.

Meski begitu, tetap saja, satu yang tertinggal dalam ingatan dan hidup dalam benak saya adalah "Adila". Entah mengapa sejak mencicip kalimat pertama dalam cerpen tersebut, rasanya saya dapat langsung melihat adegan Adila yang sedang asyik sendiri dengan dunianya di dalam toilet, mengintip isi buku yang telah enambelas kali ia baca, dan melihat akhirnya ia menenggak cairan yang selalu menariknya dari awal cerita sampai akhirnya ia berakhir karena itu. Saya merasakan keterkekangan Adila disana, selalu otomatis lagu Numb milik Linkin Park yang terputar di otak saya saat membacanya ulang.

Salah satu teman saya mengaku bahwa ia juga jatuh hati--yang sakit--pada cerpen Adila. Akhir ceritanya membekas, sama sekali tanpa penyesalan dalam tokoh-tokoh yang bermain di dalamnya. Maka, ketika selesai membaca cerpen Adila dan menghembuskan nafas lega, saya tersadarkan akan cover depan buku ini. Ini Adila sekali!

Ohya, terlepas dari semua itu, Malam Terakhir adalah kumpulan cerpen Leila yang terbit pertama kali pada tahun 1989, yang sekarang menjadi milik saya dan memenuhi deretan koleksi buku dirumah adalah cetakan keempat yang terbit pada Januari 2017. Yap, bisa dibilang, cetakan ini masih segar-segarnya.

Well, secara keseluruhan, membaca karya Leila yang satu ini membuat saya memasukan beberapa karyanya yang lain untuk dinikmati di kemudian hari. Sayang, untuk mahasiswi-karyawan-heterogen seperti saya ini, untuk satu buku kategori sastra yang masih eksis mejeng di deretan buku anyar, harganya cukup menguras kocek hahaha.. Yaaaa, uang pulang pergi seminggu lah ya, makanya kalau ada bazar buku seperti Big Bad Wolf kemarin, saya sebagai seorang mahasiswi merasa sangat tertolong.

Saya rasa cukup, beberapa hari kedepan saya akan tetap mengisi blog ini. Mungkin dengan puisi, dan ya, beberapa review buku lagi. Saat ini saya sedang pada tahap membaca karya Natsume Soseki yang berjudul Rahasia Hati. So, tunggu update review bukunya yap? Salam sastra! Jangan lupa berkarya!


Xoxo,
Ka Ha



*Tebet, 16 Juni 2017

Kamis, 15 Juni 2017

[REVIEW BUKU] 1Q84 Jilid 1, Sebuah Prolog Panjang Menuju Dunia Pararel

Ka Ha
(Source: Pinterest)
Akhir-akhir ini saya sedang tertarik untuk membaca karya-karya dari para penulis Jepang, entah mengapa. Tetapi rasanya saya terpikir begitu setelah sekian lama saya banyak menonton anime keluaran studio Ghibli yang ceritanya lain dari pada yang lain. (Bisa search sendiri ya nanti, hehehe), kebetulan saya memang penikmat anime dan manga Jepang sejak duduk di bangku SMK, dua semester menjadi mahasiswi Sastra Indonesia saat ini, saya beralih menuju karya literasinya.

Yang pertama dan selalu saya dengar namanya adalah Haruki Murakami, seorang novelis senior yang telah banyak melahirkan karya fenomenal. Saya banyak mendengar namanya disebut-sebut, entah oleh komunitas kepenulisan yang saya ikuti, teman satu hobby nonton anime di grup sebelah, dari dosen saya yang sedang menjelaskan di depan kelas, dan masih banyak lagi. Singkat cerita, saya kepo sampai akhirnya saya searching tentang Haruki Murakami, dan pilihan pertama saya jatuh kepada karyanya yang berjudul 1Q84, (Well, lebih banyak penikmat karya Murakami yang merekomendasikan Norwegian Wood untuk pembaca pemula, tapi entahlah, saya langsung klop aja sama sinopsisnya 1Q84)

Sesuai dengan prasangka saya terhadap 1Q84, saya jatuh cinta.

Ada dua kehidupan yang tersaji di dalamnya, yaitu kehidupan seorang perempuan bernama Aomame, dan seorang pria bernama Tengo, adapun Fuka-eri, adalah tokoh utama pendamping yang ketika saya membaca dialog-dialognya dengan Tengo saya suka kadang nyengir dan geregetan sendiri, kenapa? Karena tokoh Fuka-eri disini digambarkan sebagai seorang remaja tujuh belas tahun yang tidak memiliki aksen saat berbicara, dan ekspresi saat berinteraksi. Bisa bayangin? Hahaha..

1Q84 ini berawal dari adegan dimana Aomame yang menumpang sebuah taxi dan terjebak kemacetan parah, sementara ia harus menyelesaikan tugas penting tanpa bisa bernegosiasi dengan waktu. Di awal cerita saja, pembaca sudah dapat menangkap ciri khas seorang Murakami sebagai pengarang. Murakami dengan lihainya menggambarkan segala sesuatu dengan detail, dan tersampaikan. Pokoknya, kamu harus sabar deh untuk membaca karya yang satu ini, karena bukunya yang tebal memang dipenuhi dengan penggambaran detail, bukan dengan adegan yang bang! langsung menemukan titik temu. Penuh ketersiratan yang memaksa kita sebagai pembaca membayangkan situasi demi situasi sampai kita dapat merasa bahwa kita selalu ada di samping tokoh-tokoh dalam novel itu. Hidup bersamanya.

Dalam 1Q84, kehidupan berjalan seperti biasa sampai Aomame merasa bahwa ada beberapa hal yang luput dari pengetahuannya, sampai di suatu hari ia tersadarkan bahwa Aomame bukan lagi berada di dunia yang bertahunkan 1984, setiap malam, terdapat dua bulan di langit. Sesuatu permulaan terjadi, hidupnya berkelindan dengan kehidupan Tengo, seorang lelaki yang sebisa mungkin menghindarkan dirinya sendiri dari segala bentuk tanggung jawab yang dapat mengusik kedamaian hidupnya, semuanya berjalan sesuai keinginannya sampai Tengo bertemu dengan naskah Kepompong Udara milik gadis cantik berumur 17 tahun bernama Fuka-eri. Nah, sampai disini sudah mulai berasa ketegangan yang dibawa oleh 1Q84, saya nggak mau menjabarkannya lebih detail karena khawatir dianggap spoiler, ekhekehekhe..

1Q84 sendiri merupakan pelesetan judul dari novel milik George Orwell yang berjudul 1984. Ungkapan 1Q84 adalah hipotesis Aomame yang menganggap dirinya tengah terperangkap dalam dunia yang bukan dunia seharusnya. Oiya, ketika kamu membaca 1Q84, bukan hanya kedetailan penjelasan yang akan kamu dapat, tapi beberapa hal yang tidak umum seperti selera musik, nama komposer, sampai selera buku. Dalam 1Q84, saya menemukan seorang Janacek dan simfoninya, juga tentang orang Giliyak dan Ainu, bawang putih Manchuria, dan masih banyak lagi. Sepertinya Murakami sendiri merupakan seorang penikmat musik dan pembaca sejarah. Karya-karya tidak luput dari ulasan sejarah yang asing, belum pernah terdengar di telinga saya.

Dan, WARNING!!!
Jujur, sepertinya 1Q84 tidak begitu recomended untuk usia tujuhbelasan, karena menurut saya, rating untuk novel ini semestinya dibaca oleh mereka yang telah berumur 21 keatas (ya meskipun jujur aja umur saya baru 19 tahun 1 bulan dan ketika membaca ini lumayan sesak nafas sih hahaha..). Memang sih, untuk penikmat Sastra yang sudah terbiasa dengan literasi-literasi yang bernafaskan erotis, pasti sudah biasa, tetapi bagaimana dengan yang belum atau masih pemula? Wah, kudu bae-bae cyiin bacanya, jujur saya beberapa kali tutup buka buku ketika membaca 1Q84, antara mikir, "Ih, apaansih?" dan, "Kok, nggak banget ya deskripsinya?". Tapi, yaaaa... Saya baca juga lah, adegan-adegan vulgar dan erotis disini juga lumayan banyak, terutama di bagian Aomame. Harus sembari istighfar, mau nggak ngebayangin tapi susah, duh! (Maafkan Lyta ya Allah, maafkan...... dan lebih baik nggak baca pas kamu lagi ngejalanin puasa ya, haha)

Pada akhirnya, 1Q84 yang tebalnya lumayan ini tidak habis dalam satu buku. Konon katanya (yaelah, konon..), enggak ini serius, tapi 1Q84 ini sudah sampai pada jilid 3! Man, jilid 3!!! Dan saya aja tertatih-tatih membaca jilid 1-nya. Jilid satu sepertinya dibuat serupa gerbang, membuat pembaca dekat dan akrab dulu dengan para tokohnya, bukan hanya karakter, tetapi juga dengan kehidupan dan rahasia paling kelam sekalipun yang mereka simpan. Dunia pararel dan surealis justru lebih terasa saat memasuki lembar-lembar akhir, dan ketika kita sudah siap dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan Kepompong Udara dan Fuka-eri, cerita berlanjut ke 1Q84 Jilid 2. Ghoshhhh.. Hahaha!

Target setelah lebaran ini saya akan baca yang jilid 2-nya, dan semoga aja rejeki saya lancar biar sekalian borong aja ya yang jilid 3-nya, Aamiin. Tetap mengutip rekomendasi dari para penikmat karya Murakami yang telah lama, kalau mau coba baca karya beliau, coba baca Norwegian Wood terlebih dahulu. Alasannya? Karena Norwegian Wood masih berpijakan pada dunia nyata, ndak seperti novel lainnya kebanyakan. Tetapi 1Q84 juga tidak ada salahnya kok.

Well, saya rasa ulasan ini cukup. Semoga cuap-cuap yang tidak seberapa ini dapat membangkitkan minat baca kamu ya, selamat membaca buku! Jangan lupa berkarya!

Xoxo,
Kaha


*Tebet, 15 Juni 2017, 12.47

Kamis, 08 Juni 2017

Kolase Stasiun; Sebuah Perjalanan Rutin

Ka Ha
Hujan itu turun dengan lamban.

Rintik-rintik tertiup angin, pukul enam pagi yang tanpa payung diatas kepala, tanpa juga kopi hitam hangat sebagai pembuka awal mula, saya berangkat. Oya, dulu, saat masih menjadi siswi SMK saya selalu berdoa dan bermimpi agar jika saya pada akhirnya ditakdirkan untuk berkerja, saya ingin berkerja di tempat yang jaraknya jauh dari rumah.

Kalau Tebet - Duri Kepa itu jauh atau lumayan? Haha. Intinya, saya merasa doa saya waktu di dikabulkan oleh Allah, dan Alhamdulillah, selain jauh, pekerjaannya juga berkah dan moga bisa mengembangkan potensi diri saya.

Setiap perjalanan punya keunikan dan cerita masing-masing, saat itu saya masih baru menjadi pengguna commuter line, naik dari Stasiun Pesing, transit Duri dan melanjutkan dengan KA jurusan Depok - Bogor - Nambo, untuk kemudian turun di Stasiun Tebet. Kantor saya tidak jauh dari stasiun, dan hal yang sampai saat ini selalu saya syukuri adalah; setiap keluar stasiun, rasanya seperti pasar. Jadi saya nggak khawatir, saya selalu punya menu sarapan yang beda setiap hari, asal saya sudah ketemu kopi hitam panas, pagi saya aman.

Oya, selain menulis, saya juga punya minat dengan fotografi. Yaaaa, bermodalkan kamera smartphone dengan resolusi 8 MP, saya suka iseng-iseng potret. Beberapa gambar yang bagus selalu saya unggah di akun instagram saya (kadang juga saya unggah disini), kemudian dengan latar gambar itu saya menulis; entah itu puisi, prosa, cerpen, atau sekedar cuap-cuap seperti ini.

Di waktu yang tidak bersamaan, saya mengumpulkan foto-foto itu dan menjadikannya sebuah perjalanan pulang pergi, seperti ini...

Pagi di Stasiun Pesing, saat itu pukul 06.30 selepas perjalanan naik angkot dari rumah. Sebenarnya kalau mau ngopi disini juga bisa, sejak awal bulan Mei yang lalu, ada Alfama*rt Express yang sudah buka, sayang kopi yang tersedia cuma kopi dingin, instan pula. Kalau aja mereka punya mesin kopi, asyik kali ya nunggu lima belas menit sambil nyeruput kalem?

Daily outfit saya, kemeja-rok-sepatu kets, atau gamis-blazer-sneaker, kadang lebih suka pakai sepatu sport, dan nggak ketinggalan kaos kaki yang kata teman-teman saya, "Ta, lu jadi cabe-cabeannya bada lulus SMK, ya?". Nggak juga sih, cuman suka aja sama kaos kaki yang banyak warnanya, dan juga berkarakter. Lucu gitu, haha. Oiya, bisa duduk dari Stasiun Pesing ke Stasiun Duri itu salah satu kesempatan yang langka banget lho kalau pagi. Tapi pagi itu, saya duduk, haha.

Orang-orang di kereta itu beragam, kalau diperhatikan. Kesempatan memerhatikan sekeliling yang saya punya itu berasal dari rutinnya kereta yang terhenti menuju sinyal masuk Stasiun Manggarai. Mungkin ada limabelas menitan, ya paling lama duapuluh menit lah kereta berhenti. Disaat-saat itu rasanya jenuh, beberapa--atau mungkin kebanyakan orang--memilih untuk sibuk dengan smartphonenya, beberapa melanjutkan tidur, tapi enggak jarang juga kok yang baca buku, nulis-nulis dikertas, atau bahkan ngelamun nggak jelas, atau yang kayak saya ini, iseng ambil gambar, untung mba nya paham saya ngapain, jadi enggak dikira penguntit gitu, ckck..

Pulang!
Kalau kamu naik kereta dari arah sepanjang Depok - Bogor - Nambo sebelum Stasiun Sudirman--terutama jika kamu perempuan--dan pulang di jam pulangnya para karyawan/ti pulang kerja (normalnya jam lima sore), saya enggak rekomendasiin kamu untuk berada di kereta pertama khusus wanita (seharusnya khusus perempuan kali, ya?) Karena apa? Karena ugh! Kereta pertama khusus wanita jam lima sore di Stasiun Sudirman itu punya kehidupan yang keras! Asli! Ini lebay ya? Iya. Tapi kalau kamu penasaran, kamu boleh coba langsung. Kasih tahu saya berapa kali kamu istighfar atau ngeluh saat itu ya.


Kalau bulan biasa sih, normalnya jam pulang ya pukul 17.00 alias pukul lima sore, nyampe Stasiun Duri kadang bisa beberapa menit aja sebelum maghrib, tetapi berhubung ini bulan Ramadhan, jadi jam pulang lebih maju jadi jam empat sore, walhasil, sampai Duri masih jam setengah limaan lah. Ini potret yang juga saya unggah ke instagram saya dengan user @msondubu. Naik kereta jurusan Tangerang yang padatnya minta ampoen. Seumur-umur saya pulang naik KA jurusan Tangerang ini, demi apapun saya lebih baik diri, (lagian dapet duduk juga kaga pernah, wkwkwk), lagi pula saya cuma lewatin satu stasiun untuk kemudian turun di Stasiun Pesing, jadi lebih baik ambil posisi berdiri dekat pintu, biar pas keluar ndak perlu desak-desak yang lain.

Sudah sore.
Oiya, foto ini saya ambil waktu saya masih suka turun di Stasiun Taman Kota, dan tanpa filter. Langitnya, duh.. Saya beberapa kali--malah bahkan sering unggah foto di instagram dengan latar stasiun atau kereta, saking itu-itu aja yang saya unggah, salah satu teman saya sampe bilang kalau dia bosen, hahaha.. Saya bilang ke dia kalau saya selalu excited sama sesuatu yang menurut pandangan saya unik. Adapun senja, adalah sesuatu yang barangkali akan selamanya saya cinta.


Lembur juga kadang-kadang.
Kalau sudah begini, kadang bete juga. Tapi saat itu punya kesempatan untuk potret Stasiun Tebet dengan kondisi malam hari dan beberapa lampu nyala. Berpendar.


Doain ya, mau ngumpulin uang buat beli kamera, rasanya hobi ini kudu saya kembangin. Doakan juga, bulan ini saya ada rencana untuk pergi ke Pulau Harapan, tahun besok, minimal saya bisa backpakeran ke Yogyakarta. Bagaimanapun saya masih pemula, tapi rasanya selalu senang kalau bisa berbagi hal-hal sepele yang-syukur-syukur-punya nilai informatif dengan menulis. Kamu, kamu sudah melakukan perjalanan kemana saja?



Next train saya sih ke Osaka, from Duri Station, ahaha...
*Tebet, 08 Juni 2017, 11.47

Minggu, 04 Juni 2017

Mencela Sabtu

Ka Ha
(Dok. pribadi, dimuat dalam instagram @msondubu)
Kehampaan seperti apa yang sontak menyergapmu?
Seperti kau membenci dan mendambakan sepi secara bersamaan
Ingin memilih senyap sekaligus menghindarinya

Beberapa orang bertingkah bodoh,
rasanya ingin sekali membuangnya ke lain dunia

Rindu-rindu tak terlunasi,
berlalu begitu saja untuk kemudian berbalik arah dan menatap matamu dengan sengaja,
siang bolong dan hatimu kosong

Dunia ini kan bukan milikmu, nak.
Segalanya tidak harus berjalan sesuai apa maumu, seenak jidadmu.
Kau ini cuma gelas kosong, nak.
Pun pongah dan egois, hanya akan membuatmu tersungkur di kubangan yang sama.


*Pamulang, 03 Juni 2017, terlampau pagi (lagi).

Senin, 29 Mei 2017

Merumahkan Rindu

Ka Ha

 

 
(Capture from: Goblin)

Merumahkan rindu,
membungkamnya agar berhenti berpuisi,
menjadikannya tamu di tempat lain,
karena, tidak ada cukup nyali untuk membuat rindu berpulang kepada pemiliknya

Merumahkan rindu,
membuatnya berhenti bertanya kapan ia akan dikebumikan pada senyuman yang teduh itu..
Dan, jangan lagi ada senyap-senyap kejap yang menagih dengan menghadirkan jauh sinar di wajahnya

Merumahkan rasa rindu,
mengantarnya pulang dengan lapang dada,
pada koridor-koridor di lantai tiga yang sendu, seorang pria dengan setelan hitam necis menerimanya dengan senyum tersipu

 

 

*Pamulang, 19/05/17

Rabu, 17 Mei 2017

Cuma

Ka Ha
(source image: tumblr)


Kau berjalan, di lengang malam
Tiada satu, atau dua kau temui
Hidupmu adalah senar-senar gitar
Bertautan, kau bermelodi

Nyanyikan aku, wahai
lagu yang menceritakan tentang kisah-kisah terdahulu
Di beranda rumahku, saat Ayah tiada di rumah

Melesatlah ribuan panah, wahai
Jarak tak beranjak
Rindu yang beranak pinak
dan cinta ini bukan sekedar cuma...


*Ka Ha, lupa tanggal. Puisi ini diterbitkan bersama beberapa puisi lainnya dalam antologi Love Line yang diterbitkan oleh penerbit Ellunar pada tahun 2017 :), selamat jatuh cinta.












Rabu, 19 April 2017

Pastinya Ketidakpastian

Ka Ha

"Pasti",
barangkali menyihir alam bawah sadar kita, bahwasannya segala yang diharapkan akan terjadi, segalanya hanya soal waktu

Namun di sanalah, di waktu
Pasti-pasti itu berkelindan dengan sejuta ketidakpastian, dan kita lalai, atau jangan-jangan menutup mata

Dunia itu, diri kita sendiri
barangkali perlu antisipasi
nasehati diri sendiri
Tentang ketidakpastian yang pasti, atau pastinya sebuah ketidakpastian

Maka hari ini aku hanya menjalani, tanpa berpikir kemungkinan pastinya ketidakpastian, atau ketidakpastian yang pasti

Dua kalimat yang dibolak-balik itu membuat kau berpikir, "Sudahlah."

19/04/2017

Kamis, 13 April 2017

Mimpimu, Ibu

Ka Ha

(Source picture: google.com/sendu+tumblr)

Hujan, kau ingatkan aku..
Tentang, satu rindu..
Dimasa yang lalu.. Saat mimpi masih indah bersamamu..
(Opick ft. Amanda- Satu Rindu)
*
            Ibuku selalu senang bercerita. Ya, ia bercerita tentang apa saja. Ia bercerita tentang betapa menggemaskannya anak-anak di PAUD tempat ia mengajar, ia bercerita tentang mesin jahitnya yang sering ngadat, ia bercerita tentang kegiatan ibu-ibu PKK yang terkadang membosankan, ia bercerita tentang arisannya bersama ibu-ibu yang lain, ia bercerita soal penggerebekan rental Playstation di daerah tempat dulu kami pernah tinggal. Ibuku selalu bercerita, ia suka bercerita dan selalu membagi ceritanya. Menyenangkan mendengarnya, mengetahui banyak sesuatu yang tidak sempat untuk aku ketahui. Setidaknya, dengan mendengarnya bercerita tentang apa saja, aku punya alasan untuk melepaskan perasaan dan urusanku pribadi, dan aku akan selalu ada untuk Ibuku tercinta.
            Namun, akhir-akhir ini Ibuku terlihat.. menyebalkan.
            Ya, seberapa besar rasa sayang seseorang kepada orang lain? Untuk beberapa alasan, sebuah hati pasti pernah merasakan ketidaknyamanan. Merasa tidak begitu tepat, dan tidak bersahabat sama sekali.
            Biasanya, aku suka mendengarkan Ibuku bercerita. Aku akan mendengarkannya sambil minum kopi, menjahit sarung bantal, menulis pekerjaan rumah, membersihkan piring-piring kotor, atau apapun. Sore itu, Ibuku kembali bercerita, dan aku seperti biasa, selalu ada untuk mendengarkannya.
            Ia ingin naik haji, betapa itu menjadi mimpi besarnya selama ini. Bisa naik pesawat terbang ke Mekkah, bersama Bapakku, atau mungkin jika beruntung, bersama aku, putrinya tercinta. Ia ingin sekali ke Mekkah, menjalankan rukun Islam yang kelima, bertanya kapan ia akan punya kesempatan untuk kesana? Menerawang jauh sambil tersenyum, harapan tidak pernah pudar dari matanya yang bening dan indah itu. Lalu aku katakan, bahwa di jaman sekarang kita harus menunggu lama untuk naik haji, beberapa tahun mungkin, atau sampai kapan, aku berkata entahlah.
            Lalu ibuku meninggalkan percakapan tentang naik haji itu, melompat ke cerita tentang anak kerabatnya yang hanya lulusan SMA swasta, tetapi sekarang sudah menjadi pegawai di kantor pajak dengan gaji yang lumayan. Ia kemudian memberitahuku kabar sobat masa kecilku, ia bilang ia tidak akan ambil kuliah karena ia hanya ingin bekerja untuk keluarganya, kuliah hanya akan membuatnya repot, begitu. Ibuku bercerita tentang betapa senangnya ia jika ia memiliki seorang anak yang bekerja lantas dapat membuatnya bahagia.
            Aku masih setia mendengarkannya, mencoba menanggapinya sambil tersenyum seperti biasa. Sampai pada akhirnya Ibuku benar-benar bertanya, "Kamu benar-benar yakin akan meneruskan pendidikanmu?"
            Oh Ibu, yang aku tahu dan yang mampu aku ingat, kau sudah beribu kali resah menanyakan soal ini dan kau sudah berkali-kali merestuiku dengan berkata. "Seterah kamu, gimana baiknya aja"
            Betapa bahagianya aku mendapatkan restu itu, Ibu tahu? Tapi itu sore yang indah, mendung bersama awan kelabu pekat juga hujan yang lembut turun, berada berdua dengan Ibu sambil menikmati hujan sampai akhirnya Ibu bercerita seperti itu. Perempuan itu bekerja di kantor pajak kenamaan, dan ia tidak perlu repot-repot kuliah, bukankah itu mengesankan Ibu? Teman lamaku yang benar-benar akan menjadi pekerja sepenuhnya, mengagumkan bukan?
            Sore itu, ketika Ibu menyelesaikan cerita-cerita menyenangkan itu, aku benar-benar terpaksa menghela nafasku dengan berat dan tiba-tiba saja sebuah beban yang entah apa membuat punggungku sakit. Aku meyakinkan Ibuku; bahwa setiap orang punya mimpi yang berbeda-beda, aku punya cita-cita, semua orang punya cita-cita yang sayangnya cita-cita itu tidak mungkin sama. Jadi betapa jelas jika jalan yang kita tempuh berbeda, tidakkah itu membuat Ibu mengerti? Ya, jika Ibu benar-benar ingin mengetahuinya. Aku sungguh punya banyak mimpi, diantara mimpi-mimpi itu aku memasukkan mimpi-mimpi Ibu juga. Suatu hari aku akan merasa sangat berarti jika mewujudkannya untuk Ibu, melihat Ibu tersenyum, karena nanti Ibu tidak lagi perlu bermimpi.
            Namun penjelasan yang aku buat sebegitu meyakinkan hanya Ibu balas dengan kalimat, "Kerja aja dulu, baru mimpi yang banyak"
            Aku terdiam, lama. Memperhatikan raut wajah Ibu yang begitu berbeda.
            "Perempuan juga ujung-ujungnya di dapur, kok" pungkas Ibu, lalu Ia meninggalkanku sendirian di beranda rumah.
            Hujan masih turun dengan deras, kini tidak lagi begitu indah.
            Andai saja situasinya tidak begitu buruk, bolehkah aku bertanya soal mimpi-mimpi Ibuku dulu? Kalut, aku berpikir. Lalu aku harus apa? Tidak lebih merasa seperti anak kecil yang baru saja memasuki sekolah dasar dengan tas merah jambu dan rambut kuncir dua, tersenyum polos, dan mimpi-mimpi adalah kenangan yang tidak berarti. Kosong. Hampa. Seperti mimpi bertemu Kamen Rider, atau mimpi menjadi salah satu dari anggota Power Rangers. Apakah mimpiku terlihat seperti itu untuk Ibuku?
            Tidak tahu.
            Ya, kali ini, sungguh. Aku tidak menyukai cerita Ibuku. Ingin aku menghapusnya, membumihanguskan seluruh perkataan Ibu sore ini dari pikiranku. Tidak perduli dengan perempuan yang bekerja di kantor pajak itu, bodo amat dengan teman lamaku yang selamanya ingin jadi karyawan, aku tahu kemana aku harus melangkah, aku tidak merasa perlu menjadi karwayan dulu untuk menggapai semua mimpiku. Ah, apakah aku terlalu angkuh?
            Karena aku juga perempuan biasa. Tidak mungkin selamanya aku penuh dengan mimpi. Aku tidak begitu, karena mimpiku adalah mimpi Ibuku juga. Dan apa yang akan aku perjuangkan menjadi nyata bukan hanya semata-mata khayalku belaka, aku tahu aku melakukannya untuk siapa, aku tahu. Jadi, aku ingin Ibuku tahu bahwa dari sekian banyak mimpiku yang terdengar ngawur untuknya, aku juga punya mimpi untuk menjadi perempuan yang kembali berada di dapur. Menjadi seorang Ibu seperti Ibuku, punya kehidupan seperti Ibuku, dan membahagiakan Ibuku dimasa tuanya.
            Ibuku—kutebak Ia bahkan sudah terlalu muak—untuk tetap mendengarkan anaknya yang terus-terusan bermimpi. Tidak seperti dirinya yang selalu punya cerita nyata untuk dibagi. Tapi andaikan ia mendengarkanku barang sebentar saja, aku juga ingin menjadi perempuan yang pada akhirnya kembali ke dapur dengan catatan; dapurku akan lebih bersih, rapi, satu set kitchen ada di sana, dan baik aku maupun Ibu tidak perlu repot mencari ini itu kalau-kalau suatu hari nanti Ibu ada rencana untuk membuat kue bersamaku, iya, kan?
            Aku menoleh ke dalam ruang tamu, Ibuku tidak ada di sana. Tuhan, salahkah bila sore ini saja aku tidak menyukai ceritanya? Salahkah jika aku tidak menyukainya karena aku punya cerita yang lebih menjanjikan meskipun cerita itu belum nyata adanya? Ibu, aku hanya ingin Ibuku tahu bahwa semua mimpiku adalah mimpi-mimpinya dulu. Suatu hari aku akan merasa sangat berarti jika mewujudkannya untuk Ibu, melihat Ibu tersenyum, karena nanti Ibu tidak lagi perlu bermimpi.


... karena nanti Ibu tidak lagi perlu bermimpi.



*Jakarta, 12 Februari 2016, 22.36
Hujan malam ini deras sekali....


Rabu, 12 April 2017

[ Re-post Cerpen ] Ketika Nitrogen Tenggelam dalam Asam Sulfat

Ka Ha
(Source photo: google.com/images/tenggelam+tumblr)




Notes ada di depan sebelum melanjutkan membaca cerpen ini. Jadi, saya abis iseng ganti-ganti template yang pada akhirnya berujung unfaedah, karena saya enggak' menemukan template baru yang sesuai keinginan. Saya bongkar-bongkar isi blog ini, dan menemukan post lama yang berasal dari tahun 2012. Itu artinya, umur saya kala itu adalah 14 tahun, dan semestinya tengah duduk di bangku kelas 2 SMP. Saya ngakak menemukan cerpen ini, selain karena tampilannya yang berantakan, saat itu juga saya bukan anak IPA yang dengan entengnya dapat memberi judul cerpen ini 'Nitrogen yang Tenggelam Dalam Asam Sulfat' tanpa tahu reaksi yang sebenarnya akan terjadi, hahaha.. Dan, menurut pengamatan saya, sejauh saya menulis cerpen yang rada absurd ini, cerpen ini cukup banyak mendulang apresiasi, baik itu dari orang-orang bernama maupun mereka yang anonim. Jadi disinilah, cerpen ini saya post ulang, saya sama sekali tidak mengubah bahasa dan alur cerita, hanya merapihkan sedikit tatanannya agar mudah dibaca. Ketika membaca ulang cerpen ini, saya benar-benar merasa sebagai Rolyta umur empatbelas tahun dengan segala ke-'begajulannya'. Saya ngakak lagi, hahaha.. Udah ah, capek ngetik. Untuk kalian, selamat membaca, dan ya, kritik dan sarannya untuk Rolyta lima tahun lalu ya... ^_^

***



Ketika Nitrogen Tenggelam dalam Asam Sulfat

               "Mungkin hatinya sudah habis terendam nitrogen. Sehingga ia tidak pernah terlihat mencintai seseorang"
                "Dia hanya bicara pada orang tertentu lho. Itupun seperlunya saja"
                "Santero SMA menjulukinya Nitro-gen. Atau manusia yang tercipta dari gen-gen Nitro, haha"
                "Hsst.. Tapi aku pernah bertatap dengan matanya, dan dia tersenyum"
                "Heh, kau ngibul ya, Nirina?"
                "Nama aslinya, Natra Geandra"

*
                Sesosok lelaki berjalan diantara ramainya kerumunan siswa yang berseragam putih abu-abu. Mata mereka terus tertuju pada sosok lelaki berkacamata hitam, berkulit putih, berhidung bangir, dan bermata tajam. Sosok yang hampir sempurnya untuk memikat perempuan di sekitarnya. Namun tidak, sikapnya yang benar-benar misterius seolah menjadi penghancur kesempurnaanya. Ia benar-benar acuh pada setiap bisikan nakal yang lalu lalang mecercanya.
                "Hey kau! Yang berkaca mata, namamu ganti sajalah. Dari Natra, menjadi Nitro-gen"
                "Hahaha.. Sok misterius. Apa kau benar-benar pernah berendam dalam cairan nitrogen, Ha?"
               Namun lelaki itu hanya terus berjalan acuh, hingga ia berhenti karna sesosok wanita disampingnya membisikan sesuatu, berhiaskan senyum manisnya; "Kau hanya perlu Asam Sulfat, Natra"

*
  

[ Natra POV ]

               Decitan suara keyboard, kopi hitam dengan asapnya yang masih mengepul, serta alunan musik tenang yang sengaja kuputar. Menemani sunyinya malam yang sudah biasa kutekuni. Sudah pukul satu pagi, namun mataku tak kunjung sayup. Seperti tak ada gairah untuk terlelap.
Aku masih setia berhadapan dengan layar terang komputer ku, sembari perlahan menyeruput kopi hangat itu. Terasa damai, kecuali nanti pagi aku akan tertidur dikelas, akibat begadang semalaman begini.
                Angin malam membelai mesra tengkukku, terasa dingin. Itu sudah biasa bagiku. Mataku terus menelusuri apa yang disediakan jejaring sosial pagi-pagi buta begini, tak ada yang menarik. Semua sepi, facebook, twitter. Hanya beberapa saja yang terlihat. Dan kurasa ia sudah terlelap disana. Akhir-akhir ini aku sering sekali membuka profilnya, lantasan di kehidupan sehari-hari aku sudah jarang sekali bertemu denganya. Sulit. Gerakan tanganku lantas membawa pada history chat facebook dua tahun yang lalu.
        "Hai, Nirina"
               "Hai juga, siapa namamu?"
               "Aku.. Kau bisa memanggilku, Nitro"
               "Why? Sudahlah.. Dimana kau bersekolah?"
               "Di tempatmu Nir. Sama"
               "Ohehe, kelas berapa?"
                Hanya sampai di sana, lalu aku memutuskan obrolan. Aku tak berani terus berbicara dengannya.

*
               "Berdiri kamu di lapangan!" Gertak seorang laki-laki bertubuh tegap yang refleks membuat ragaku menjauh meninggalkan ruangan yang sedang menangkap ilmu tersebut. Kini aku sudah berdiri tegap ditengah lapangan, persis menantang gedung ini. Mataku terus bersipit-sipitan seiring sinar mentari pagi yang menyilaukan pandanganku. Pukul sembilan pagi, biasanya langit benar-benar biru, dan awan masih enggan muncul sekedar melukis abstrak di kanvas mewah tersebut. Mataku menyapu seluruh panorama lapangan, dan satu pohon rindang tersebut membuat fokus perhatianku terhenti. Biasanya dulu, di bawah pohon rindang tersebut, selalu ada perempuan yang bernama Nirina, yang duduk sambil menatap langit, tersenyum dengan anggunya. Mata bulatnya, bibir cherinya, rambutnya yang panjang tergerai dan kelincahanya. Namun tidak dengan saat ini, semuanya sirna.
                Biasanya dulu, saat istirahat banyak sekali anak-anak perempuan bermain di sisi pohon itu, tidak terkecuali Nirina. Lalu aku akan diam berdiri di lantai dua, sambil tetap menikmati seorang Nirina dari kejauhan. Namun sekarang Nirina sudah tak nampak disana, senyuman dan segala tingkah lakunya sirna seketika, dan semua itu tidak mengurangi rasa cinta yang lama terpendam.
        Tring..!
                Bel istirahat kemudian berbunyi. Segera saja aku beranjak dari neraka ini, dengan mata-mata mereka yang menatapku sinis. Aku tak perduli, mereka bilang aku Nitrogen, seorang yang berhati beku. Terserah. Mereka tidak tahu, sudah sejak lama aku larut bersama asam sulfat. Habis ragaku, sehingga beku jadilah cair dan akan terus terdiam. Aku melebur pada asam sulfat yang indah itu, asam sulfat yang membuatku larut selarut-larutnya. Asam sulfat yang sudah jarang kutemui, Nirina. Mata-mata itu terus melontarkan derit tanya setiap harinya. Tentang siapa aku? Bagaimana sebenarnya aku? Nitrogen. Benarkah?
                Seandainya aku boleh menjawab semua cercaan yang setiap harinya terus bergeming, entah langsung ataupun tidak. Aku hanya sesosok mahluk biasa, dengan kodrat sebagai lelaki yang Tuhan hadiahkan. Kehidupan dengan materi yang sempurna melingkupiku, apapun yang aku inginkan kecuali kasih sayang. Dan itulah yang membuatku tenggelam bersama nitrogen, hingga saat aku benar-benar larut dalam asam sulfat. Inikah kasih sayang? Yang selama tujuh belas tahun jarang kutemui diantara kedua orang yang sering disebut mamah dan papa? Dan akhirnya aku tetap diam, dengan kasih sayang yang kupeluk sendirian.

*

               "Natra, untuk penyakit ini belum ada satupun obatnya. Maaf" Ucap seorang lelaki paruh baya itu. Aku hanya menyunggingkan selukis senyum kecil yang jarang sekali kutaburkan di air wajahku. Aku berjalan santai menikmati angin sore di lorong rumah sakit ini. Sambil membawa hasil rongsen yang tadi dokter itu berikan padaku.
                Angin sore membelai mesra kulit tubuhku, aku masih menyusuri lorong-lorong rumah sakit sampai akhirnya aku berhenti di sebuah ruangan.Tanganku berhasil mendarat di knop pintunya, segera kuputar dan terbukalah. Mataku menatap nanar pada sosok yang terbaring disana. Tubuhnya semakin melemah, kurus. Rambutnya habis tak seperti dulu, matanya yang indah kini sayu, bahkan tak bisa melihat lagi. Seolah menyadari kehadiranku, mata butanya terbelalak sambil berkata; "Siapa disana?"
                Aku mulai memasuki ruangan itu, lalu duduk disamping ranjangnya. Pertamakalinya aku sedekat ini, sebelumnya mana pernah. Sebelumnya aku hanya nitrogen yang mengagguminya dari kejauhan, sampai akhirnya tanpa sengaja aku benar-benar tenggelam dalam larutas asam sulfatnya yang mematikan.
         "Kau masih bisa mendengarkan, Nirina?"
                "Ya, lalu ini siapa?"
                "Nitrogen"
                "Natra, aku senang kau menjenguku"
               "Aku juga senang, aku benar-benar didekat larutan asam sulfatku sekarang"
                "Nitrogen. Sudah kuduga, kau tidak seburuk yang mereka fikir"
                Seulas senyum terkembang dari wajahnya yang kurus. Aku masih bisa melihatnya. Andai semua yang kau derita bisa kubekukan dengan nitrogen, lalu kau yang lenyapkan dengan asam sulfat.
                Sementara hidup kita sama-sama berada di ambang fajar. Engkau, dengan kanker getah beningmu yang sekarang sudah membuat matamu buta. Dan aku, dengan alzheimer yang lambat laun akan menghabiskan memori otaku, lalu mati. Pada akhirnya, kau akan mengenalku sebagai Nitrogen. Nitrogen yang begitu mengaggumi asam sulfat. Dan aku, akhirnya akan lupa bagaimana rasanya menjadi seorang nitrogen, bagaimana rasanya tenggelam dalam larutan asam sulfat. Bagaimana rasanya mendekap sendirian rasa kasih sayang. Bagaimana rasanya disudutkan. Aku akan lupa, lalu mati.
                Maaf Nirina, selama ini aku hanya menggagumimu dalam kebekuan, aku ingin merubah takdir. Aku tidak mau aku lupa segalanya, tentang bagaimana pahit manisnya hidup. Maksudku, aku ingin kita mati bersama. Menjalani kehidupan baru di dimensi lain. Bukan sebagai Asam sulfat ataupun Nitrogen. Melainkan menjadi Natra dan Nirina, seutuhnya.

*
— Epilog —
              
                Beberapa ilmuwan terlihat sedang sibuk diruang lab-nya. Mereka disibukan dengan segelas larutan asam sulfat yang harus di identifikasi. Hasil lab menunjukan bahwa ada dua DNA yang berbeda dalam larutan tersebut. Sementara beberapa oknum kepolisian masih terus mencari keberadaan seorang gadis yang hilang dari ruangan rawatnya. Ditempat lain, garis polisi melintang membatasi sebuah rumah mewah, diduga ada praktik pembunuhan disana yang dilakukan oleh pemuda yang juga ikut mati dalam peristiwa ini, namun semuanya hilang tanpa jejak.

                Dan disebuah kamar, dengan segelas kopi yang sudah berubah menjadi muara semut-semut merah. Komputer yang masih dalam keadaan menyala, dengan laman facebook yang sedang membuka profil seorang gadis dengan nama 'Nirina Dyra'. Obat-obatan yang berserakan, serta tumpahan cairan yang mematikan, yang membasahi seluruh permukaan kamar, membuat oknum-oknum polisi itu sulit untuk mengidentifikasi dan melakukan olah TKP.
        "Masih belum bisa masuk pak, lapor. Cairan asam sulfat masih terlalu berbahaya, namun ilmuwan kami berhasil mengambil sampelnya. Dan diketahui ada dua DNA didalamnya. Laporan selesai"

.....

Ketika Nitrogen Tenggelam dalam Asam Sulfat.
Rolyta, 151212 12:05

Coprights @ 2016, Blogger Template Designed By Templateism | Templatelib